» » » BKSDA Amankan Orang Utan Dari Warga Pangandaran

Foto : Wan

SJO PANGANDARAN - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis mengamankan seekor orang utan jenis pongo pigmaus dari  Ade Arianto, warga Dusun Cipari Dusun Sukaresik Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran

Hewan yang dilindungi negara ini ditaksir masih berusia 6 bulan dan berasal dari kawasan hutan di Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)  Pangandaran Yana Hendrayana mengatakan, orang utan borneo ini diperoleh ketika ada seorang warga meminta surat ijin pemiliharan satwa lindung ke kantor Resort BKSDA Pangandaran pada Sabtu, (16/07/2016) lalu. Karena hewan lindung itu tidak bisa begitu saja dipelihara secara pribadi, maka pihaknya langsung mengamankan hewan tersebut.

“Si pemilik mengaku tidak tahu bahwa orang utan yang dibawanya tidak bisa dipelihara secara pribadi. Dia mengira dengan mengajukan ijin pemeliharaan ke BKSDA bisa dengan mudah dimiliki secara pribadi,” katanya, Kamis (21/07/2016).

Setelah dijelaskan bahwa siapapun tidak boleh memelihara hewan lindung dan jika memaksakan dapat kena sanksi hukuman pidana, lanjut dia, kemudian si pemilik langsung menyerahkan orang utan itu kepada petugas BKSDA.

Setelah disita, lanjutnya, orang utan tersebut rencananya akan dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa di Cikanangka Sukabumi. Sebelum nanti dikembalikan lagi ke habitat asalnya.

Sementaranya itu menurut Petugas Analisis Evakuasi Penanganan Konflik Satwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis, Toto Kuswanto, dari hasil pemeriksaan terhadap pemilik orang utan, diperoleh keterangan bahwa hewan lindung itu berasal dari Kalimantan Timur. Begitupun saat diperiksa oleh tim dokter hewan bahwa benar orang utan jenis pongo pigmaus ini habitatnya berada di hutan Kalimantan.

“Kalau bahasa awamnya hewan ini kerap disebut orang utan borneo. Jadi, keterangan dari pemilik dan hasil pemeriksan dokter hewan ada kesamaan dan jelas orang utan ini diperoleh dari Kalimantan,” katanya.

Toto juga menerangkan, dari pengakuan pemiliknya, orang utan borneo ini diselundupkan dari Kalimantan menuju Pangandaran melalui jalur laut dengan menggunakan perahu nelayan dan dilakukan secara estafet dengan menggunakan jasa perahu nelayan.

“Jadi, orang utan ini dibawa dari Kalimantan ke parairan selat sunda dilakukan secara estafet dengan menggunakan jasa 3 kali naik perahu nelayan. Kemudian dari selat sunda diestafetkan kembali hingga ke perairan laut Sukabumi. Selanjunya diestafetkan dengan berganti-ganti perahu hingga akhirnya dibawa oleh nelayan Pangandaran,” terangnya.

Lokasi penyerahan estafet antar perahu, dilakukan di tengah laut. Hal itu agar tidak terdeteksi oleh petugas kepolisian.

Toto menambahkan, saat dibawa oleh pemiliknya ke kantor Resort BKSDA Pangandaran, orang utan itu baru sampai ke Pangandaran. “Jadi setelah dibeli dari nelayan, dia langsung datang ke kantor Resort BKSDA Pangandaran dengan maksud meminta surat ijin memelihara hewan tersebut,” ujarnya.

Saat disita, kata Toto, kondisi orang utan tersebut tampak seperti kelelahan setelah menempuh perjalanan laut selama beberapa hari. “Kami langsung melakukan koordinasi dengan dokter hewan untuk melakukan pengecekan kesehatan hewan tersebut. Setelah diberi perawatan, kondisinya berangsur membaik,” pungkasnya. (wan)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: