» » Pabrik Perakitan Kereta Cepat Akan Dibangun di Walini, Jawa Barat

SJO BANDUNG -- Pemprov Jawa Barat menyambut baik rencana pemerintah pusat membangun pabrik perakitan kereta api cepat di Walini, Cikalong, Kab. Bandung Barat.

Menurut Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, pembangunan pabrik diproyeksin bakal makin mempercepat pembangunan kota baru Walini yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

"Ini akan menjadi pengungkit, akselerator terciptanya kota mandiri yang dirancang (pemerintah) pusat, BUMN, dan Pemprov Jabar. Kami menyambut baik dan akan mendukung sesuai kompetensi kami sebagai regulator," katanya di redaksi Kompas, Jl Palmerah Selatan No 26-28 Jakarta, baru-baru ini. Aher diterima antara lain Pemred Kompas Budiman Tanuredjo dan Wakil Pemimpin Redaksi Ninuk Mardiana Pambudy.

Informasi yang dihimpun, pabrik perakitan ini menyambut antara lain rencana gelaran kereta api cepat Bandung-Jakarta yang dimenangkan konsorsium Tiongkok.

Di pabrik ini, sejumlah badan usaha anak bangsa akan bekerjasama seperti PT INKA dan PT Len Industri guna merakit sekaligus transfer ilmu dari perusahaan patungan pengelola, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

KCIC diproyeksikan akan mengelola kereta cepat di ASEAN dan Timur Tengah. Selain Kota Walini, ada empat daerah lain yang dibidik pembangunan seperti di Karawang sementara tiga lainnya belum jelas.

Aher, sapaan akrabnya, menambahkan, pemukiman baru yang natural dan tumbuh natural adalah kepercayaaan. Sebab, tidak bisa pemukiman baru bersifat ekslusif dan tidak mengikuti perkembangan alami.

"Kita bisa belajar dari pemerintah Irak zaman khilafah, mereka seperti mudah membuat kota baru seperti Basrah. Namun kini di Indonesia, membuat kota baru alami yang bukan real estate, semisal Kota Baru Parahyangan, ini jadi seperti tidak mudah dilakukan," sambungnya.

Menurut dia,  situasi ini menimbulkan masalah perkotaan yang tidak mudah diurai ketika sebuah pemukiman demikian padat. Contohnya Kota Bandung yang kini sudah dihuni sekira 2,5 juta penduduk padahal rancangan awal di zaman kolonial hanya 1 juta orang.

"Maka itu, dari awal hingga sekarang, kami di Pemprov Jabar selalu mendukung rencana pemukiman natural baru seperti Kota Walini ini. Kami siap dukung pemerintah pusat mewujudkannya, seperti pembangunan Waduk Jatigede dan Tol Cipali,"sambungnya.

Kota Walini akan dibangun di area seluas 3.000 hektare, tepatnya di Desa Maswati, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di kawasan tersebut akan terdapat perumahan, pusat bisnis, pusat pemerintahan, dan Kampung Asia Afrika. Dengan lahan seluruhnya milik PTPN VIII, rencananya akan dioptimalkan lahan tidak produktif dari perusahaan negara tersebut.

Untuk aksesnya, Pemprov Jabar akan memanfaatkan jalan tol Cipularang dan sinergitas pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi, Sukabumi-Cianjur, dan Cianjur-Padalarang. Tentu saja, ditambah pula jalur jaringan kereta api cepat dan juga kereta konvensional yang sudah ada di sekitar lokasi. Selain

Kawasan ini berjarak 22 km dari Kota Bandung dan berada pada km 103 Tol Cipularang, dikenal sebagai afdeling Panglejar. Pengembangan fungsi kawasan ini telah sesuai dengan peraturan yang ada. Kawasan tersebut telah ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Nomor 2 tahun 2012 dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)Tahun 2009.

Hal menarik lainnnya dari Kota Walini adalah rencana pendirian kampus baru ITB, yang direncanakan sebagai Green Techno-Art Campus di kawasan yang lebih luas, hijau, dan strategis gun memenuhi kebutuhan pendidikan tinggi pada masa mendatang sebagai solusi untuk menghasilkan sarjana teknik yang lebih banyak.

Hal ini sesuai arahan Rektor ITB yang menugaskan Tim Pengembangan Kampus ITB Walini (2020) sebagai pelaksana penyusunan masterplan ini. Kampus tersebut akan menjadi Knowledge and Innovation hub bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Pada tahap awal, untuk kurun waktu 10 hingga 15 tahun, kampus baru ini akan menampung mahasiswa sampai dengan 30.000 mahasiswa dan menghasilkan hingga 10.000 lulusan per tahun, beserta hasil-hasil penelitian
yang akan membantu pemecahan masalah dalam dunia industri dan sektor produksi lainnya.

Pengembangan Kampus ITB Walini (2020) ini diperkirakan membutuhkan anggaran tahap pertama kurang lebih sebesar Rp7 triliun dalam jangka waktu 10 tahun. Dana pengembangan ini diperoleh dari sumber dana Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, donor dari masyarakat Indonesia dan internasional.(R)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: