» » » HAKEKAT PENGORBANAN PAHLAWAN BAGI PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Foto : Wikipedia.
Sebuah Refleksi dan Implementasi Peringatan Hari Pahlawan  


Oleh Eko Ismadi

Untuk memahami serta memperoleh gambaran yang jelas tentang latar belakang dan hakekat dari pengorbanan para Pahlawan Indonesia yang berjuang pada Peristiwa 10 Nopember 1945 bagi perjuangan bangsa. Kita harus meninjau dari latar belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.  Dalam perlajanan kehidupan bangsa Indonesia  hingga seperti sekarang ini adalah hasil dari sebuah perjuangan untuk mempertahanankan kemerdekaan dan kedaulatan yang dimilikinya.

Bangsa Indonesia dalam perjuangannya untuk mejaga agar tetap tegak dan kokoh berdiri sebagai sutu bangsa banyak mengalami pasang surut. Dalam setiap tingkat perjuangan kemudian kita kenal dengan semangat perjuangan atau semangat juang. Semangat itu harus dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu semangat yang tangguh dan siap menerima dengan segala resiko dan konsekwensinya. Demikian dengan kegemilangan, kelemahan dan akibat negatif  yang ditimbulkannya yaitu penderitaan dan pengorbanan baik lahir maupun batin.

Dan yang melatar belakangi tumbuhnya semangat juang itu adalah semangat perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari perang mengusir penajah, merintis kemerdekaan hingga mencapai puncaknya adalah pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pencerminan dari sebuah bangsa yang memiliki integritas dan kekuatan serta kemampuan sebagai bangsa yang setara dengan bangsa Lain.

Adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang besar, yang dalam sejarah disebutkan memiliki kejayaan yaitu Majapahit dan Siriwijaya.

Dan semangat nasional itulah  yang pendorong tekad dan semangat rela berkorban demi bangsa dan negara. Salah satunya adalah Pahlawan Revolusi yang gugur pada tahun 1 Oktober 1965
Dalam sejarah kehidupan suatu bangsa, perjuangan yang dilakukan untuk mempertahanakan kedaulatan dan kejayaan bangsanya  tidak akan pernah berhenti, dari zaman dulu hingga sekarang. Dan proses perjuangan itu akan selalu ada selama bangsa itu masih bernafas dan memiliki kehidupan. Dalam perjuangan tidak hanya diperlukan integritas saj tetapi juga eksistensi sebagai perwujudan hak hidup dari sebuah bangsa.

Hal itu dibuktikan oleh bangsa Indonesia dalam sejarah perjuanggnya yaitu bahwa mempertahankan kehidupan dan mendapatkanya adalah setiap bangsa didunia. Juga tidak satupun bangsa yang memiliki hak untuk meniadakan hak itu. Disinilah letak azas dan hakekat dari perjuangan bangsa Indonesia itu. Yang mana bila dimplenatsi dengan benar maka akan tumbuh menjadi suatu kepribadian bangsa Indonesia.

Harapan kita kita adalah sikap pahlawan itu dapat menjadi kenyataan hidup sehingga pertumubuhan semangatitu tetap lestari dari generasi ke generasi, dan meningkat seiring dengan perkembangan zaman, dimana perjuangan bangsa Indonesia juga harus sejalan dengan begulirnya waktu.

PENGORBANAN CUKUP BANYAK
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat bahwa korban dari perjuangan sudah demikian pasti dan tidak ada angka pasti yang dapat menyebutkan itu. Mulai korban dalam menentang penjajahan, pergerakkan nasional, merintis kemerdekaan, dan mmempertahankan proklamasi serta korban pada peristiwa yang akan kita peringati ini.

BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60 pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai profesi. Saat itu sudah terbentuk secara sederhana BKR berupa pasukan Laut dan Udara. Tercatat yaitu pasukan BKR Laut/TKR Laut Tanjung Perak, dan Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut, Sedangkan Pasukan BKR/TKR Udara di Morokrembangan.

Pasukan yang bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda, hanya dengan bersenjatakan bambu runcing dan clurit ikut dalam pertempuran selama tiga hari. Kebanyakan dari mereka yang belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut senjata dari tangan tentara Inggris. Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota Palang Merah, juga tak dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang membantu di dapur umum yang didirikan untuk kepentingan para pejuang Republik Indonesia. Para pejuang dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya, melainkan berdatangan dari kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, dan Malang.

Peristiwa 10 November ini menewaskan 6.000 pejuang Indonesia dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari kota Surabaya. Karena banyaknya korban tersebut, akhirnya  kota Surabaya dikenang sebagai Kota Pahlawan pada tanggal 10 November. Secara sefesifik  rakyat yang dimaksud terbanyak dari mereka yang sedang belajar di Pondok Pesantren atau pantas disebut santri. Oleh Karenanya dalam peperangan ini tampil pemimpin santri yang bernama BUNG TOMO.

KATA DIBALIK MAKNA HANYA SEBUAH KEBANGGAAN. Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

(Ricklefs 1991 : 217)
Pertempuran tanggal 10 November di kota Surabaya, adalah pertempuran pertama setelah Indonesia Merdeka, dan menjadi salah satu perang terdasyhat yang pernah terjadi di dalam Sejarah Republik Indonesia. Karena melibat kekuatan rakyat dalam jumlah banyak dan kekuatan tentara yang besar serta memerlukan waktu perlawanan yang cukup lama, berlanjut dan berlangsung keberbagai tempat.
Allahu Akbar !!!!!

Perananan Bung Tomo dalam peristiwa ini adalah sebagai pemimpin pertempuran. Namun uniknya Beliau memimpin dan mengendalikan pasukan serta mengkoordinir melalui dari Corong Radio. Yang dinamakan Radio Pemberontak, maksud Bung Tomo mengistilahkan nama radio dengan pemberontak bertujuan untuk membakar semangat perjuangan yaitu melawan dengan memberontak kepada Pasukan Inggris Dan Belanda. Kata Allahu Akbar itulah yang mengikat perasaan dan batin serta jiwa dan raga rakyat Indonesia di Surabaya berani berperang melawan Inggris dan Belanda sekalipun hanya denan menggunakan senjata Bambu Runcing.

PENUTUP
Ulasan ini hanya singkat semoga bemanfaat bagi kehidupan generasi muda yang akan datang mampu mengambil hikmah dibalik peristiwa. Mencotoh sikap ksatria yang telah ditunjukkan oleh para leluhur pendahulu kita yang tidak hanya mengorbankan kehidupan dirinya saja tetapi jug asana keluarga dan kerabatnya juga.
Tulisan ini jauh dari kata sempurna sehinga masih pernuh mendapat tambahan untuk menyempurnakan tulisan ini semoga para pembaca berkenan untuk memberikan tambahan demi kesempurnaan tulisan ini. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk membangun kehidupan kebangsaan dan tegak kokohnya nasionalisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila Dan Undang Undang dasar 1945.
   
REFERENSI
1. Ricklefs, M. C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300, Second Edition. MacMillan
2. Woodburn Kirby, S (1965). The War Against Japan Vol. 5. London: HMSO
Batara R. Hutagalung. (2001).
3. 10 November 45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?. Jakarta: Millenium
4. Frederick, William H. (1982). In Memoriam: Sutomo. Indonesia: Cornell University outheast Asia Program

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: