» » Competitive Advantage sebagai Landasan Kekuatan Daya Saing Produk-produk dalam Negeri


Oleh : Dea Dara Dafika S, ST

Sebuah kabar menggembirakan mengenai produk karya anak bangsa yang sukses dipasar internasional tentu membuat kita merasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Pasalnya, selama ini tidak banyak produk dari Indonesia yang terkenal diluar negeri. Kabar baik yang belum lama ini ramai dibicarakan datang dari produk Garbarata yang diproduksi oleh PT. Bukaka Teknik Utama Tbk. Garbarata itu sendiri merupakan jembatan otomatis yang menyambungkan antara pesawat dan terminal penumpang. Proses produksi Garbarata ini dilakukan di pabrik PT. Bukaka yang terletak di wilayah Cileungsi. Hingga saat ini, PT. Bukaka Teknik Utama Tbk sudah mengekspor produk Garbarata milik mereka ke 13 negara dikawasan Asia dan juga negara diluar Asia, seperti Chili. Pihak perusahaan menyatakan bahwa terdapat beberapa peluang dari negara lain yang dapat dijadikan sebagai target ekspor.

Keberhasilan produk PT.Bukaka ini menembus pasar internasional telah menjadi bukti bahwa produk asal Indonesia juga mampu bersaing, bahkan mengungguli produk asal Jepang, China, dan Amerika Serikat. Selain itu, PT. Bukaka juga telah mengadakan pelatihan kepada para teknisi di Jepang mengenai tatacara perawatan dan operasi garbarata.

Prestasi ini tentu menjadi angin segar serta semangat baru bagi bangsa Indonesia. Pemerintah diharapkan memandang serius hal ini dan memberikan dukungan penuh agar produk dalam negeri lainnya juga dapat diminati oleh pasar asing seperti produk milik  PT. Bukaka. Namun, apakah sebenarnya rahasia dari produk garbarata tersebut hingga dapat menembus pasar internasional dan mengalahkan produk-produk dari negara lain? Tentu banyak faktor keunggulan yang dimiliki oleh PT. Bukaka beserta dengan produknya. Namun, salah satu faktor utama yang menjadi kunci suksesnya adalah keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang dimiliki oleh PT. Bukaka. Menurut Hitt, Ireland, dan Hoskisson dalam bukunya Concepts Strategic Management Competitiveness & Globalization, suatu perusahaan dikatakan telah memiliki competitive advantage jika perusahaan tersebut telah menerapkan strategi yang tidak mampu atau sulit ditiru oleh para pesaingnya.

Competitive advantage merupakan kunci utama yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk dapat bersaing dalam skala nasional maupun internasional.  Competitive advantage ini kemudian akan melahirkan sebuah produk yang tidak dapat digantikan (non substitute product) karena tidak ada kompetitor yang dapat meniru produk tersebut secara utuh. Tidak adanya barang substitusi atau pengganti akan memberikan peluang yang besar bagi produk itu untuk menjadi market leader. Permintaan terhadap produk pun akan bersifat inelastic (peningkatan harga tidak mempengaruhi jumlah permintaan produk). Untuk dapat memiliki sebuah competitive advantage bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan sebuah hal yang mustahil. Resources atau sumber daya merupakan basis utama untuk menciptakan competitive advantage didalam perusahaan.

Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah. Tipe masyarakat Indonesia itu sendiri juga sudah dikenal sebagai masyarakat yang sangat konsumtif. Fakta ini telah diketahui oleh para pebisnis atau produsen asing yang kemudian melihatnya sebagai peluang besar untuk menjadikan Indonesia target pasar bagi produk mereka. Hal ini tentu sangat disesalkan karena seharusnya produsen dalam negerilah yang memanfaatkan peluang besar ini dan memperoleh keuntungan darinya.

Berdasarkan laporan penelitian yang dipublikasikan oleh McKinsey Global Institute pada tahun 2012, The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential, terdapat empat area  yang jika ditata secara terpadu akan memberikan peluang nilai bisnis yang besar bagi Indonesia pada tahun 2030. Dua diantara keempat area itu adalah sumber daya dan manusia. Oleh karena itu, pemerintah harus fokus dalam pengembangan sumber daya dan terus melakukan penelitian untuk dapat menemukan alternatif dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui sehingga tidak cepat habis. Peningkatan kualitas masyarakat juga harus dimulai sejak dini, yaitu pemberian pendidikan yang layak dan fasilitas kesehatan yang memadai.

Pemerintah harus benar-benar mencermati dan belajar  dari negara tetangga, yaitu Singapura. Negara Singapura memiliki kapasitas sumber daya alam dan manusia yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia, akan tetapi Singapura kini telah berhasil menjadi sebuah negara maju dengan kekuatan ekonomi yang tidak perlu diragukan lagi. Human capital merupakan tonggak yang dijadikan oleh pemerintah Singapura sebagai tumpuan kekuatan untuk menjadikan negara mereka sebagai negara yang maju. Namun, hingga saat ini rasanya sulit sekali bagi Indonesia untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Singapura.

Sebenarnya, seperti yang telah banyak diberitakan oleh media, pemerintah sudah mencanangkan banyak program dan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kualitas masyarakatnya, seperti program beasiswa pendidikan, ruang belajar untuk publik, jaminan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.  Hanya saja, program-program tersebut tidak dilaksanakan dengan serius. Setelah program terwujud, pemerintah kerap kali tidak melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi, dampak, dan tantangan yang kemudian hadir dalam pelaksanaan program tersebut. Selain itu, pemerintah juga harus mulai mencari cara untuk mengubah pola hidup masyarakat Indonesia menjadi pola hidup masyarakat yang disiplin. Hal ini mulai dapat diterapkan pada anak-anak kecil agar kelak mereka tumbuh dengan perilaku disiplin yang sudah tertanam sejak dini dan kemudian kembali menanamkan perilaku tersebut pada generasi berikutnya.

Selain pengembangan sumber daya dan peningkatan kualitas manusia, pemerintah dan masyarakat Indonesia juga harus melihat peluang yang diberikan melalui kegiatan ekspor.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada bulan Januari hingga April 2016 secara kumulatif bernilai US$45.05 miliar atau menurun sebesar 13.63% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015. Fakta ini merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia harus terus berbenah dan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Penyebab menurunnya kinerja ekspor Indonesia ini tentu tidak hanya disebabkan oleh faktor competitive advantage yang belum dimiliki oleh beberapa produk ekspor asal Indonesia. Namun, perasaan cinta akan produk dalam negeri juga harus ditanamkan sedari kecil karena jika masyarakatnya saja tidak bangga dengan produk lokalnya, bagaimana mungkin produk tersebut dapat percayadiri menembus pasar global.

Masyarakat Indonesia harus memiliki rasa cinta terhadap produk dalam negeri dan juga memiliki kepercayaan akan kualitas produk tersebut, disamping para produsen yang juga terus berusaha untuk meningkatkan kualitas produknya. Lebih lanjut lagi, beberapa upaya yang dapat dilakukan produsen dan pemerintah untuk mendukung produk-produk dalam negeri agar dapat bersaing secara global adalah:

a. Produsen harus mampu menciptakan produk yang berkualitas dan teruji sehingga menimbulkan kepuasan bagi penggunanya dan akan berdampak pada timbulnya loyalitas terhadap produk tersebut.

b. Penanaman  modal untuk pengembangan dan penelitian (research and development) produk agar dapat menemukan dan meningkatkan competitive advantage dari produk tersebut.

c. Pemerintah harus memberikan dukungan penuh dalam hal ini. Langkah awal yang sebaiknya dilakukan adalah membatasi jumlah produk impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, pada tahun 2011 hingga 2015 terjadi fluktuasi terhadap nilai impor di Indonesia, dimana pada tahun-tahun tertentu masih terjadi peningkatan terhadap nilai produk impor tersebut. Hal ini tentu bukanlah sinyal yang baik bagi produsen produk lokal. Produk impor yang paling terasa kehadirannya adalah produk impor dari negara China, dimulai dari makanan, kosmetik, hingga barang elektronik. Pengendalian terhadap barang impor harus dilakukan dengan cepat dan tegas oleh pemerintah jika ingin memajukan industri dalam negeri.

d. Pemerintah juga harus memberikan ruang dan dukungan terhadap perusahaan start-up yang mulai banyak bermunculan di negeri ini. Dilansir oleh dailysocial.net, hingga saat ini sudah terdapat lebih dari 1500 perusahaan start-up lokal di Indonesia. Pada umumnya, perusahaan start-up bergerak dalam bidang teknologi, aplikasi atau produk dan jasa. Perusahaan start-up ini biasanya beroperasi melalui website. Peningkatan jumlah pengguna internet yang terus melesat telah memberikan semangat positif bagi para founder untuk tetap berjuang dalam mengembangkan bisnis start-up mereka.

Pada akhirnya, tujuan dari seluruh upaya ini adalah untuk mendukung produk karya anak bangsa agar dapat terus berkembang dan bertahan hingga mampu menunjukkan identitasnya di kancah internasional. Dukungan terhadap produk dalam negeri harus dimulai dari diri sendiri, kemudian secara perlahan tapi pasti ditularkan kepada orang lain. Dengan memberikan dukungan terhadap produk dalam negeri, kita sudah menunjukkan suatu sikap sederhana, namun memberikan dampak yang besar dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Para pemuda adalah harapan masa depan dan penerus bangsa yang dituntut untuk memiliki semangat agar terus berpartisipasi dan berkontribusi dalam semua kegiatan positif terkait dengan cita-cita bangsanya.

*) Penulis adalah mahasiswi studi MBA Candidate School of Business and Management Institut Teknologi Bandung.


«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: