» » » » Merefleksi Sepinya Wisatawan Yang Berkunjung Ke Obyek Wisata di Pantai Pangandaran

SJO PANGANDARAN - Semua fihak mengeluh dan berteriak karena kunjungan Wisatawan pada moment libur lebaran tahun ini dianggap sepi. Berbagai media sosial turut ramai memberitakan hal ini. Padahal kejadian ini sudah bisa diprediksi sejak jauh hari sebelumnya.

Menurut Iwan, seirang pegiat pariwisata, situasi naik turun merupakan hukum alam (sebab akibat). Ketika grafik kunjungan wisata naik tajam, maka akan ada kemungkinan terjadinya turun tajam, karena disaat terjadi kenaikan tajam cenderung akan terjadi lepas kontrol dari berbagai fihak, yang akhirnya pengunjung merasa tidak puas, kurang nyaman, bahkan kecewa.

"Hal ini saya rasakan sendiri dari banyaknya komplen para wisatawan dan mereka menyayangkan semua itu,"kata Iwan.

Dia menambahkan, Pangandaran sepi merupakan dampak dari berbagai hal yang bisa kita lihat kasat mata seperti antara lain kesadaran dan pola pikir masyarakat dan stakeholder pariwisata yang belum terbangun sepenuhnya.

Berbeda dengan Jogjakarta dan Bali yang mempunyai alam, sejarah dan budaya sebagai potensi inheren untuk berkembangnya pariwisata, masyarakat Pangandaran hanya mengandalkan potensi alam.

Cara dan gaya hidup masyarakat cenderung terbawa oleh uforia dan tidak terlihat adaya budaya yang dapat mendukung berkembangnya pariwisata. Padahal pariwisata merupakan kegiatan yang menyatu dengan alam, sosial, budaya dsb.

Penyebab lainnya, eksploitasi dan pemanfaatan alam tanpa memperhatikan foktor stabilitas alam dan lingkungan hidup.

Sebagai destinasi ekowisata, kerusakan alam dan lingkungan hidup akan sangat terasa dampaknya bagi kegiatan pariwisata.

"Di Pangandaran saya melihat dan merasakan kerusakan tersebut sudah sangat parah, sebagian terumbu karang rusak akibat aktivitas pariwisata, aktivitas nelayan maupun akibat tertimbun sampah pelastik.

Di saat datang muslim angin timur, terutama di pantai timur Pangandaran arus dan gelombang air laut mengangkat sampah plastik yang mengendap di dasar laut, banyak terapung dan sebagian terdampar di pantai,"jelasnya.

Lebih jauh Iwan berpendapat, lemahnya standar sanitasi perhotelan dan pemukiman juga berdampak pada pencemaran pesisir pantai Pangandaran. Begitu juga dengan objek wisata lainnya seperti citumang, green canyon, Santirah dan lainnya, kerusakan alam di daerah hulu sangat berpotensi untuk terjadinya banjir bandang di musim kemarau dan penurunan drastis debit air disaat musim kemarau.

Bila dilihat dari perspektif religius, kita manusia sebagian pemimpin di muka bumi ini diperintahkan untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai anugerah yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup.

Agama manapun melarang umatnya berbuat kerusakan di bumi ini, karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain sekarang dan dimasa yang akan datang.

Merusak alam dan lingkungan hidup termasuk kategori dosa sosial yang harus dipertanggungjawabkan secara sosial pula.

Iwan juga menegaskan, penataan dan kebijakan pemerintah setempat yang belum memperhatikan kaidah kaidah pariwisata, kelestarian alam dan lingkungan hidup juga sangat mempengaruhi situasi ini.

"Pemanfaatan situasi untuk meraup keuntungan sebesar mungkin tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Menjual produk wisata dan perhotelan, homestay dengan harga tinggi, tidak wajar dan tidak sepadan dengan manfaat yang diterima bukanlah sebuah prestasi, melainkan sebuah situasi buruk dan merupakan awal kemunduran pariwisata,"paparnya.

Di jaman modern ini, lanjutnya,berwisata memang sudah menjadi kebutuhan primer sepertihalnya makan, pakaian dst, akan tetapi bila kost berwisata terlalu tinggi, sementara masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi, maka situasi ini sangat tidak menguntungkan. Begitupula dengan harga makanan, tiket masuk dan lain lain.

Pariwisata merupakan kegiatan multi efek, saling terkait satu sama lain, sehingga pada prakteknya tidak bisa jalan sendiri sendiri yang pada akhirnya dapat terjadi distabilitas dan dishamoni.

Harus terbangun jalinan komunikasi dan koordinasi yang sehat oleh semua stakeholder, berjalan pada relnya masing masing dan mempertimbangkan faktor lain hingga terbentuk sebuah Network King yang saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain.

"Seperti para investor dan pengusaha perhotelan juga harus sadar bahwa keuntungan yang didapat bukan murni berasal dari usaha yang dibangunnya, tetapi merupakan hasil yang melibatkan banyak faktor dan banyak fihak. Begitu pula dengan para pelaku wisata lainnya,"jelasnya.

Tak kalah penting lanjutnya, Media massa di jaman sekarang ini juga sangat berperan penting dalam mempromosikan dan mempublikasikan pariwisata. Pengemasan dan penyajian berita yang sensasional dan provokatif akan berdampak buruk terhadap perkembangan pariwisata.

Penyajian berita yang dikeluarkan oleh lembaga resmi Negara yang berkaitan dengan fenomena alam atau situasi lainnya juga harus disampaikan dengan arif, bijaksana dan mempertimbangkan situasi lokal.

"Sudah saatnya kita memberikan manfaat setelah sekian lama mendapatkan manfaat dari aktifitas wisata di Kabupaten Pangandaran ini,"pungkasnya. (wn)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: