» » ASAP HUTAN DAN RODA PERPUTARAN EKONOMI DI DAERAH

Ulasan dan Pandangan, Permasalahan dan Koerelasinya bagi kondisi di Daerah

Oleh Eko Ismadi

Asap masuk mata kita pedih dan masuk hidung mengganggu pernafasan. Namun dengan adanya asap pula kita dapat mengetahui akan lingkungan kita dan udara sekitar kita masih untuk melaksanakan kehidupan, persyaratan untuk api bisa menyala harus ada udara yang bersih dan memadai. Kondisi inilah yang harus kita syukuri. Sekalipun ada dalam kesulitan masih hikmah yang dapat diambil.

Beberapa bulan terakhir kita bangsa Indonesia disibukan dengan masalah asap yang berasal dari kebakaran hutan. Karena demikian banyak asap hingga Negara tetangga kita Malaysia dan Singapura juga merasa terganggu dengan kehadiran asap yang memenuhi wilatyah udara kedua Negara tersebut. Dan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin agenda tahunan setiap musim kemarau.

Sebagai sebuah bangsa yang besar wilayah demikian luah rasanya kok tidak enak hati biala harus menerima cibiran dari Negara tetangga dengan adanya persoalan asap ini. Bila hal seperti ini dibiarkan terjadi secara berlarut-larut akan mengganggu hubungan baik antar Negara. Bisa dimungkin akan dapat mengganggu eksistensi dan harga diri sebagai bangsa, karena dinilai tidak mampu mengatasi asap kebaran hutan tersebut serta mencegahnya.

Kebakaran hutan terjadi ada latar belakang dan penyebabnya, maka dari itu saya sedikit berusaha untuk mengulas tentang peristiwa kebakaran hutan ini melalui pandangan sejarah dan dampak dan korelasi di masa sekarang ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dan berguna sebagai sumbangsih bagi kehidupan yang lebih baik bagi kehidupan bangsa Indonesia di masa yang akan datan. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk membuat kegaduhan namun sekedar untuk member pertimbangan dan saran, kepada pemimpin bangsa dan kita semua.

SEJARAH KEBAKARAN HUTAN
Fenomena Alam. Kebakaran hutan terjadi dimana saja tidak posisi dan letak geografis sebuah Negara, status ekonomi senuah Negara miskin atau kaya, daerah yang beriklim tropis, sub tropis, mediterania, dan iklim continental, semua menghadapi persoalan yang sama yakni kebakaran hutan, bahkan kebakaran di Australia dan Amerika banyak menelan korban jiwa sedankan di Indonesia tidak pernah menelan korban jiwa.

Perubahan Musim. Kebakaran hutan hanya terjadi dimusim kemarau atau musim kering. Udara disekitar hutan panas dan udara kencang bertiup, menyebabkan lapisan atmosfir dan udara yang menipis menyebabkan sinar matari langsung dapat menembus bumi. Karena pemanasan ini berlangsung berbulan-bulan secara terus menerus dapat, sehingga sinar matahari teresbut bertahan disatu titik akibatnya dapat menimbulkan api. Dari titik apai ini kemudian menjadi spot aktivitas yang dapat melebar menjadi kebakaran hutan. Namun kebaran seperti ini hanya bersifat sementara karena yang terbakar hanya semak belukar dan tumbuhan rendak.

Perilaku Manusia. Adanya kegiatan dan aktivitas manusia dilingkungan dan sekitar hutan dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, yakni ingin menebang pohon secara bertahap dengan cara pengeringan dimana pohon itu dikeringkan memalui pemahatan pada kulit cambium pohon yang dilaksanakan pada musim hujan, setela tiba musim kering pohon ini akan mengering daun berguguran barulah kemudian pohon itu ditebang. Dalam kondisi kering pohon itu akan menjadi ringan dan kuat serta mudah untuk membentuknya. Sikap lain dari manusia adalah dimusim kering sering manusia rekreasi dan berjalan di dalam hutan tanpa sengaja dan iseng karena penasaran ingin melihat dan tahu kebakaran hutan.

Faktor Kesengajaan. Perilaku Nomaden yang sering menyebabkan kebakaran hutan karena tanah hutan yang lapisan atas saja yang mengandung humus sehingga dua atau tiga kali musim panen tanah itu sudah tidak subur lagi. Oleh karena itu maka nomaden menjadi cirri khas kehidupan masyarakat disekitar hutan. Ketika lahan yang ditinggalkan telah dianggap subur kembali maka semak belukar yang tumbuh dan ilanlang akan dihilang dengan cara yang mudah singkat dan waktu cepat yakni dibakar.

Komersial. Masyarakat sekitar hutan menjadi bagian kegiatan pembebasan lahan dan alih fungsi hutan. Seperti perkebunan dan lahan untu perumahan atau pemekaran wilayah. Namun yang mendominasi permasalahan dari permasalah kebakaran hutan adalah pengalihan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan terutama perkebunan sawit. Ini yang menjadi masalah rutin tahun yang dihadapi bangsa Indonesia. Mengapa masyarakat mudah diajak kersama ? Karena mereka didorong oleh keperluan hidup dan himpitan ekonomi maka segala resiko dan sangsi hukum mereka pasrah untuk menerima dan menjalaninya.

Kondisi Daerah. Di Indonesia semua wilayah bias terjadi kebakaran hutan. Didaerah dataran rendah yang berhubungan dengan pantai dan sistim pengairan dengan pasang surut yang lebih dikenal dengan lahan gambut, didaerah kering seperti hutan jati di Jawa Tengah, dan Dataran Tinggi seperti gunung Lawu, Gunung Sumbing, Dan Gunung Arjuna di Wilayah Jawa Timur. Kebakaran hutan juga menjadi agenda rutin tahunan, Namu n dikedua wilayah ini tidak menimbulkan masalah asap karena kebarakan tidak menembus kedalam permukaan tanah, hanya pada semak belukar dan permukaan tanah.

KORELASI PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN. Politik dan Ekonomi. Politik Dan Ekonomi di Indonesia termasuk berbiaya mahal. Paska Reformasi kegiatan politik dan ekonomi dapat disetarakan kebutuhan biaya pengadaannya. Yang dimaksud adalah adanya kegiatan ekonomi harus didudkung oleh kebijaksanaan politik, kebijaksanaan politik harus bias menciptakan sumber ekonomi. Demikian eratnya permasalahan asap hutan dan kebijakan politik ekonomi sampai-sampai Presiden Jokowi dicurigai memiliki kerjasama dengan perusakan perkebunan sawit yang membakar hutan.

Ekonomi Masyarakat Setelah penebangan hutan dan kegiatan pabrik kayu oleh terhenti masyarakat didaerah banyak kehilangan mata pencaharian dan pekerjaan. Karen ahasil cocok tanam tidak bias memenuhi kebutuhan hidup yang sifat rutin dan mendesak. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat selain menerima dan bersedia bekerjasama dengan penguasaha sawit dari Malaysia dan pengusaha tambang dari Singapura. Keadaan ini tidak dapat kita mengatasinya dalam waktu sekejap.

Kepentingan Negara Lain. Penanaman modal asing juga berpartisipasi dan turut andil dalam munculnya permasalahan asap di Indonesia. Malaysia dan Singapura mengharapkan akan ada pendapat dari pengolahan anggaran keuangan diluar negeri, yang aman, dapat terasawasi, dan berada diwilayah yang jauh. Dengan demikian sasaran yang ideal adal Indonesia. Ironisnya nasabah di bank dari kedua Negara tersebut juga diindikasikan banyak dari Indonesia. Oleh karenanya kolaberasi ini kan mudah untuk mendapakan kesepakatan.

Sumber PAD. Perkebunan Sawit adalah sumber PAD didaerah, terlebih wilayah pemekaran baru yang belum memliki banyak fasilitas produksi dan kegiatan ekonomi yang dapat mendukung kegiatan pemerintahan didaerah.

Maka melalui aktivitas perkebunan sawit inilah yang nanti bisa dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkatkan pendapatan daerah dan mengkatkan taraf hidup rakyat didaerah.

Penghasilan Pajak. Dengan segala kegiatan penanaman modal maka pemerintah daerah akan mendapat masuka khusus dari perijinan, tahapan birokrasi, proses negoisasi, penyusunan perjanjian dan sejalan seiring dengan kepentingan pemerintah daerah yang sekarang memimpin. Yang berikutnya pemasukan pajak akan didapat karena aktifitas perusahaan terutama kebutuhan BBM dan pengadaan perlengkapan dan kebutuhan pabrik.

Roda Perputaran Ekonomi Adanya aktivitas perkebunan akan menambah kehadiran jumlah penduduk baru. Sehingga pengadaan penyediaan kebutuhan pokok didaerah akan meningkat, pelibatan masyarakat sekitar. Perananan masyarakat juga meningkat dari sebelumnya. Sebenarnya semua memiliki maksud baik, namun karena kegiatan yang dilakukan secara instan dan segera jadi akibatnya resika yang ditimbulkan tidak pernah dipertimbangkan oleh para penguasaha dan masyarakat sendiri. Akibatnya lingkungan dan kehidupan masyarakat yang harus menanggungg akibanya.

Undang Undang Dan peratutan serta petunjuk pelaksanaan sudah diatur dengan jelas termasuk organisasi dan anggota serta penangannnya. Karena adanya pembiasan dari definisi kebakaran hutan akibatnya rakyat justru terkesan bimbang dengan sikap dan pendiriannya sendiri. Termasuk unsure pimpinan diwilayah terkesan berat dalam pertimbangan. Karena kembali dihadapkan pada kepentingan daerah itu sendiri.

Kebakaran hutan dapat dikategorikan sebagai bencana maka anggara sudah dialokasi didaerah yang termasuk dengan dana siaga dan penanggulangan bencana. Dengan ada kebakaran hutan yang disebabkan karena adanya kegiatan dri pembukaan lahan sawit, menjadikan kegiatan penggunaan dana bencana asap ini jadi ragu, karena kawatir akan dianggap sebagai bagian dari kegiatan korupsi.

Penanganan. Daerah dan Pusat sudah memiliki strata dan juknis penanganan yang jelas. Namun bila organisasi dan ketentuan penggunaan dana itu diarahkan pada ada permasalahan asap maka terkesan penggunaan dana yang tidak sesuai dengan ketentuan. Apakah perbuatan pembakaran yang disengaja oleh pengusaha sawit dapat dikategorikan sebagai bencana ? Ini yang harus dipertimbangan dan menjadi pemikiran pemerintah secara keseluruhan.

Sedikit kita menengok perjalan hidup bangsa Indonesia. Era Soekarno tidak ada permasalahan hutan, Era Soeharto tidak ada permasalahan kebakaran hutan, Era Gusdur, dan Era Megawati tidak sama sekali terjadi permasala han dengan asap kebakaran hutan. Baru muncul permasalahan kebakaran hutan berikut asapnya adalah Era SBY ? apa sebabnya ? Terkesan panjang menguraikannya dan tidak sopan mengungkit masa lalu. Namun hendaknya permasalahan itu menjadi pengalaman dan sekarang jangan terulang lagi.

Penanganan pemerintah di Era Jokowi sudah demikian maksimal dilaksanakan. Mulai koordinasi dengan pejabat diwilayah, pengerahan aparat, hingga blusukan sudah dilaksanakan. Namun kembali pada persoalan semula penyelesaian ini butuh waktu dan penanganan khusus. terlebih bila dihubungkan dengan kejadian alam maka penangannya juga membutuhkan peranan alam itu sendiri, tidak hanya dari usaha dilakukan manusia saja. Masalah hasil itu hanya tergantung pada waktu dan kesempatan saja bukan karena da unsure lain.

Peralatan Kurang Memadai. Peralatan kita kurang memadai bila dibandingkan dengan engara lain yang memiliki permasalahan dengan kebakaran hutan. Seperti Rusia, Amerika, Dan Australia serta Singapura yang diarahkan untuk alat pemadam kebakaran kota. Namun semua berpulang kembali kepada kondisi Indoneisa sekarang ini. Saya sebagai penulis tidak mau berandai-andai atau mereka penjelasan dan ulasan untuk memberinkan informasi yang tidak jelas kepada pembaca.

Anggaran sudah dialokasi dari tinggkat pusat hingga daerah besar dan sember pendanaan sudah diatur. Ini hak wewenang penuh pemerintah jadi kita sebagaimasyarakat hanya melihat bagaimana pemerintah pemerintah memprioritas anggaran ini agar permasalah didalam kehidupan masyarakat tidak berlanjut. Karena dana ini digunakan berarti ada masalah dan permaslahan. Ada pula masyarakat yang berpikir janganlah samapai dana ini digunakan karena pasti akan timbul masalah, sebagaimana alat pemadam kebakaran dibeli dengan biaya mahal pastilah tidak akan diharapkan penggunannya ?

Harapan kita terjalin kerjasama antara rakyat dan pemerintah saying diperlukan sehingga keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat bangsa dan negara dalam berjalan secara hamonis, selarah, dan seimbang dalam kutuhan dan ketentraman hidup. Semua itu dapat dimiliki hanya pada Sang pencipta kita berserah dan mengadu dan berdoa semoga kita semua terbebas dari kesulitan ini.

Tulisan ini hanya sebagai pemenuhan aktualisasi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, sebagai penyajian yang informati dan berimbang guna membangun lkebersamaan dan saling pengertian dalam kehidupan Pancsila Dan Undang Undang dasar 1945 serta Persatuan dan Kesatuan dalam kebhinekaann. NKRI HARGA MATI !!!!!

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: