Ekbis

5 Tanggal Istimewa di Bulan Desember 2020

 



Oleh : Aom Roedy Wiranatakusumah



Desember ialah bulan pamungkas di setiap akhir tahun sebagai perjalanan waktu yang dilakukan dan diperingati oleh semua insan di Ibu Pertiwi. Tahun 2020 merupakan tahun spesial terutama di bulan Desember yang memiliki 5 (lima) peristiwa sejarah perjuangan yaitu mengusung lahirnya Hari Pencak Silat Nasional tanggal 12 ,serta memperingati Hari Nusantara tanggal 13, Hari Bela Negara tanggal 19, Hari Ibu tanggal 22 dan Hari Natal tanggal 25. Berbagai peringatan penting tersebut merupakan rangkain hari yang memiliki makna kekuatan bangsa sebagai tonggak nilai kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 




Penetapan UNESCO (United Nations Education Science Culture and Organization) atas Tradisi Pencak Silat sebagai warisan budaya tak benda dunia milik Indonesia pada tanggal 12 Desember 2019 di Kota Bogota, Colombia adalah bukti pengakuan nilai adiluhung untuk bangsa Indonesia dan kebanggaan dunia, sehingga sudah sepatutnya untuk di deklarasikan sebagai Hari Pencak Nasional. 




Pengakuan UNESCO merupakan torehan sejarah sebagai pemicu dalam melestarikan the Tradition of Pencak Silat adalah semangat makna heroism yang tertanam sejak ratusan tahun silam sebagai landasan bela negara, motifasi kemajuan dan kemandirian, oleh karen itu dukungan Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat untuk membangun kampung pencak silat seluas 10 ha merupakan center of knowledge untuk merealisasikan sarana program muatan lokal di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. 




Berikutnya adalah Hari Nusantara yang diperingati setiap tahun didasari Deklarasi Djuanda yang dilaksanakan pada 13 Desember 1957 menjadi momen penting bagi kejayaan dan kedaulatan laut Indonesia. Oleh karena itu,  pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, melalui Keppres No 126/2001 ditetapkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara yang diperingati setiap tahun.




Djuanda Kartawijaya, adalah pituin Sunda yang pernah jadi perdana menteri dan bukan pegawai karir dari Kementerian Luar Negeri. Namun, namanya cukup signifikan dalam hukum laut internasional. Publik mengenal Deklarasi Djuanda mengenai garis batas laut terluar, yang semula 3 mil menjadi 12 dari garis pantai dan perjuangan ini dilakukan tanpa harus mengangkat senjata melainkan melalui kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan meyakinkan dunia internasional untuk mengakui batas laut terluar Indonesia. 



Generasi sekarang perlu mengetahui bahwa sebelum adanya Deklarasi Djuanda, wilayah laut Indonesia masih mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Territoriale Zee├źn en Maritieme Kringen Ordonantie (TZMKO). Dalam peraturan tersebut, ditetapkan wilayah laut Indonesia sejauh 3 (tiga) mil dari garis pantai yang mengelilingi pulau. Dengan adanya aturan ini, maka kapal-kapal milik asing bebas sesuka hati berlayar di Laut Jawa, Laut Banda, dan  Laut Makassar yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia (RI).



Djuanda lahir di Tasikmalaya, 14 Januari 1911 adalah kebanggaan Putra Sunda ini memiliki darah menak. Ia putra pertama dari pasangan Raden Kartawidjaja, bekerja sebagai seorang guru di Holladsch Inlansdsch School (HIS), dan Nyi Mona. Ia memiliki dua saudara: Koswara dan Djuandi.



Indonesia sangat beruntung, karena perjuangan diplomasi ini tetap diteruskan oleh Dr Hasyim Djalal dan Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja. Hingga akhirnya,  Deklarasi Djuanda diakui dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB atau United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982.




Penting untuk diketahui bahwa dengan diresmikannya Deklarasi Djuanda dalam UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia, wilayah RI menjadi 2,5 kali lipat menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang saat itu belum diakui secara Internasional. Hal ini didasarkan perhitungan 196 garis batas lurus atau straight baselines dari titik pulau terluar, terciptalah garis batas maya yang mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut.




Sejak Pemerintah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006. Penetapan 19 Desember sebagai Hari Bela Negara dipilih untuk mengenang peristiwa sejarah ketika tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melancarkan Agresi Militer ke II.




Pentinganya peringatan ini berdasarkan deklarasi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dibentuk pada 19 Desember 1948 oleh Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat, pria berdarah Sunda ini adalah penulis buku Ekonomi dan Keuangan : makna ekonomi Islam, Islam sebagai pedoman hidup. Deklarasi tesebut dilakukan karena saat itu ibukota negara, Yogyakarta diduduki oleh Belanda dan para pemimpin seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir diasingkan ke luar Jawa.




Perkembangan Indonesia dan kehidupan kebangsaan saat ini mengalami berbagai tantangan, diantaranya gejolak terhadap soliditas bangsa yang merapuhkan persatuan dan kesatuan. Salah satu upaya penanganannya, dengan menumbuhkan kesadaran warga negara akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Oleh karena itu, pelaksanaan program jangka panjang Kementerian Pertahanan tentang Bela Negara sangatlah crucial dan tepat karena bela negara merupakan komitmen yang tulus dari setiap warga negara yang hidup di dalam negeri dan masyarakat Indonesia yang hidup diluar sebagai diaspora untuk membangun bangsa dan negara Indonesia dalam bingkai NKRI. Negara Indonesia sering dibingkai dalam kata Ibu Pertiwi, sehingga Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.




Peringatan Hari Ibu tak terlepas dari kucuran keringat perjalanan panjang emansipasi wanita yang terbentuk pada 22 Desember 1928 adalah kongres perempuan pertama kali diadakan. Pada masa itu, sebanyak 600 orang perempuan dari komponen 30 organisasi berkumpul bersama di kota Jogjakarta dalam sebuah kongres. Beragam pemikiran diungkapkan dalam kongres tersebut sebagai kekuatan hakiki. Adapun isu yang dibahas dan sangat penting antara lain mutu pendidikan perempuan di usia belia, perkawinan anak-anak, menghilangkan kawin paksa, permaduan dan perceraian secara sewenang-wenang. Selain itu, kongres juga membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja. 




Gerakan yang muncul pada perkumpulan oraganisasi wanita ini semakin kuat dan tak terbendung, hingga pada akhirnya mereka mendirikan organisasi yang lebih besar, yaitu Perikatan Perkoempolan Isteri Indonesia (PPII). Penetapan hari ibu ini disepakati pada kongres ke 3, yaitu pada tahun 1938. 




Hal ini juga diperkuat dengan keputusan Presiden Soekarno 316 tahun 1959, melalui kepres yang mendukung hasil Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung yang berlangsung dari tangal 22 hingga 27 Juli 1938. 




Kemajuan suatu negara melekat dengan posisi perempuan sebagai Ibu yang melahirkan keturunanya dari rahim yang dididik dan didoakan untuk menjadi penyangga keluarga hinga tumbuh menjadi calon pemimpin bangsa dalam melajutkan perjuangan lahirnya Hari Ibu dengan kepribadian yang jujur dan memegang amanah. 




Misi kesetaraan gender dan peran perempuan akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang secara pesat untuk mengurangi kemiskinan secara efektif. Dengan didengungkan  kesetaraan gender adalah marwah utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat, perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kesesangraan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup mereka, melalui pembangunan ekonomi membuka banyak kesempatan untuk meningkatkan gender equality dalam jangka panjang. Agar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki makna yang penting untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua mau-pun muda.




Perayaan Natal bagi umat Nasrani di Indonesia pada tanggal 25 Desember ialah sebagai penutup akhir tahun sebagai refleksi tentang makna kebersamaan dengan menundukan diri agar persatuan dan kerukunan umat selalu terjaga dinegara tercinta. Kekuatan Indonesia terdiri dari keragaman suku, budaya dan agama hidup bersanding sejak jaman nenek moyang kita hidup di Nusantara.  




Semangat keragaman adalah kekuatan kebersamaan, maka dengan ada 5 hari istimewa di Bulan Desember 2020 dapat diartikan seperti satu kepalan kuat yang terdiri dari seperti 5 (lima) jari  di peruntukan untuk Indonesia Raya.


Selamat Akhir Tahun 2020




oleh: 

Aom Roedy Wiranatakusumah 

Praktisi Hukum dan Pelestari Budaya.