» » Wantannas Gandeng Universitas Mataram Gelar Semilokanas Bertemakan "Mengembangkan Ketahanan Pangan Nasional Menuju Kemandirian Pangan Yang Berdaulat Berbasis Pada Kearifan Lokal"


SJO JAKARTA - Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) menggelar Seminar dan  Lokakarya Nasional (Semilokanas) bersama Universitas Mataram, Rabu (27/7). Setjen Wantannas sebagai fasilitas staf bagi Presiden selaku ketua Wantannas berdasarkan Keppres 101 Tahun 1999. Memiliki tugas pokok, merumuskan rancangan kebijakan dan Strategi Nasional dalam rangka pembinaan ketahanan sosial untuk menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan Nasional

Dalam sambutannya, Letnan Jenderal TNI M Munir selaku Sekjen Wantannas mengatakan, "Produk berbagai kegiatan Setjen Wantannas adalah perumusan rancangan kebijakan nasional melalui telaahan strategik dan kajian komprehensif pada seluruh aspek kehidupan nasional (Politik, Hukum, Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya). Masalah yang dibahas bersifat strategis, krusial dan mendesak, yang berpengaruh terhadap stabilitas nasional" Kata Letjen M Munir kepada ratusan peserta Semilokanas di Universitas Mataram.

Seperti dikemukakan Letjen Munir, dalam antisipasi dan solusi perumusan, Wantannas melibatkan lintas sektor dan pengerahan sumber daya di luar rutin.

"Guna memenuhi kaidah komprehensif integral/lintas sektoral perumusan rancangan kebijakan ditempuh melalui pengumpulan bahan dari tiga jalur sumber yaitu jalur aspiratif/publik dan/atau lsm ; jalur akademik/perguruan tinggi/para ilmuwan dan jalur empirik/para birokrat/kementrian/lembaga"

Semilokanas yang digelar kali ini Wantannas melibatkan jalur akademik, yaitu Universitas Mataram di Nusa Tenggara Barat.

"Pada tanggal 2 Maret 2016 lalu telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara Setjen Wantannas dengan Universitas Mataram di Kampus Universitas Mataram dengan mengambil judul penelitian tentang "mengembangkan ketahanan pangan nasional menuju kemandirian pangan yang berdaulat berbasis pada kearifan lokal" yang pada saat ini dari hasil penelitian tersebut kita laksanakan Seminar Lokakarya guna mendapat tanggapan dan masukan dari para penanggap maupun para peserta yang telah hadir dalam acara ini" tulisnya.

Sambungnya "Produk perumusan rancangan kebijakan setelah mendapatkan pengujian yang teliti, kemudian diajukan kepada Presiden sebagai bahan masukan yang selanjutnya dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai kebijakan pembinaan ketahanan Nasional. Berbicara masalah kedaulatan pangan, sesuai UU No 18 Tahun 2012 tentang pangan mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutu, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangjau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan".

Menurutnya, Indonesia saat ini belum sepenuhnya mencapai swasembada pangan, tidak seluruh wilayah dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangannya yang beraneka ragam, sehingga pada saat tertentu memerlukan impor.

"Jika kemampuan produksi bahan pangan domestik tidak dapat mengikuti peningkatan kebutuhan, maka pada waktu yang akan datang Indonesia akan tergantung impor, yang berarti ketahanan pangan nasional akan semakin rentan karena akan semakin tergantung pada kebijakan ekonomi negara lain. Saat ini konsumsi pangan penduduk Indonesia masih rendah, kurang beragam, masih didominasi pangan sumber karbohidrat terutama dari padi-padian. Konsumsi pangan poko masyarakat Indonesia sangat terfantung pada beras dengan tingkat partisipasi rata-rata hampir mencapai 100% kecuali untuk Maluku dan Papua (yang dikenal sebagai wilayah Ekologi sagu), berkisar 80%. Oleh karena itu, sudah saatnya memperluas disversifikasi produk pangan nusantara berbasis non beras untuk mengawal penguatan kedaulatan pangan guna memutus mata rantai impor sekaligus mengatrol kesejahteraan petani lokal"

Beberapa daerah menjadi percontohan dan berhasil, seperti wilayah di Kabupaten Lombok Utara terbukti dapat dijadikan model pengembangan pangan lokal non neras berbasis singkong. Singkong dapat dijadikan salah satu unggulan dalam pola ketahanan pangan dan adaptasi iklim. "Upaya pengembangan ketahan pangan non beras termasuk singkong membutuhkan kepedulian yang serius dan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah"

"Saya memberikan apresiasi kepada Universitas Mataram yang menjadi kebanggan masyarakat Mataram, Nusa Tenggara Barat, Universitas Mataram yang berdori sejak Tanggal 1 0ktober 1962, sudah meluluskan anak-anak bangsa yang handal dalam berbagai disiplin ilmu termasuk pengelolaan peningkatam kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Semoga Semilokanas ini memperoleh hasil yang berguna untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini" Harap Letjen TNI M Munir.(MAd/Don)


«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: