» » » Hibahkan Jutaan Buku di Jawa Barat USAID Dukung Gerakan Indonesia Membaca


SJO CIAMIS – Gerakan Indonesia Membaca (GIM) merupakan ikhtiar kolektif menggelorakan budaya literasi di Indonesia. Kemajuan suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakatnya. Dengan tingkat literasi yang baik, masyarakat menjadi kritis, kreatif, dan inovatif sehingga memiliki peluang terbuka untuk meraih kemajuan dan berperadaban.

Demikian ungkap Mendikbud Anies Baswedan, sebagaimana disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemendikbud RI Erman Syamsudin, pada acara pencanangan Gerakan Indonesia Membaca tingkat nasional yang dipusatkan di Ciamis, Selasa (12/4). Kementerian memilih Ciamis menjadi satu dari 31 kab/kota untuk pencanangan GIM sebagai ungkapan apresiasi terhadap para pegiat literasi yang sangat aktif di Ciamis.

Pada pencanangan GIM tersebut dilakukan penyerahan bantuan buku bacaan berjenjang (B3) secara simbolik dari koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat Erna Irnawati kepada Bupati Ciamis IIng Syam Arifin. Bagi Jawa Barat, USAID menyediakan buku bacaan berjenjang sebanyak 606 eksemplar per sekolah/madrasah, meliputi 1.930 SD/MI, mencapai total 1.169.580 eksemplar buku. “Bantuan buku bacaan berjenjang merupakan cara kami mendukung Gerakan Indonesia Membaca secara nasional,” tutur Erna. Pemerintah menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang turut bertanggung jawab atas keberhasilan GIM. “Atas nama pemerintah, Mendikbud secara khusus berterima kasih kepada USAID sebagai donatur buku bagi kelancaran GIM,” ujar Erman.

Bupati Iing sebut ketersediaan buku bacaan tentulah sangat penting dalam bagi keberhasilan GIM. “Bantuan buku dari USAID sangat berarti, apalagi jenis bukunya berimbang dan berjenjang sehingga upaya peningkatan budaya literasi menjadi lebih terukur dan sistematis,” ucapnya. Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada USAID atas dukungan dan bantuannya.

Erna Irnawati ingin hibah buku bukan sekadar pemberian buku. Ia mengaku, pihaknya telah melatih ratusan faslitator daerah (fasda) untuk memastikan buku B3 digunakan secara semestinya. Para fasda kemudian melatih 10.000 orang guru kelas awal mengenai cara penggunaan B3 untuk meningkatkan keterampilan membaca anak kelas awal. “Kami membagikan buku ke sekolah pada saat pelatihan guru di daerah dan pelatihan guru memiliki makna strategis agar buku digunakan secara efektif bagi tumbuhnya kemampuan siswa membaca dan berkembangnya budaya baca,” papar Erna.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Asep Hilman mengatakan, sumbangan jutaan buku dari USAID ini menjadi modal strategis kita menumbuhkan minat baca, mengembangkan kemampuan membaca, dan membangun literasi masyarakat Jawa Barat. Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Ciamis Toto Marwoto ingin GIM menumbuhkan spirit dan kemandirian membaca di tengah masyarakat Ciamis. “Kami ingin dengan buku bacaan berjenjang, guru lebih inovatif dan kreatif mendorong tumbuhnya kemampuan membaca anak-anak,” ujar Toto.

Pada momentum pencanangan ini, perwakilan sekolah/madrasah mitra USAID PRIORITAS berpartisipasi dalam pameran program budaya baca di sekolah/madrasah, baik pengembangan budaya baca secara langsung dalam proses pembelajaran maupun dalam lingkungan sekolah dengan melibatkan segenap warga sekolah, termasuk staf dan orangtua siswa. Momentum ini merupakan bentuk pelibatan publik dalam rangka pengembangan literasi dan budaya baca.

Erna Irnawati juga sebut, selain melalui program B3, pihak USAID membantu Jawa Barat meningkatkan literasi dengan sejumlah langkah: (1) menyediakan buku bacaan fiksi dan non fiksi sebanyak 150 judul per sekolah mitra, (2) bekerja sama dengan The Asia Foundation (TAF) memberikan hibah buku bacaan berbahasa Inggris kepada SD/MI mitra, (3) meningkatkan kemampuan literasi anak dalam proses belajar-mengajar melalui pelatihan dan pendampingan kepada guru-guru sekolah mitra, (4) melatih dan mendampingi kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam menyusun perencanaan program dan kegiatan budaya baca di tingkat sekolah, (5) mendorong sekolah untuk melakukan kemitraan dengan perpustakaan daerah, CSR, orangtua/masyarakat, dan alumni, (6) mendorong pemerintah daerah menyusun kebijakan terkait kota literasi, dan (7) membantu stakeholder daerah menyusun perencanaan kabupaten/kota literasi.(ASB)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: