» » RSHS Melayani Transplantasi Ginjal, Utamakan Pendonor Adalah Keluarga

SJO BANDUNG - Masyarakat Jawa Barat khususnya para penderita gagal ginjal yang berada di wilayah Jabar sudah sepatutnya dapat bernafas lega, pasalnya saat ini RS Hasan Sadikin sudah dapat menerima, melayani dan menangani operasi cangkok ginjal (Transplantasi Ginjal), seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2014 tepatnya 12 november yang lalu.

Penanganan operasi cangkok ginjal ditangani tim khusus transplantasi ginjal yang dibentuk oleh pihak RSHS, tim ini berjumlah 63 orang didalamnya terdiri dari para tenaga ahli kesehatan yang dibutuhkan dalam penanganan operasi ini, diketuai oleh Direktur Medik dan Keperawatan dr. Nucki Nursjamsi Hidayat, S. POT, Kepala Operasi dr. Rubin Surathno Gondo Diputro, SP-PD., juga menyertakan Bidang Komite Etik dan Hukum Dr. Udin Sabarudin SPOG.

Dilihat dari jumlah anggota dan para tenaga ahli kesehatan yang ada dalam tim khusus ini sudah sepatutnya diharapkan dapat melakukan tindakan operasi transplantasi ginjal dengan tingkat keberhasilan diatas 98 persen dan aman secara medik bagi pihak pendonor maupun si penerima donor paska operasi pencangkokan ginjal.

Namun begitu, meski kini RS Hasan Sadikin menerima dan melayani operasi cangkok ginjal secara profesional, aman, dan didukung oleh peralatan medis yang lengkap, bukan berarti dapat mudah begitu saja melakukan operasi tersebut. " sebelum dilakukannya operasi cangkok ginjal, tim khusus ini akan melakukan beberapa langkah screening pada si pasien maupun pada pendonor, screening dilakukan dengan cara melewati beberapa prosedur ketat dengan pertimbangan berbagai aspek sesuai SOp dari pihak Rumah Sakit Kami",terang dr. Nucki Nursjamsi

Adapun demikian, prosedur ketat ini guna mencegah isu selama ini terkait dengan maraknya kabar diperjual/belikan organ dalam tubuh manusia. Karena UU no. 36 tahun 2009 bag 5 pasal 64 dalam ayat (2) dan (3) secara jelas menerangkan bahwa transplantasi organ/jaringan dalam tubuh manusia hanya diperuntukkan semata mata untuk tujuan kemanusiaan dan tidak untuk dikomersilkan dalam dalih apapun. Mengacu pada UU tersebut pihak RSHS melalui Tim khusus transplantasi ginjal akan selalu tunduk dan melaksanakan sesuai Standar Operasi secara bertanggung jawab.

Diambil penjelasannya dari dr. Rubin dalam forum Diskusi Terbuka, Kamis (28/01) di ruang Humas RSHS. Ia mengatakan,"langkah prosedur ketat dan melalui berbagai aspek baik itu mulai dari aspek medik, aspek psikolog, maupun aspek hukum, demikian agar sebelum dan setelah operasi pencangkokan dilaksanakan tidak akan terjadi kesalahan baik itu aspek psikis dan aspek hukum bagi pendonor maupun penerima donor yang bersifat diluar medik, untuk itu Kami pihak Rumah Sakit melalui Tim Khusus ini hanya memprioritaskan bagi pendonor adalah keluarga inti dari penerima donor, kebijakan ini diambil guna mencegah praktek jual/beli organ dalam tubuh manusia juga menghindari permasalahan yang timbul paska operasi pencangkokan tersebut diluar aspek medik", paparnya.

Kehati hatian dan ketatnya prosedur pra operasi cangkok ginjal yang dilakukan pihak RSHS juga melibatkan ILDA (Independent Liver Donor Associate) merupakan badan diluar tim khusus transplantasi ginjal yang membantu dalam menentukan layak atau tidaknya pendonor secara psikis dan hukum.

Saat ini RSHS merupakan salah satu dari 14 pusat ginjal nasional, adalah program pemerintah guna meningkatkan kesehatan melalui operasi cangkok ginjal.

Kepala Bidang Komite Etik dan Hukum RSHS Dr. Udin Sabarudin, S. POG menegaskan, "meski di dalam Undang Undang tidak menyebutkan aturan bahwa pendonor diharuskan kelurga penerima, hal ini adalah kebijakan Kami dalam menjalani SOp juga untuk menjaga dan menghindari  persoalan diluar wewenang Kami", tutupnya.(Cuy)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: