» » Aher: Kebhinekaan Itu Keniscayaan

SJO BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menilai aneka sengketa SARA/suku agama ras dan antargolongan di Indonesia belakangan mengingkari pluralitas di tanah air.
Menurut dia, jangankan dalam kehidupan duniawi, dalam kehidupan akhirat saja, Allah Swt menciptakan aneka perbedaan dari seluruh makhluk penciptaannya tanpa bisa dibatasi oleh manusia.

"Kebhinekaan itu keniscayaan. Mana ada hidup yang tidak berbeda?! Apalagi Indonesia dibangun oleh ratusan elemen SARA, dari ujung utara hingga selatan berbeda-beda, barat ke timur pun tidak ada yang seragam, namun semuanya tetap satu negara kesatuan," katanya di Bali, Sabtu (31/10) siang.

Aher menegaskan, dengan berbagai perbedaan yang sangat kaya warna, bahkan bahasa daerah pun hampir 700 buah namun tersatukan bahasa Indonesia, maka apresiasi setinggi-tingginya layak diberikan kepada founding father.    

Demikian pula eksistensi 1.128 suku bangsa mengacu hasil riset BPS, Februari lalu, yang mana perbedaan satu dan lainnya demikian terfragmentasi namun tetap terjaga dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Suku terbesar yakni Suku Jawa sebesar 40,2 persen dari penduduk Indonesia, tidak serta merta mengendalikan suku minoritas seperti Suku Nias (0,44%), maupun Suku Papua (1,14%).

Tambah menarik adalah bahwa sekalipun minoritas, suku Papua sendiri malah terbagi hingga 466 suku, sehingga keberagaman dan kekayaan khasanahnya demikian tinggi.

Aher melanjutkan, kondisi serupa terjadi dari sisi agama. Muslim memang yang dominan dengan penganut kisaran 87,1 persen, disusul Kristen sekira 9%, Hindu 1,6 persen, Buddha 0,7 persen, dan Konghucu 0,05 persen.

"Namun justru ini harus membuat kita makin mengokohkan perbedaan. Saya tegaskan, beda dan tetap harmonis itu keniscayaan. Beda dan saling menghormati itu adalah kewajiban," katanya.

Secara khusus, lanjut Aher, istilah kultural kenegaraan seperti kalangan Islam dan kalangan nasionalis juga tak ubahnya gula dengan rasa manisnya yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam istilah sejarah yang ditulis yang sejarawan Indonesia, ternyata memang antara Islam dengan nasionalisme itu seperti gula dengan manisnya karena saking tiada bedanya. Satu kesatuan yang kuat dan menguatkan.

Untuk itu, Aher pun berharap istilah Islam-Nasionalis harus dikembangkan lagi kedepannya guna mengikis perbedaan ataupun pemisahan diantara keduanya, dengan Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI sebagai bentuk negaranya.

“Nilai kebangsaan tersebut harus hadir sebagai spirit, sebagai semangat untuk membangun masa depan Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan oleh Soekarno-Hatta dan kita bersama,” tambah Aher.

Menurut dia, pihaknya berusaha mensinergikan pelbagai perbedaan kebangsaaan itu di Jawa Barat yang kini sedang dipimpinnya. Sebab, sebagai provinsi terbesar di Indonesia, keberhasilan di Jawa Barat menjadi barometer.

Sekiranya masyarakat Jabar menghargai pluralitas tersebut, maka sesungguhnya 1/5 persoalan di Indonesia terselesaikan dengan baik. Pun sebaliknya, jika terjadi ketidakharmonisan, maka masalah nasional terus terjadi.  

"Mari berpadu bekerja untuk menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Adalah mereka yang bukan hanya menghargai kebinekaan, tapi juga masyarakat yang berdaya saing, terdidik, dan sehat, sekaligus takwa dan taat kepada Allah Swt," pungkasnya.(R)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: