» » Aher: Pengelolaan Air Bersih Belum Optimal

SJO, BALI - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menilai pengelolaan air bersih di Indonesia belum optimal, malah lebih besar alokasi tindakan kuratif kesehatan.

Menurut dia, jangan-jangan akar masalah kesehatan di Indonesia bermuara dari perlakuan kita air bersih dan atau sumber air bersih.

"Masih banyak orang yang tak merasa berdosa buang sampah di sungai, di sumber mata air, dan banyak lagi. Padahal air itu sumber kehidupan, kita salah berlaku maka akibatnya ke kesehatan kita sendiri," katanya di Bali, Minggu (13/3/2015) siang.

Jangan-jangan, sambung Aher, alokasi dana sangat besar untuk puskesmas atau BPJS tak tepat sepenuhnya karena bersifat kuratif dan tak mengedukasi masyarakat berlaku sehat.

"Ambil contoh anggaran penghijauan hutan selalu lebih kecil dari anggaran kesehatan dan atau pengerukan sungai. Alangkah baiknya jika kita bisa lebih besarkan anggaran fundamental kehidupan yakni di bidang preventif kesehatan," katanya.

Aher mencontohkan, anggaran pengerukan Sungai Citarum tahun 2013 dari pemerintah pusat bahkan menembus Rp1 triliun. Akan tetapi, biaya penghijauan hutan hanya Rp50 miliar sehingga dua tahun kemudian terjadi banjir musiman. Karenanya, paradigma alokasi tetap lebih ke infrastruktur bukan mendidik pola hidup sehat.

Dia menginginkan anggaran ke depan justru lebih menekan masyarakat menghargai lingkungan, terutama menghargai air bersih, dengan menjaganya sebaik mungkin.

"Saya ambil contoh Unicef di Afrika. Mereka bikin perpustakaan sekolah, tapi hasilnya tidak signifikan. Setelah dievaluasi, hasil tak signifikan karena yang lebih dibutuhkan itu obat cacing, bukan buku pelajaran. Obati dulu baru baca buku pulih. Air pun begitu, pulihkan dan jaga dulu air bersihnya, bukan pengobatan kuratif saja," pungkasnya.(ril)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: