» » » Ronggeng Gunung Disukai Masyarakat dan 'Lodaya'

Foto : Adegan Tarian Ronggeng Gunung

SJO PANGANDARAN – Kesenian tarian ronggeng gunung selain disukai oleh masyarakat juga disukai oleh lodaya atau maung siliwangi, hal tersebut berdasarkan sejarah yang dialami oleh salah satu pelaku ronggeng gunung di tahun 1930.

Salah satu budayawan Pangandaran Aceng Hasyim mengatakan, kesenian ronggeng gunung pernah mengalami krisis regenerasi, hal tersebut terjadi lantaran sumpah salah satu penari ronggeng gunung bernama Indung Beunti yang ber ikrar agar anak cucu dan keturunannya jangan sampai ada yang menjadi penari ronggeng gunung.

“Adegan tarian ronggeng gunung memiliki aturan pementasan atau pakem, salahsatunya jangan menghibur atau melakukan pagelaran diluar daerah kerajaan Tatar Galuh,” kata Aceng.

Namun salah satu rombongan ronggeng gunung yang dipimpin oleh Indung Beunti asal daerah Ciparakan Desa Tunggilis Kecamatan Padaherang pernah di undang oleh lodaya atau maung siliwangi disalah satu daerah yang masuk ke wilayah kerajaan Sukapura tepatnya di daerah Desa Kawasen Kecamatan Banjarsari dengan iming-iming akan disediakan sesajen kepala kebo sebanyak tiga ekor kebo.

“Pada pementasan yang digelar sejak pagi dan siang hingga sore penonton dan yang ikut melakukan tarian ronggeng gunung berwujud manusia,” tambahnya.

Tetapi pada malamnya penonton dan yang ikut menari adalah lodaya atau maung siliwangi dengan ciri wujud manusia yang tidak memiliki hidung dan dibukungnya ada ekor.

“Pagelaran berakhir pada pukul pagi menjelang Subuh, namun rombongan ronggeng gunung tidak dibayar oleh yang mengundang,” papar Aceng.

Rombongan ronggeng gunung tersebut diantar pulang oleh tiga remaja, dipertengahan perjalanan ke tiga remaja berjanji akan memberikan bayaran dengan syarat selama perjalanan rombongan ronggeng gunung tidak diperbolehkan menengok ke belakang.

“Setelah sampai di daerah Gontelang Desa Panyutran Kecamatan Padaherang, rombongan ronggeng gunung sadar kalau mereka sudah sampai di wilayah kerajaan Tatar Galuh, namun ke tiga remaja setelah memberikan sejumlah uang langsung menghilang,” jelas Aceng.

Saat rombongan ronggeng gunung menghitung uang yang diberikan oleh ke tiga remaja, uang tersebut mendadak berubah menjadi daun, Indung Beunti pun seketika kesal dan kecewa hingga melepaskan seluruh peralatan pentas dari mulai alat musik dan kostum ronggeng dan menguburnya di tempat tersebut.

“Setelah seluruh peralatan dikubur Indung Beunti bersumpah anak cucu dan keturunannya jangan ada yang menjadi penari ronggeng gunung,” jelas Aceng.

Setelah kejadian tersebut, ronggeng gunung mengalami krisis regenerasi dan akhirnya muncul generasi yang datang dari luar keturunan Indung Beunti yaitu Ki Maja Kabun.

“Singkat ceritra Ki Maja Kabun mengajarkan gerakan tari ronggeng gunung kepada dua penari perempuan diantaranya Indung Raspi yang sekarang berdomisili di Banjarsari dan Bi Penyoh yang saat ini menjadi dukun bayi,” pungkas Aceng. (wan)





«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: