» » Waspada Propaganda Penyesatan Orientasi Sexual Menyimpang di Media Sosial

Foto : Google.com

Oleh : Peter S Simo Wibowo SH

Di era keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi dunia maya internet dan media sosial yang begitu luas dan hampir merata di seluruh pelosok tanah air, memudahkan semua orang untuk mengakses suatu informasi apapun atau menyebarkan sebuah informasi kepada siapapun kini seperti hanya membalik telapak tangan saja. Dengan modal gadget android ditangan hanya tinggal klik konten yang dimaksud maka kita sudah dapat mengakses informasi yang kita butuhkan dan menyebarkannya via media sosial. Mulai dari orang tua, dewasa, remaja hingga anak - anak kini semuanya berlomba - lomba exist di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, Blackberry messenger, Whatsapp, Line dan lain - lain.

Namun kini fasilitas medsos tersebut bagaikan dua sisi " mata uang ", sisi yang satu sisi positif yang bermanfaat untuk kita memudahkan mengikuti era kemajuan informasi melalui teknologi di dunia maya dan sisi yang satu adalah sisi negatif yang berdampak negatif sangat luas, khususnya yang akan penulis telaah adalah masalah dampak sosial, norma agama, etika dan kultur kita sebagai orang timur yang dibesarkan dan tumbuh dengan budaya khas orang Indonesia yang mana kita sebagai generasi penerus bangsa putra dan putri anak Indonesia harus memegang teguh prinsip kultur kita dan menjaganya jangan sampai anak cucu kita dengan mudahnya dapat dipengaruhi oleh budaya dan kultur - kultur dari bangsa barat yang tidak sesuai dan bersebrangan dengan ideologi bangsa kita Pancasila.

Khususnya saat ini perlu dihimbau kepada seluruh orang tua agar senantiasa mewaspadai isi atau kontent di media sosial yang diakses oleh putra putri mereka, informasi apa saja yang mereka akses atau informasi apa saja yang mereka telah peroleh, sebagai contoh yang paling anyar selain situs - situs pornografi konvensional yang memuat gambar - gambar atau film adegan tidak senonoh, terdapat pula situs atau website LGBT (LesbianGayBisexsualTransgender ) yang isinya lebih berupa propaganda atau ajakan serta doktrin kepada anda sebagai orang tua maupun kepada putra putri anda untuk sifatnya mempermaklumkan adanya realita kaum gay atau lesbian, bisexsual dan transgender, yang mana isi dari konten situs tersebut menurut hemat penulis lebih bersifat provokatif dan menyesatkan kita sebagai penganut budaya asli Indonesia dengan tujuan agar dapat memaklumi dan menerima kultur - budaya barat yang condong lebih terbuka dan menerima kehadiran kaum gay, lesbi, banci dan bisexsual ( menghalalkan pasangan berhubungan badan dengan laki - laki maupun perempuan sekaligus ) dilingkungan sekitar kita, terlebih sifat dari propaganda tersebut justru mendorong putra dan putri kita yang mungkin mengalami disorientasi sexual untuk membentuk cara pandang mereka menjadikannya sebuah hal yang lumrah dan seolah - oleh mereka mendapatkan sebuah dukungan moral yang sesat dari situs tersebut, hal ini tentu berdampak sangat negatif terhadap penyimpangan perilaku seksualitas mereka ketika beranjak dewasa nanti di karenakan informasi sesat tersebut. Apalagi masalah ini informasinya sudah merambah ke medsos anak - anak usia sekolah, jadi sekali lagi pentingnya kita sebagai peran orang tua untuk memantau dan mencegah hal tersebut menimpa kekeluarga kita.

Peran orang tua Indonesia yang sehat dan normal tentu semua berharap perkembangan psikologis seksual putra putrinya normal dan tidak bermasalah, dan penulis sangat yakin apabila orang tua Indonesia melihat ada suatu gejala - gejala yang menyimpang kepada orientasi seksual anak nya mereka tentu akan berupaya untuk menyadarkan dan menyembuhkan sekuat tenaga hingga si anak menjadi laki - laki atau wanita tulen seutuhnya dan tidak menjadi maaf " banci ". Bila dibutuhkan pasti akan meminta bantuan pihak ketiga dalam hal ini psikiater atau ahli kejiwaan untuk membantu kesembuhan mental dan psikologis sexual mereka.

Khusus menyikapi informasi ini dari aspek hukum sebagai mana diatur dalam Pasal 281-283 KUHPidana,  ketentuan ini mengatur persoalan pelanggaran kesusilaan yang berkaitan dengan tulisan, gambar, atau benda yang melanggar kesusilaan, ancaman hukuman bagi pelakunya adalah pidana penjara selama dua tahun delapan bulan. Selain itu delik pelanggaran kesusilaan diatur dalam Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang ITE No. 11 tahun 2008 (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Ketentuan ini mengartur persoalan dengan sengaja dan tanpa mendistribusikan dan/atau mentransmisikan membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Sanksi (Pasal 45 ayat 1) Hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Masyarakat secara umum menilai kesusilaan sebagai bentuk penyimpangan/ kejahatan, karena bertentangan dengan hukum dan norma-norma yang hidup dimasyarakat. Perkataan, tulisan, gambar, dan perilaku serta produk atau media-media yang bermuatan asusila dipandang bertentangan dengan nilai moral dan rasa kesusilaan dan informasi yang menyesatkan masyarakat Indonesia.

Jadi apabila kita mengetahui informasi sesat  situs atau website LGBT (LesbianGayBisexsualTransgender ) ada pada media sosial kita atau putra putri kita maupun saudara kita segeralah hapus dan jangan ikut membantu menyebarkanya karena anda dapat sewaktu - waktu terjerat Undang-Undang ITE No. 11 tahun 2008  atau langkah yang lebih bijak laporkan saja kepada pihak berwenang agar dapat secepatnya bisa ditindak dan mudah mudahan harapan masyarakat kepada Kementrian komunikasi dan informatika dan dinas - dinas terkait dapat dengan jeli dan sigap menyikapi permasalahan yang berbahaya yang dapat menimbulkan potensi kehancuran budaya dan kultur bangsa Indonesia.


«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: