» » » » » Inilah Si Kopi Jalu dari Cilengkrang

SJO, BANDUNGKAB-"Arabica Bukit Palasari", merk kopi Jalu buatan Wahid (Kelompok Tani Hutan Giri Senang) langsung mendapat apresiasi positif dari Bupati Bandung Dadang M Naser, terlihat pada penghargaan kelompok tani hutan berprestasi yang diberikan Bupati saat peringatan Hari Krida Pertanian ke 44 Tk. Kabupaten Bandung, selasa (09/8) di pelataran BKPPP.

Kali ini Wahid ingin memperkenalkan kopi jalu dari tanah Cilengkrang Kabupaten Bandung. Wahid sendiri merupakan warga Kota Bandung yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima, namun karena kecintaannya terhadap kopi, ia sering mencari informasi tentang kopi. Begitupun saat ia mulai mendefinisikan citarasa kopi sesungguhnya, " rasa kopi yang diminum itu sebenarnya sudah lengkap, pahit, manis, asam, asin. rasa yang dinikmati itu tergantung sugesti penikmatnya, " ungkap dia sambil menyeduhkan kopi jalu racikannya. Menurutnya pula, kopi itu bisa menyehatkan, bukan pemicu penyakit.

Berkaitan dengan itu, Bupati Bandung H. Dadang Mochamad  Naser, SH,S.Ip.,M.IP sangat mendukung para petani kopi. Harapan Dadang, kopi dari Kabupaten Bandung bisa bersaing di pasaran luar, bahkan ia berharap kopi kita punya "brand" khas Kabupaten Bandung.

Bersamaan dengan itu, beberapa petani kopi yang hadir saat itupun sangat termotivasi.  Karena menurut Wahid dilihat dari segi ekonomi, kopi menduduki posisi ke 2 setelah minyak bumi, tentu saja hal tersebut menambah gairah para petani kopi untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas kopinya.

Ketua Kelompok Tani Hutan Giri Senang inipun, menjelaskan  Jalu berarti laki-laki dalam bahasa Sunda. Disebut demikian karena bentuk biji kopi ini tunggal dan bulat, tidak terbelah seperti bentuk biji kopi biasanya. Kopi jalu bisa dihasilkan dari jenis kopi robusta maupun arabika.

Sebenarnya kopi jalu/lanang ini bukan varietas baru, kopi ini bisa dihasilkan oleh pohon kopi jenis robusta maupun arabika yang pada umumnya ditanam petani di Indonesia. Menurutnya, kopi jalu/ lanang terbentuk dikarenakan : (1) penyerbukan yang tidak sempurna, karenanya satu dari dua bibit didalam buah kopi menjadi puso, sehingga tersisa satu benih yang menempati ruangan pada buah kopi, biasanya terjadi pada penyerbukan bunga diujung cabang dimana putiknya sedikit rusak oleh terpaan angin atau gangguan serangga; (2) ketidak seimbangan pengiriman zat makanan pada saat pembuahan karena pohon mengalami stres, sehingga membuat pertumbuhan biji kurang sempurna; dan (3) kelainan genetika.

Oleh karena itu, tidak ada pohon kopi yang 100% memproduksi kopi jalu/lanang, biasanya produksi kopi berkisar 2–5% dari total produksi buah kopi keseluruhan. Di Kec. Cilengkrang sendiri kopi bisa dihasilkan ratusan ton per tahun, namun pemasarannya masih dikuasai oleh para pemilik modal.(rls)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: