» » Kekecewaan Mendalam dibalik Pencairan Dana Hibah Guru Honorer Kota Bandung 2016


SJO BANDUNG - Tak hanya guru yang berstatus sebagai PNS yang mendapat berbagai tunjangan, kini langkah pemerintah daerah dalam mensejahterakan guru perlu mendapat apresiasi, yakni dengan anggaran hibah bagi para guru honorer. Tahun 2016 ini, sebanyak 59 milyar dana hibah tersebut siap dicairkan kepada 19.079 orang guru honorer.

Ketua Asosiasi Guru Honorer Indonesia (AGHI) Iman Supriatna memaparkan, hal tersebut disambut positif dan membawa angin segar bagi para guru honorer, sebab tidak hanya guru yang berstatus PNS saja yang berhak mendapat berbagai tunjangan, kini kesejahteraan mereka pun mendapat perhatian pemerintah mengingat tak sedikit guru honorer yang bisa disebut kurang sejahtera.

“Dana 59 Milyar sudah masuk pada rekening kami dan harus segera didistribusikan pada yang berhak.” Ucap  Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Iwan Hermawan Rabu (5/1/2016)

Lanjut, saat ditemui di bilangan Ciliwung  ia menjelaskan dari jumlah dana hibah tersebut sebanyak 120 juta sebagai budget untuk operasional, sisanya harus dikembalikan kepada kas negara.

Dalam pertemuan antar Asosiasi Guru tersebut, hadir pula para Tata Usaha Sekolah. Pasalnya, kedepannya iwan menjelaskan ingin memperjuangkan pula dana hibah bagi tata usaha sekolah. Wawan sebagai perwakilan Tata Usaha sekolah diberi kesempatan menyampaikan keluh kesahnya, dan ditanggapi Iwan.

Dalam orasinya, wawan menggagaskan bahwa sisa dari uang operasional dibagikan kepada Tata usaha sekolah, namun hal tersebut dibantah karena dana operasional tidak mencakup hal itu. Iwan pun menyarankan agar para Tata Usaha membuat sebuah Asosiasi agar keluhannya bisa sama-sama diperjuangkan ke Walikota maupun DPRD. Selama ini, iwan mengaku DPRD selalu memiliki alasan yang sama dalam penolakan anggaran bagi Tata usaha sekolah,  yakni Tata usaha tidak mencakup di sekolah, beragai instansi lain memiliki tata usaha dan pasti akan menuntut hal yang sama.

Saat diwawancarai tim, Wawan sebagai Tata usaha yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun tersebut mengungkapkan kekecewaan mendalam. Dirinya tergabung dalam AGHI , dan menjelaskan sebenarnya AGHI tidak hanya menaungi aspirasi guru honorer saja, tapi semua tenaga honorer yang ingin menjadi PNS. Ia berpendapat, saat ini dari sekian banyak tenaga honorer yang tersentuh baru guru saja.  “2012 disuruh lengkapi persyaratan termasuk buat ATM. Sampai ATMnya mati dan hari inipun mana? Tidak juga. Malah disarankan buat asosiasi dan sebagainya. “ ungkapnya

Terakhir , para Tata usaha menjelaskan hanya ingin menuntut haknya, terlebih karena sebelumnya telah dijanjikan.(Vio)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: