» » » » » Jabar Jadi Provinsi Halal Pertama

SJO, BANDUNG-Perspektif pembangunan global, khususnya pembangunan sektor pariwisata, telah berkembang sangat pesat. Salah satu produk hasil perkembangan tersebut adalah konsep industri pariwisata halal. Konsep wisata halal ini tentunya merujuk pada aturan - aturan Islami, dalam artian sarana dan prasarana pariwisata mengedepankan nilai-nilai syar’i.

Sebagai contoh konsep Pariwisata Halal misalnya, pada bidang perhotelan ditandai dengan adanya hotel yang menyediakan makanan halal (Halal Food), dan minuman non – alcohol, kolam renang serta fasilitas spa yang terpisah untuk pria dan wanita. Serta, tersedianya sarana, atau ruang yang nyaman untuk melaksanakan ibadah shalat.

Terkait itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, menyambut baik ‘trend’ tersebut, karena hal itu sejalan pula dengan upaya Jawa Barat yang telah mendeklarasikan dirinya untuk menjadi Provinsi Halal Pertama di Indonesia.

"Salah satunya yang kami lakukan bersama MUI Jawa Barat yaitu fasilitasi sertifikasi halal bagi produk pangan, famasi dan kosemetik yang jumlahnya sejak tahun 2010 s.d 2016 sudah mencapai 11.572 Sertifikat, belum termasuk yang telah di fasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten dan Kota," Kata Wagub Deddy, pada Seminar Internsional Pariwisata Halal dengan tema 'Anatomi Pariwisata Halal Global', di Aula Barat ITB, Jl. Ganeca No.12, Lb. Siliwangi, Coblong, Kota Bandung, Kamis (01/09/2016).

Selain itu, Wagub menuturkan untuk destinasi wisata Islami di Jabar, Pemerintah Provinsi tengah mempersiapkan pembangunan replika Museum Assalamualaika Ayyuhan Nabi, beserta Masjid Terapung di Gedebage, Bandung.

Oleh karena itu dirinya berharap, apa yang tengah dilakukan oleh Pemerintah daerah, dapat didukung  penuh oleh seluruh stakeholder pembangunan parwisata, terutama pemerintah di seluruh tingkatan, serta seluruh pelaku usaha pariwisata sebagai motor penggerak, lembaga pendidikan, serta peran masyarakat umum lainnya.

“Dengan terbangunnya sinergitas semua stakeholder terkait, tentunya konsep wisata halal ini diharapakan dapat semakin berkembang di seluruh Indonesia, sehingga jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat sekaligus menjadi bagian dari pengungkit tingkat kesejahteraan masyarakat, sebagai parameter keberhasilan industri kepariwisataan,” Tutur Wagub Deddy.

Pun pada perkembanyanya saat ini, konsep wisata halal tidak hanya berkembang di negara - negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi juga dikembangkan oleh negara berpenduduk mayoritas non - muslim.

Bahkan jika merujuk pada data MasterCard -CrescentRating - Global Muslim Travel Index (GMTI), menyebutkan bahwa tidak kurang dari 100 destinasi wisata di berbagai negara di dunia, telah mengusung konsep wisata halal.

Masih versi GMTI, Malaysia merupakan negara dengan destinasi wisata halal terbaik dunia tahun 2015, sementara Indonesia berada di peringkat ke-6 untuk kategori negara yang tergabung dalam OIC (Organisation of Islamic Cooperation) atau Organisasi Kerjasama Islam. Sementara untuk negara yang tidak tergabung dalam OIC, peringkat pertama dengan destinasi wisata halal, adalah negara Singapura.

"Indonesia sebagai negara mayoritas muslim, serta memiliki potensi pariwisata yang sangat kaya dan beragam, tentunya memiliki peluang yang sangat luas bagi pengembangan konsep wisata halal ini. Untuk itu, Saya atas nama Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata RI, yang telah berupaya untuk mengembangkan konsep wisata halal di Indonesia, yang dimulai dengan membentuk  Enhai Halal Tourism Centre (EHTC), sebagai wadah penelitian dan pengembangan serta community services destinasi wisata halal," Ucap Deddy.

“Menjadi harapan kita bersama, langkah ini akan mampu mengeksplorasi potensi pariwisata yang ada di setiap daerah, agar layak untuk dijual sebagai destinasi andalan baru di Indonesia. Dengan demikian, icon pariwisata kita kedepan, tidak hanya identik dengan satu atau dua provinsi semata, melainkan tersebar di tiga puluh empat provinsi di seluruh Indonesia, sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata dan berkualitas,” Tambahnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun mengatakan, Jawa Barat sangat berpotensi menjadi unggulan pariwisata halal di Indonesia. Arief menilai, Jabar memiliki kelakayaan berupa suguhan seni yang atraktif, kebudayaan yang cukup kental, serta potensi Sumber Daya Alam (faktor geografis) yang dinilai ‘menjual’ sebagai destinasi wisata.  Hal itu merupakan ‘modal mahal’ yang dimiliki Jabar.

"Jabar salah satu Provinsi yang mendeklarasikan wisata halal itu bagus, dan sangat potensial. Kelemahan Jawa Barat itu akses transportasi. Kita tunggu saja Bandara Kertajati," kata Menteri Arief.

Arief menambahkan, ada tiga segmen populer yang harus distandarisasi secara internasional pada bidang pariwisata ini, diantaranya; kuliner, fashion, dan kosmetik.

Arief menilai ketiga hal tersebut juga merupakan potensi yang Jawa Barat miliki. Menurutnya, banyak peluang untuk mendominasi pasar, dari tiga segmen tersebut. Karenanya, disamping standarisasi halal, diperlukan pula standarisasi global.

"Jadi, mana yang harus disertifikasi, sesuai dengan ‘market’ (pasar) yang tiga besar itu kuliner, cloth dan kosmetik," tambahnya.

Untuk itu, Kemenpar bekerjasama dengan Pusat Halal Salman ITB sebagai pusat pengkajian wisata halal di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. akan terus mengembangkan kepariwisataan halal, baik dari pengembangan potensi, sarana, pra – sarana, hingga ke sektor Sumber Daya Manusia (SDM). Karna tak dipungkiri, kualitas SDM pula lah, yang menjadi motor utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai destinasi halal dunia.(*)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: