Ekbis

Merubah Perilaku Masyarakat dan Wujudkan Program Bandung Barat Bersih, Dinkes KBB Gencar Targetkan Deklarasi ODF di 165 Desa


Bandung Barat - Guna mewujudkan salah satu program Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna, yakni Bandung Barat Bersih dan Indah, Pemerintah Daerah (Pemda) setempat melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) gencar melakukan deklarasi Open Defecation Free (ODF) ke sejumlah Desa di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Selain untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, juga untuk merubah perilaku masyarakat agar tidak melakukan kebiasaan buruk buang air besar sembarangan (BABS).

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan KBB, Mawaddah, mengatakan deklarasi ODF yang dilakukan adalah untuk memperbaiki lingkungan dengan merubah perilaku masyarakat melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). "kalau buang air besar sembarangan itu kan penyakit apalagi sekarang adanya covid, penyakit masalah lingkungan itu kan adanya semua di kotoran manusia, otomatis virus, bakteri dan kuman ada disitu," katanya, usai kegiatan deklarasi ODF di Aula Kantor Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (21/7/20).

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan adalah salah satu upaya untuk mencapai target 165 Desa yang ada di Bandung Barat bebas dari kebiasaan buruk BABS, sehingga menjadi Kabupaten pertama di Jawa Barat yang sudah 100 persen ODF.

"untuk mencapai target kabupaten/kota sehat wistara, target utamanya kan kalau yang gitu harus 100 persen odf nya, nah kebetulan disamping untuk wistara 3 juga di jawa barat itu belum ada yang odf 100 persen kabupaten/kotanya," ungkapnya.

Deklarasi ODF yang mengusung tema Wujudkan Lingkungan yang Bersih dan Sehat itu, diikuti oleh para ketua Rw Desa setempat yang ditandai dengan pembacaan Deklarasi, Penandatanganan nota kesepahaman dan penyerahan piagam penghargaan. Para Rw tersebut, nantinya akan menyampaikan terkait alur BAB yang baik dan benar dengan membangun tempat penampungan (septictank) pada masyarakat setempat.

"dengan pendekatan kepada masyarakat bahwa kalau buang air besar itu bisa menyebabkan sakit, bisa menyebabkan dosa kalau menurut agama misalnya membuang air besar disungai, ternyata sungainya itu dibuat minum, mandi atau wudhu, masyarakat yang dibawahnya itu kan tidak tahu kalau diatasnya itu ada yang buang air besar, akhirnya wudhunya tidak sah" tuturnya.

Tidak hanya itu, dampak baru pun akan muncul jika buang kotoran ke selokan ditengah musim kemarau sehingga akan terjadi penumpukan di selokan dan mengundang binatang yang dapat menyebarkan virus.

"terkadang mereka tidak mengerti bahayanya kotoran, jadi mereka berbuat seperti itu. misalnya rumahnya sudah bagus, mereka itu dari rumah pakai wc nya malahan wc duduk yang bagus-bagus, tapi dialirkannya ke selokan pakai paralon langsung, dari rumahnya kan sudah bersih, tapi buangnya ke selokan, nah kalau di musim hujan okelah kebawa air, tapi kalau musim kemarau kebayang kan menumpuk disitu. ada lalat, kecoa," tambahnya.

Sementara itu Kepala Desa Bojongkoneng, Tedi Hertiadi, pihaknya menyambut baik program tersebut. "iya intinya kami pemerintahan desa bojongkoneng selain silaturahmi dengan warga, kami juga tentu akan melaksanakan program pa bupati bandung barat untuk mendukung visi-misi nya menuju bandung barat yang bersih, indah, caang dan juga masyarakatnya sejahtera kedepannya," paparnya.

Menurut Tedi, memang sampai saat ini ada sebagian warganya yang masih membuang kotoran langsung ke sungai. Meski demikian, pihaknya sudah mengajukan untuk pembuatan tempat penampungan (septictank)

"dengan adanya deklarasi yang dilakukan mudah-mudahan kesadaran masyarakat dapat mengelola buang air besar dari rumah dengan membangun tempat penampungan khusus atau septictank, baik nantinya dari anggaran desa maupun dari csr atau dinas terkait untuk merealisasikan kegiatan pembangunan penampungan buang air besar," pungkasnya.(DSt)