» » Gotrasawala 2015, Kenalkan Cirebon ke Dunia

SJO BANDUNG -- GOTRASAWALA adalah sebuah forum festival dan seminar yang di gunakan untuk memperkenalkan kekayaan ragam seni budaya wilayah Jawa Barat yang bermutu tinggi ke pasar internasional. Oleh sebab itu, salah satu program yang sangat penting dari Gotrasawala adalah mengundang para direktur festival dan media internasional yang bergengsi untuk datang menghadiri Gotrasawala setiap tahunnya. Pada tahun ke dua (2014) strategi penyelenggaraan Gotrasawala ini telah mendapatkan hasil yang sangat penting.

Wakil Gubenur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan Direktur Festival OzAsia di Adelaide Australia yang diundang khusus untuk menghadiri Gotrasawala tahun lalu, pada tahun 2015 ini telah mengundang Museum Topeng Cirebon untuk memamerkan koleksinya sebagai bagian dari program festival mereka. “Peminat terhadap seni topeng Cirebon ini di festival OzAsia sangat luarbiasa,” katanya saat Press Conference Gotrasawala di Gedung Sate – Kota Bandung, Selasa (27/10).

Deddy mengatakan Gotrasawala bisa dinikmati oleh orang-orang indonesia dan luar. “Tapi kita butuh tokoh dan budayawan dunia agar bisa merekomendasikan festival ini ke mata internasional. Goalnya, bagaimana mengenalkan seni dan budaya jabar ke tingkat dunia,” kata dia.

“Jabar ini luar biasa, dari segi musik bisa menembus tangga lagu dunia lewat Gotrasawala ensemble. Kalau kita tidak melakukan ini kita tidak tahu, bahwa instrumen yang dimiliki kita bisa berkolaborasi dengan instrumen negara lain,” kata Deddy.

Tahun ini, jelas Deddy,  Gotrasawala Ensemble juga di undang untuk tampil di 2 festival world music terbesar di dunia, yaitu Sharq Taronalari di kota Samarkan, Uzbekistan dan Jeonju International Sori Festival di kota Jeonju, Korea. Dari 69 negara Peserta Sharq Taronalari, hanya Gotrasawala Ensemble yang di liput secara luas oleh Euronews, sebuah TV Berita yang paling terkemuka di Eropa.

Penggagas & Ketua Tim Kreatif Gotrasawala Franki Raden, Ph.D. menyebutkan Gotrasawala Ensemble di bentuk sebagai bagian dari program festival Gotrasawala yang pertama di Bandung. Anggota grup musik ini merupakan gabungan antara para pemusik tradisional Jawa Barat dengan penyanyi dan komponis terkenal dari Spanyol, Ana Alcaide. Setelah bekerja-sama selama 2 tahun, Gotrasawala Ensemble berhasil memproduksi sebuah album berjudul: The Tale of Pangae pada bulan April 2015.

Dua bulan kemudian album ini berhasil menembus Tangga Lagu-Lagu World Music di Eropa dan menduduki peringkat ke 15. Dalam sejarah perjalanan musik di negere ini, pertama kalinya sebuah grup musik Indonesia berhasil menembus Tangga Lagu-Lagu di Eropa. Sampai saat ini album Gotrasawala Ensemble masih menduduki Tangga Lagu-Lagu World Music di Eropa dan bertahan selama beberapa bulan.

Di samping menduduki Tangga Lagu-Lagu, album Gotrasawala Ensemble juga mendapat ulasan yang baik di seluruh majalah musik paling bergengsi di Eropa seperti SONGLINES dan FROOT.

Dalam rangka festival Gotrasawala 2015, Gotrasawala Ensemble nanti akan tampil sebagai Grand Final acara penutupan festival di Sunyaragi pada tanggal 1 November.

Tahun ini, jelas Franki, GOTRASAWALA akan di selenggarakan di beberapa tempat di Cirebon dari tanggal 30 Oktober - 1 November, 2015. Progam Gotrasawala tahun 2015 ini juga di perluas dengan menyajikan pelbagai kesenian rakyat, ritual, kerajinan dan kulinari dari wilayah pesisir di Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. Kegiatan yang di kemas dalam bentuk Pesta Rakyat ini akan bertempat di Alun-ALun kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati yang memang sudah menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat sekitarnya.

Sementara itu, acara utama festival Gotrasawala tahun ini akan bertempat di Kraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi. Kraton Kasepuhan akan menjadi lokasi dari acara Pameran yang secara khusus akan menampilkan materi sebagai berikut:

1.      Perlengkapan kehidupan sehari-hari para Sultan sejak dahulu hingga sekarang.

2.      Disain Batik kraton moderen Cirebon karya seorang perancang Batik ternama: Komarudin Kudiya.

3.      Koleksi Topeng Cirebon dari Museum Topeng Cirebon milik Iman Taufik.

Goa Sunyaragi akan menjadi tempat untuk acara utama Seni Pertunjukkan Gotrasawala selama 3 hari yang bertema WEST JAVA: PAST, PRESENT and FUTURE.

Untuk mengungkapkan tema tersebut, Gotrasawala akan menampilkan Seni Klasik (PAST) dari Kraton Keprabon dan Kraton Kacirebonan. Untuk seni pertunjukkan yang mewakili tema PRESENT, Gotrasawala akan menampilkan karya tari Mesu Budi dan grup musik Kunokini dari Depok yang sudah memiliki reputasi internasional.

Untuk tema FUTURE, Gotrasawala akan menampilkan karya terbaru dari Gotrasawala Dance Company. Grup Tari ini juga di bentuk sebagai bagian dari program festival Gotrasawala pertama di tahun 2013. Anggotanya adalah para penari dan pemusik Jawa Barat yang bekerja-sama dengan seorang koreografer ternama Kanada, Peter Chin dalam menggarap sebuah karya tari kontemporer yang diberi judul “Ningali”. Tahapan akhir “Ningali” ini akan di tampilkan pada Penutupan Gotrasawala di tanggal 1 November yang bertempat di Sunyaragi.

“Pementasan Gotrasawala Ensemble sebagai Grand Final di hari Penutupan Gotrasawala juga mewakili tema FUTURE festival,” tambah Franki.

Program seminar Gotrasawala tahun ini, papar Franki, akan memberikan penekanan kepada topik yang membahas masalah-masalah lokal dalam bidang seni pertunjukkan, senirupa, sastra, sejarah dan budaya. Untuk menjelajahi tema West Java: Past, Present and Future, Gotrasawala akan mengundang para pembicara seperti:

1.      Dr. Undang Ahmad Darsa (Filolog)

2.      Remy Sylado (Budayawan)

3.      Agung Nugroho (Wartawan)

4.      Made Casta (Senirupawan)

5.      Komarudin Kudiya (Perancang Batik)

6.      Ana Alcaide (Komponis/Spanyol)

7.      Peter Chin (Koreografer/Kanada)

Tahun ini Gotrasawala secara khusus mengundang seorang pengamat musik dari majalah RHYTHM di Australia: Chris Lambie dan seorang ahli pemasaran produk kerajinan dari Uzbekistan: Shakhlo Ubaydullaeva. Kedua orang ini juga akan menjadi pembicara yang mewakili tema FUTURE dari Seminar Gotrasawala.

Sebagai penutup seminar, Gotrasawala akan meluncurkan sebuah novel trilogi karya Okki Jusuf Judanegara yang di tulis berdasarkan fakta sejarah kerajaan Tarumanegara dan pengalaman spiritual sang penulis yang berhubungan dengan kerajaan tsb. Judul novel ini adalah The King’s Code.

Seperti di ungkapkan di awal tulisan ini, GOTRASAWALA adalah sebuah festival yang di rancang secara khusus untuk memperkenalkan dan memasarkan produk-produk kesenian Jawa Barat yang bermutu tinggi ke dunia internasional secara strategis dan sistimatis.

Namun di samping itu, GOTRASAWALA tentu saja juga bertujuan untuk menjadikan Jawa Barat, khususnya kota Cirebon sebagai wilayah utama pariwisata budaya yang mampu menarik minat para wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara untuk berkunjung ke kota bersejarah yang di dirikan oleh Sunan Gunung Djati pada awal abad ke 16.

GOTRASAWALA itu sendiri merupakan judul dari sebuah musyarawah besar kebudayaan Nusantara dan Dunia yang di prakarsai oleh Pangeran Wangsakerta pada akhir abad ke 17. GOTRASAWALA yang di gelar saat ini mendapatkan inspirasinya dari peristiwa besar dan bersejarah di kota Cirebon tersebut.

Franki mengajak semua elemen masyarakat Jawa Barat untuk datang ke kota Cirebon, “dan mengambil bagian dalam sebuah peristiwa bersejarah, menghibur dan bergengsi di bumi Jawa Barat yang berjudul: GOTRASAWALA atau West Java Cultural & Performing Arts Festival.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: