» » Pemprov Bakal Bina Warga Jabar Pengikut Gafatar yang Pulang

SJO BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) akan mengumpulkan sekaligus membina anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Jawa Barat di unit rehabilitasi (panti) sosial sebelum dikembalikan ke keluarganya.

Menurut dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kepala Badan Kesbangpol dan Dinas Sosial dalam menangani hal tersebut. Apalagi, diperkirakan nyaris 450 warga Jabar yang akan dipulangkan dari Kalimantan Barat.

"Saya sudah hubungi Kesbangpol dan Dinas Sosial, rencananya akan kami tampung dulu di panti sosial milik Pemprov Jabar. Ada yang di Cirebon, Lembang, dan Cimahi. Kalau masih kurang bisa di Gedung Dharma Wanita (di Jalan Tamansari, Kota Bandung) meski belum tentu cukup," katanya di Bandung, Jumat (22/1/2016) sore di Gedung Pakuan.

Aher mengatakan pihaknya merasa perlu membina dulu karena dikhawatirkan ada penolakan warga asal mereka terhadap anggota organisasi yang diduga sesat tersebut. Di sisi lain, akan dilakukan pembinaan mental dan agama dahulu agar pemahaman mereka berubah.

"Kalau perlu kami survei, koordinasi dengan pemda-pemda, untuk melihat sampai ke rumahnya seperti apa. Sekira sudah benar lagi keyakinannya, kami baru akan pulangkan mereka," katanya, seraya mengatakan lama pembinaan akan melihat sikon di lapangan.

Sebagaimana dilansir Polda Jabar, sebanyak 97 dari 439 orang bekas anggota Gafatar asal Jawa Barat akan dipulangkan Jumat (22/1/2016) ini. Mereka akan dipulangkan rencananya menggunakan KRI Teluk Amboina menuju Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Jawa Tengah.

Mereka antara lain berasal dari wilayah Jabar seperti Tasikmalaya, Depok, Bogor, Cirebon, Banten, Bekasi, Kuningan, Garut, dan Bandung.  Bogor menjadi daerah yang paling banyak memiliki warga bekas anggota Gafatar yaitu sekitar 39 orang.

Selanjutnya Tasikmalaya (13 orang), Cirebon (12 orang), Bekasi 11 orang, Depok (enam orang), Banten (empat orang), serta Kuningan, Garut, Kota Bandung masing-masing empat orang.
Aher kembali menekankan warga Jabar agar memperkuat ikatan keluarga guna mencegah masuknya faham-faham sesat ini. Apalagi, dari sisi ajaran, sangat mudah mengendus kesesatannya.

"Kita bisa mudah tahu anehnya. Misal tidak perlu shalat, bisa kawin berkali-kali dengan mudah, ada nabi setelah Rasul, dan ajaran tidak logis lainnya. Semua ini bisa mudah dikenali nalar jika ini menyimpang, terutama jika sesama anggota keluarga saling menguatkan," ungkapnya.

Dia mengatakan, secara simultan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan seluruh unsur seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat hukum untuk melakukan antisipasi agar kejadian serupa tak terulang.(Ris/Adr)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: