» » Quo Vadis Satu Dekade New Asian African Strategic Partnership


SJO BANDUNG -  Dalam rangka mengkaji relevansi dan perkembangan NAASP, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia pasifik dan Afrika (P3K2 Aspasaf ), kementrian Luar Negeri bekerjasama dengan Pusat Kajian Asia - Afrika , Universitas Padjadjaran dan Museum KAA menyelenggarakan forum kajian kebijakan Luar Negeri (FKKLN) bertajuk "quo vadis satu dekade new asian-african strategic partnership" yang akan digelar pada tanggal 5 April 2016.

Kemitraan strategis baru asia afrika atau new asian african strategic partnership ( NAASP) pertama kali di cetuskan pada penyelenggaraan KTR Asia Afrika tahun 2005 yang bertepatan dengan peringatan 50 tahun konferensi asia afrika tahun 1955. Pada penyelenggaraan KTT tersebut,NAASP diharapkan mampu menjadi tonggak baru kerjaaama Asia-Afrika sekaligus menggaungkan kembali semangat bandung.

NAASP sejak tahun 2009 bergerak di depan fokus area yakni: kontra-terorisme, memerangi kejahatan transnasional, ketahanan pangan, ketahanan energi, pemberdayaan usaha kecil-menengah, pariwisata, pengembangan jaringan Universitas Asia-Afrika, dan kesetaraan gender sert pemberdayaan perempuan. Dalam kerangka NAASP sendiri, Indonesia telah melaksanakan sejumlah inisiatif di berbagai bidang diantaranya yitu pertanian, perikanan, small and medium enterprises ( SMes), komunikasi, HAKI, perubahan iklim, teknologi satelit, perdagangan dan program capacity building. Pada konferensi tingkat tinggi Asia Afrika 2015 disepakati declaration on Reinvigorating NAASP untuk semakin memperkuat kerangka kerjasana tersebut.

Salah satu contoh nyata dari capaian NAASP adalah pemberian bantuan peningkatan kapasitas untuk Palestina sebagai satu satunya peserta KAA tahun 1995 yang hingga kini belum merdeka. Melalui NAASP, negara-negara Asia Afrika telah berkomitmen memberikan bantuan peningkatan kapasitas kepada 10.000 warga Palestina dalam kurun waktu 2008-2013

Terlepas dari salah satu dasawarsa NAASP masih meghadapi beragam tantangan . Rasa kepemilikan dari Negara-Negara anggotanya masih sangat minim, realisasi kesepakatan kerjasama NAASP terkadang masih tersendat, dan kerangka operasionalnya pun masih belum matang. Kondisi tersebut menyebabkan kontribusi NAASP bagi masyarakat Negara-Negara Asia-Afrika dirasa belum memadai.

Diharapkan dalam forum esok yang akan menghadirkan kalangan akademisi, mahasiswa, media dapat terpecahkan kendala-kendala tersebut. Kemudian juga menjadi ajang menjaring wawasan guna menghasilkan rekomendasi konkret untuk mendorong kerjasama yang lebih efektif, membumi, tepat guna dan bermuara pada terpenuhinya kepentingan Nasional Indonesia.(Vio)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: