» » Pemprov Jabar Akan Cari Strategi Terkait Usulan Pahlawan

SJO JAKARTA -- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) akan mengkaji sekaligus mencari agar usulan nama pahlawan dari Jawa Barat bisa tembus di Dewan Gelar.

Menurut dia, sejumlah nama sudah diusulkan, bahkan lebih dari beberapa kali namun tetap tidak disetujui pemerintah pusat melalui Dewan Gelar.

"Kita sudah ajukan tokoh Bandung Lautan Api, Mohammad Toha, eks Gubernur Jakarta Ali Sadikin, Ibu Inggit Garnasih, hingga Pendiri Persatuan Ummat Islam asal Sukabumi, KH.Ahmad Sanusi, namun belum berhasil," katanya dalam media visit ke Jakarta, Selasa (10/11).

Bahkan, sambung Aher, pengajuan Ahmad Sanusi hingga empat kali namun tak kunjung disetujui. Padahal pendiri Persatuan Ummat Islam lainnya, Kyai Abdul Halim asal Majalengka sudah lebih dulu disetujui jadi pahlawan.

Bang Ali Sadikin, gubernur fenomenal Jakarta berdarah Sunda, malah diajukan bukan hanya oleh Jabar tapi juga oleh Provinsi Jakarta. Akan tetapi, tetap belum disetujui Dewan Gelar.

Demikian pula dengan Mohamad Toha, yang namanya bahkan sudah menjadi jalan di Kota Bandung. Kisahnya pun sangat heroik dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

"Jadi kami akan evaluasi kira-kira apa kurangnya, syarat mana yang belum lengkap, sehingga pengajuan akan disetujui. Hanya memang harus dicatat, pengajuan ini harus sesuai kaidah keilmuan yang teruji dan tinggi derajatnya," katanya.

Menurut Aher, pengajuan diawali seminar berulangkali untuk memperoleh persetujuan bersama. Selepas itu, diajukan syarat administrasi yang lengkap. Kemudian harus dibuatkan buku dengan standar ilmiah dan bukti lengkap, barulah setelah itu diajukan.

"Dewan Gelar kemudian akan periksa itu semua, kurang satu tidak akan disepakati. Bagaimanapun Dewan Gelar berisikan profesor dan ilmuwan yang ilmunya tinggi," katanya.

Aher menyoroti ajuan pahlawan yang belakangan seolah seksi karena kota dan kabupaten berbondong-bondong mengajukan pahlawan. Kemungkinan besar yang diharapkan adalah efek promosi daerah, dan dampak ikutan penghargaan pemerintah kepada keluarga pahlawan.

Menanggapi keinginan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi agar memberi gelar pahlawan Raden Ayu Lasminingrat asal Garut, Aher mempersilahkan.

"Siapapun berhak mengusulkan seseorang jadi pahlawan. Namun sekali lagi, kita perlu mencari strategi, mengevaluasi agar pengajuan berhasil. Apalagi yang lalu-lalu juga belum jadi," katanya.

Lasiminingrat adalah putri sulung pasangan Raden Haji Muhammad Musa dan Raden Ayu Ria, seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda. Kemudian Raden Haji Musa mendirikan sekolah eropa dengan menggaji dua orang guru dari eropa.

Lasminingrat besar dan membantu masyarakat. Pada tahun 1879 Lasminingrat mendidik anak-anak melalui bacaan-bacaan yang sudah diterjemahkannya dari bahasa Belanda kedalam bahasa sunda, pendidikan moral, sosial, matematika, psikologi dan lainnya dan sudah disesuaikan dengan kultur sunda agar mudah dimengerti.

Pada tahun 1907, Lasminingrat mendirikan sekolah Kautamaan Istri dilingkungan ruang gamelan pendopo garut awalnya terbatas untuk para priyai namun belakangan dibuka untuk umum.

Lasminingrat meninggal pada 10 April 1947. Apa yang dilakukan mendahului RA Kartini dan Dewi Sartika. Lasminingrat dimakamkan di belakang Masjid Agung Garut.(*)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: