» » » Sejarah Lahir dan Perkembangan Kesenian Ronggeng Gunung


Foto : Adegan Tarian Ronggeng Gunung, Kesenian Rongeng Gunung Saat Ini di Klem Oleh Dua Daerah, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran.

SJO PANGANDARAN – Meski dalam kondisi sengketa hak paten kepemilikan, kesenian tari ronggeng gunung yang saat ini di klem oleh Kabupaten Ciamis dan Pangandaran, salah satu budayawan Pangandaran mengakui ronggeng gunung memiliki sejarah dan perkembangan di Kabupaten Pangandaran.

Salah satu pelaku budaya di Kabupaten Pangandaran Aceng Hasyim mengatakan, hak paten ronggeng gunung di daftarkan ke Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat saat Kabupaten Pangandaran masih bergabung dengan Kabupaten Ciamis.

“Namun secara sejarah lahirnya tarian ronggeng gunung mutlak di wilayah Kabupaten Pangandaran,” kata Aceng.

Masih dikatakan Aceng, ronggeng gunung lahir dan berkembang saat Dewi Siti Samboja atau Dewi Rengganis bertempur melawan komplotan Bajo atas meninggalnya Raden Anggalarang saat memperebutkan kerajaan Galuh Tanduran.

“Adegan ronggeng gunung lahir dari perpaduan kesenian bajidor dan pencak silat yang dikalaborasikan oleh Dewi Rengganis saat membalas dendam kepada komplotan Bajo,” tambahnya.

Pertempuran tersebut diawali dengan perebutan wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh Tanduran yang direbut oleh komplotan Bajo dari kekuasaan Dewi Rengganis dan Raden Anggalarang.

“Dalam perjalanan merebut kerajaan Galuh Tanduran, Dewi Rengganis bersama Raden Anggalarang berpindah-pindah daerah,” paparnya.

Daerah pertama yang disinggahi diantaranya Babakan, Cikembulan, Batu Hiu, Serang, Ciparakan, saat persinggahan di daerah Ciparakan Raden Anggalarang tewas lantaran di arak atau diseret disepanjang jalan oleh komplotan Bajo, daerah tersebut seluruhnya masuk ke Kabupaten Pangandaran.

“Sejak tewasnya Raden Anggalarang, Dewi Rengganis bersama rombongannya sepakat menuju ke daerah Bagolo untuk melakukan penyamaran dalam bentuk tarian ronggeng dengan mengenakan sarung yang pakai menutupi kepala hingga setengah badan kebawah,” jelas Aceng.

Adegan tarian tersebut akhirnya bisa mengelabui komplotan Bajo hingga saat kondisi komplotan Bajo terlena dengan adegan tarian disandera dan dibunuh satu persatu oleh rombongan Dewi Rengganis.

“Dari sejarah singkat tersebut bisa disimpulkan kalau ronggeng gunung memiliki aspek sejarah dan aspek empiris atau perkembangan di wilayah Kabupaten Pangandaran,” imbuh Aceng.

Aceng berharap Pemerintah Daerah Pangandaran segera melakukan revisi pendaftaran ke HAKI dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, karena ronggeng gunung sebagai salah satu sejarah rakyat Pangandaran. (wan/CJ)



«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: