» » » Pengadilan Negeri Purwakarta Blusukan Gelar Sidang Lapangan Terkait Kasus Pencemaran Lingkungan


SJO PURWAKARTA. Pengadilan Negeri Purwakarta menggelar sidang langsung di lapangan (Lokasi) terkait kasus pencemaran lingkungan di anak Sungai Citarum, melibatkan PT Indobharat Rayon (IBR), Desa Cilangkap, Kecamatan Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, Selasa (17/5)

Dalam sidang lapangan, dipimpin majelis hakim yakni Barita Sinaga, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Purwakarta, pihak Perusahaan IBR dan sejumlah saksi diantaranya dari

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pada sidang di lapangan itu, Barita Sinaga Majelis Hakim melihat langsung kondisi Kalimati yang alirannya bermuara ke Sungai Citarum. Karena Neneng Saksi ahli dari KLH, mengajak majelis hakim ke lokasi kalimati dan ke areal pesawahan didaerah tersebut yang sebagian tanahnya sudah berubah warna menjadi hitam.

"Sebelumnya, Barita bertanya kepada saksi dari KLH. itu yang hitam itu apa? Saksi menjawab, iya itu limbah batu bara yang mulia."
 
Neneng, Saksi dari KLH, langsung memaparkan bahwa, perihal dari mana
limbah batu bara yang sudah bercampur dengan tanah itu bisa mendangkalkan Kalimati.

"Hasil dari mengambil sampel
limbah itu untuk dijadikan bukti di persidangan." Jelas Neneng kepada Majelis hakim.
 
Pasalnya, limbah tersebut berasal dari bagian bawah tembok pembatas antara PT IBR dengan Kalimati.

"Kami ambil sample disana. Di bawah tembok itu ada aliran air yang sekarang sudah tertutup. Dari pipa aliran air yang berasal dari PT IBR itu, limbah-limbah batu bara yang terbawa air. Ungkap neneng pada majelis hakim.
 
Tidak lama kemudian, Hakim kembali memberikan sejumlah pertanyaan kepada saksi ahli.

"Bagaimana anda memastikan bahwa yang keluar itu limbah...? Saksi menjawab hasil dari memeriksa sample itu di laboratorium dan hasilnya sudah disertakan dalam berkas, yang mulia." Ujar Neneng saksi ahli.
 
Neneng menambahkan, selain mengambil semple tanah juga telah mengambil sample padi yang ditanam di lahan yang berwarna kehitaman tersebut.

"Bahkan padinya pun sudah di periksa dilaboratorium. mengapa kami mengambil semple padi, karena menurut salah satu petani bahwa selepas bercocok tanam di areal sawah selalu gatal gatal." Pungkas Neneng saksi ahli KLH kepada majelis hakim. (DeR)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: