» » » Aher Minta Petani Jangan Jual Lahan Pertanian

SJO BANDUNG -- Lahan bagi keluarga pertanian tetap harus dipertahankan apapun kondisinya. Justru, yang sudah-sudah, petani pemilik lahan yang menjual lahannya, kemudian sebatas menjadi pesuruh setelah lahannya berubah.

"Sejumlah kejadian yang saya tahu, terutama di Jawa Barat bagian barat, petani yang jual lahannya, ketika sudah beralih lahan, maka maksimal mereka menjadi satpam atau pegawai di pemukiman atau pabrik di lahan tadi. Statusnya turun dari pemilik menjadi pegawai," kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Bandung, Sabtu (14/11).

Menurut dia, konsep negara maju dimanapun selalu menekankan kepemilikan lahan dan pengetahuan sebagai dua elemen penting yang wajib dikuasai jika ingin menguasai sebuah negara/kawasan.

Sebab, kepemilikan lahan-lah yang memungkinkan kedaulatan sebuah negara terjaga dengan baik apapun identitas negaranya. Sebagai produsen produk manufaktur misalnya, penguasaan lahan luas membuat pabrik terus berdiri.

Untuk negara agraris, kedaulatan pangan dengan stabilitas dan kontinuitas produksi juga hanya mungkin tercipta kalau persawahan tidak tergerus. Pun demikian dengan negara berbasis jasa, pariwisata, maritim, dan lainnya.

"Pengalaman pribadi saya sebagai anak petani, banyak teman saya yang ayahnya harus jual dulu sawah agar bisa kuliah. Setelah lahannya dijual, ternyata lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya," katanya.

Statistik Lahan Pertanian 2009-2013 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian menunjukkan, lahan pertanian di Jawa Barat relatif terjaga meski alihfungsi tidak bisa dihindari. Pemprov Jawa Barat sendiri sebatas bisa menghimbau namun tak bisa melarang petani terkait lahannya itu.

Pada statistik tersebut, luas lahan persawahan di Jawa Barat tahun 2009 mencapai 937.373 hektar. Kemudian tahun 2010 (930.268 hektar), 2011 (930.507 hektar), 2012 (925.565 hektar), dan 2013 (925.042 hektar).

Sementara Sensus Pertanian Jawa Barat tahun 2013 menunjukkan, rerata luas lahan per rumah tangga usaha pertanian terdiri dari lahan bukan pertanian 196,18 m2, lahan pertanian sawah (3.158,55 m2), lahan pertanian bukan sawah (2.359,38 m2), sehingga tingkat jumlah lahan pertanian 4.202, 7 m2 per rumah tangga usaha pertanian. Dikomparasikan dengan daerah lainnya pada sensus tersebut, kepemilikan lahan ini relatif masih tinggi.

Menekan Alihfungsi
Menurut Aher, pihaknya terus berusaha menjaga sekaligus mereduksi penurunan jumlah lahan pertanian antara lain menetapkan Perda No 27/2012 tentang Tata Ruang, yang kemudian dikuatkan Permen 20/2014 tentang pedoman penyusunan mekanisme RDTR (Rencan Detil Tata Ruang).

"Harus diakui, prakteknya di lapangan tidak mudah. Permen dari pemerintah pusat itu makro sekali, perda dari provinsi semi makro, namun implementasi yang utama ada di kuasa perda kota dan kabupaten," ungkapnya.

Aher menekankan, Ia akan berusaha mengokohkan ketegasan para pimpinan daerah dengan pendekatan informal. Sebab, secara sistem, tidak ada mekanisme apresiasi dan hukuman yang bisa diterapkan gubernur ke bupati/walikota.

"Apalagi, setelah era reformasi, tata ruang ini seolah diatur semau raja kecil. Siapapun mengklaim tanah beserta peruntukannya. Baru di tahun 2008 ke atas, pengaturan lahan, termasuk pertanian ini, mulai jadi perhatian bersama," katanya.

Menurut dia, pihaknya berkepentingan agar tata ruang di Jawa Barat makin sinergis ke depan. Terlebih dengan status sebagai daerah agrasis, maka produksi pertanian harus dijaga produktivitasnya.

Secara nasional, produksi padi se-Jabar menyumbang kontribusi 17% per tahun,
jagung kontribusi nasional 5,5%, dan kedelai 7,7 %. Ditargetkan pada akhir tahun 2015 nanti, produksi padi Jabar menjadi 13 juta ton dari tahun lalu 11,64 juta ton, jagung 1,13 juta ton dari 1,047 juta ton, dan kedelai 159,7 juta dari 115,26 juta ton.

Karenanya, Heryawan mendesak sejumlah pemda segera menuntaskan dokumen ketetapan rencana desain tata ruang. Sebab, hingga Agustus 2015 lalu, ditengarai ada sekitar lima kota/kabupaten yang belum menyerahkan dokumennya ke Pemprov Jabar.(*)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: