» » Bandar Narkoba Melawan Tantangan Ekstra Bagi Aparat....

Foto :Google

Oleh : Peter S Simo Wibowo SH

Belum habis kekagetan kita atas teror bom yang menimpa Jakarta tempo hari, kini dinamika penegakan hukum khususnya pemberantasan narkoba menjadi sorotan yang harus ditanggapi secara sangat serius, terlebih dalam kurun waktu yang sangat berdekatan seperti yang kita ketahui bersama telah terjadi sebuah perlawanan yang begitu keji dari yang diduga bandar - bandar narkoba kepada aparat kepolisian, seperti kasus di Matraman Jakarta Timur kawasan Berlan ( 18/1) pada saat proses penangkapan terduga bandar narkoba telah terjadi peristiwa yang cukup mengejutkan tak seperti proses penangkapan terduga bandar narkoba sebelumnya tim satnarkoba dari polres Jakarta Pusat tentu tak menyangka bahwa warga sekitar begitu kompaknya diduga " melindungi " sang bandar yang akan diamankan oleh petugas, akibatnya aksi pengeroyokan oleh oknum warga Berlan telah menimbulkan korban luka Iptu Prabowo dan jiwa yakni Bripka Taufik Hidayat yang disinyalir saking ketakutannya yang bersangkutan berupaya menghindar dari keroyokan warga dan menceburkan dirinya ke sungai Ciliwung sehingga akhirnya tenggelam, ada pula informasi yang menyebutkan bahwa korban sengaja disekap lalu tubuhnya dibuang ke sungai, infonya masih simpang siur memang.

Kasus yang sama juga terjadi pada Penggerebekan narkoba di Desa Saentis, Percut Seituan, Deliserdang, Sumut Senin (18/1) petang, juga mendapat perlawanan dari warga sekitarnya bahkan seorang anggota polisi ( Abdul Tanjung ) ditembak seorang pelaku yang berhasil merampas pistol milik polisi lainnya.
Sekarang korban masih dirawat di RS Columbia Asia, menurut Kabid Humas Polda Sumut Kombes Helfi Assegaf. Selanjutnya pada hari Selasa ( 19/1 ) dinihari pukul 01.30 WIB di Jalan Bugis Nomor 85, Tanjung Priok Jakarta Utara perlawanan kepada petugas juga terjadi bahkan pelaku memang telah membekali dirinya dengan senjata api sehingga pada saat penyergapan telah terjadi kontak senjata sehingga jatuh korban luka dari anggota sat narkoba polres Jakarta Barat yakni Iptu Supriyatin dan Bripka Aris Dinanta oleh pelaku yang diduga bandar sabu atas nama Faisal Rahma.

Mencermati fenomena perlawanan para bandar narkoba diatas akhir - akhir ini tentu menjadikan sebuah preseden buruk bagi aparat kepolisian, kurangnya data intelijen dan meremehkan para bandar tentu adalah hal yang kurang bijaksana, terkesan aparat kepolisian menganggap enteng sebuah kasus pengungkapan jaringan narkotika secara serampangan dan sembrono, sangat patut untuk diwaspadai bahwasanya jaringan - jaringan narkoba yang sudah terbentuk diduga menanamkan sebuah doktrin untuk "tidak takut" kepada aparat penegak hukum dan wajib melawan pada saat penindakan itu sangat berbahaya, jangan sampai Indonesia mencontoh seperti halnya Kolombia dimana aparat kepolisian Kolombia kewalahan menghadapi kartel - kartel narkoba disana sehingga tercipta kondisi yang berbalik polisi menjadi sangat takut dengan para bandar narkoba, bahkan sudah sering kali terjadi polisi - polisi yang idealis dan jujur menjadi "santapan" para pembunuh bayaran yang disuruh oleh mafia - mafia narkoba Kolombia untuk dihabisi, sungguh suatu kondisi yang amat sangat tidak kita harapkan.

Melihat kondisi saat ini penulis sangat berharap besar kepada Polri dan BNN khususnya untuk dapat segera bertindak secara tegas melibas bandar - bandar narkoba dalam bertindak dilapangan agar tidak ragu - ragu melumpuhkan terduga bandar narkoba yang berupaya untuk melakukan perlawanan kepada petugas, apabila memang diperlukan "dihabisi" sekalipun masyarakat yang berpikiran sehat pasti akan mendukung dan mengapresiasi, dari kaca mata masalah HAM pun yang jelas menurut hemat penulis aparat yang diperintah oleh undang - undang yang bertindak tegas dilapangan dalam rangka penegakan hukum menindak para bandar narkoba yang melawan apalagi mengancam keselamatan dan jiwa petugas adalah sah sepanjang tidak menyalahi prosedur apalagi salah tangkap atau salah tembak, untuk itu data intel dan admisitrasi penyidikan wajib di optimalkan dan disempurnakan. Karena sesungguhnya "menghabisi" seorang bandar narkoba petugas telah menyelamatkan ratusan bahkan mungkin ribuan korban penyalahgunaan narkotika dan obat - obatan terlarang.

Masyarakat pun berharap besar kepada Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk segera memeriksa dan melakukan percepatan untuk dapat segera melaksanakan eksekusi mati jilid III bagi para terpidana bandar - bandar narkoba yang selama ini masih diduga melakukan bisnis haramnya tersebut dibalik penjara, karena yakinlah bahwa semakin lama mereka menunggu semakin besar aset mereka, semakin besar modal mereka, semakin banyak jumlah narkoba yang diselundupkan, semakin banyak narkoba yang disebarkan, semakin besar nilai transaksinya, semakin banyak pula oknum - oknum petugas yang dapat disuapnya, semakin banyak korban dan calon - calon korban penyalahgunaan narkotika dan tidak menutup kemungkinan semakin banyak juga jumlah korban petugas dilapangan karena mereka para bandar akan semakin kuat dengan dukungan jaringan mereka melakukan perlawanan yang semakin buas.

Demikianlah penulis hanya bisa mendoakan para rekan - rekan petugas Polri dan BNN agar selalu diberikan kekuatan dan keyakinan dijalan yang benar dan selalu didalam lindungan Allah YME, maju terus berantas narkoba tanpa ampun.


«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: