» » MENGENANG BULAN SEPTEMBER SEBAGAI BULAN BERDARAH JALANNYA PERISTIWA PENCULIKAN YANG MENJADI BAGIAN G 30 S/PKI 1965 SEBUAH AMBISI YANG MENDATANG MUSIBAH DALAM KEHIDUPAN KEBANGSAAN INDONESIA

 

Untaian Dan Catatan Sejarah Nasionalisme Indonesia

Oleh Eko Ismadi.

Pada saat itu hari Kamis atau Malam Jum’at tanggal 30 September 1965 menurut kepercayaan muslim waktu sperti ini adalah waktu untuk melaksanakan Sunah Rosul. Sepertinya pada hari itu tidak berlaku bagi Presiden Soekarno, Jenderal AH Nasution, Jenderal Soeharto, Eks Letkol Untung, Eks Lettu Dul Arief, Dan DN Aidit serta Anggota PKI lainya. Justru pada tanggal tersebut menjadi hari yang istimewa dan sibuk luar biasa.
PKI dalam memanfaat personel TNi hanya berpanbgkat rendah, dengan tujuan agar mudah dikendalikan dan tanpa berpikir panjang. Karena secara psiokologis kemampuan dan kepribadian didalam kehidupan Prajurit sudah tertata dan terukur demikian. Lain halnya bila seorang Perwira tidak pandang dari mana sumber pendidikan dan asalnya namun bila sudah menduduki perwira akan memiliki kemampuan daya analisis dan pertimabnagan cara bertindak. Dan itulah cara kerja komunisme dan PKI di Indonesia.
Akibatnya dapat kita lihat bersama, karena tidak ada kesepadan lingkup tugas dan wawasan organisasi serta integrasi maka justru malapetaka yang didapat. Terlebih bila mana sebuah tindakan yang tidak direstui oatau diridho’I oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua hanya meninggalkan sebuah penyesalan. Semoga peristiwa ini jangan terulang lagi. Dan menjadi pertimbangan pemerintahan Jokowi dan sikap perilaku generasi muda Indonesia sekarang tetap berpegang tegung pada Pancasila dan Undang Undang dasar 1945.

MALAM MENJELANG
Pukul 22.00 tanggal 30 September 1965 Resimen Cakrabirawa selesai melaksanakan apel kesiapsiagaan di Markasnya di Tanah Abang II. Setelah anggota militer yang lain masuk Barak untuk beristirahat malam, Eks Lettu Dul Arief sibuk mengumpulkan Pasukannya Yang tergabunga dalan Pasukan Pasopati. Setelah diperiksa personel sudah sesuai dengan yang dipersiapkan serta persenjataan dan perlengkapannya maka Eks Lettu Dul Arief menuju ke kendaraan yang akan membawa dirinya berserta pasukan Pasopati. Dirasa semua sudah cukup dan sesuai rencana maka Eks Lettu Dul Arief dan anggota Pasukan Pasopati naik kendaraan dan berangkat menuju Lubang Buaya.
Tiba Idi Lubang Buaya Eks Lettu Dul Arief beserta pasukannya bergabung dengan yang lebih dulu sudah datang, yakni dari Yon 454, Yon 530, Brigif 1 Kodam Jaya, PGT dari P3 Halim Perdana Kusuma, Dan Sukarelawan serta Sukarelawti yang sudah dilatih juga dari Gerwani. Kemudian pada pukul 02.00 1 Oktober 1965 Oleh Eks Letkol Untung pasukan yang tergabung Pasukan Pasopati diperintahkan kumpul, selanjutnya komando diserahkan kepada Eks Lettu Dul Arief sebagai Komandan operasi. Eks Lettu Dul Arief sangat mengerti tugasnya maka tanpa diperintah lebih lanjut langsung menerima Komando dan mengadakan Briefing akhir serta mengadakan pengecekan sebagai persiapan akhir dalam rangka operasi penculikan.

ISI UTAMA BRIEFING TERSEBUT ADALAH :

1. BAHWA JENDERAL YANG AKAN KITA AMANKAN ITU AKAN MENGADAKAN KUDETA DAN PEREBUTAN KEKUASAAN KEPADA PRESIDEN SOEKARNO.
2. MEREKA HARUS DIAMBIL HIDUP ATAU MATI.
3. DALAM KEGIATAN INI GUNAKAN TAKTIK BAHWA MEREKA DIPERINTAH MENGHADAP PRESIDEN SOEKARNO.

Setelah brifeng dilakukan dan memasuki tahap akhir Eks Lettu Dul Arief memberi kesempatan bertanya dan mengecek kesiapan personelnya. Ternyata didapati penunjuk jalan menuju rumah yang menujuk kerumah Jenderal Suprapto sebagai sasaran. Akhirnya setelah briefing selesai Eks Lettu Dul Arief mengantarkan Eks Serda Sulaiman yang menjadi komandan penculik Jenderal Suprapto belum mengetahui rumah Jenderal Suprapto dan Eks Kopda Dikin yang akan menuju Rumah Jenderal DI Panjaitan, dengan mengendari Jeep Toyota Nopol 205, setelah paham tempat dan routenya barulah Eks Lettu Dul Arief kembali ke Lubang Buaya. Untuk mengendalikan operasi penculikan yang dilakukan Pasopati.

KEGIATAN PENCULIKAN
Dilubang Buaya tanggal 1 OKTOBER 1965 Dini Hari.
Pada pukul 02. 45 semua pasukan Pasopati sudah siap dikendaraan untuk diberngkatkan. Sesuai renca sebanyak 7 Tim pasukan penculik Jenderal yang kesmuanya adalah Jenderal Angkatan Darat.

1. Pada pukul 03.00 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal AH Nasution diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan kekuatan 100 Orang. Menggunakan 3 buah Truck,dari AURI, 2 Buah Web dar Resimen Cakrabirawa.

2. Pada pukul 03.30 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal Achmad Yani diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan kekuatan 100 Orang atau setara dengan kekuatan 11/2 Kompi. Menggunakan 2 buah Truck,dari AURI, 2 Buah Bus dari Resimen Cakrabirawa.

3. Pada pukul 03.00 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal Suprapto diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan kekuatan 30 Orang. Menggunakan 1 buah Truck,dari AURI, dari Resimen Cakrabirawa.

4. Pada pukul 03.15 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal S. Parman diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan kekuatan 70 Orang. Menggunakan 2 buah Truck Preman Nopol B 889 dan Nopo B 1840 R. sampai ditempat sasaran pukul 04.00

5. Pada pukul 03.15 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal Sutoyo S diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan menggunakan 1 buah Truck preman dengan Nopol 645, yang diemudikan oleh Koda Gandi.

6. Pada pukul 03.00 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal Haryono MT, diberangkatkan dari Lubang Buaya dengan menggunakan 1 buah Truck dari Resimen Cakrabirawa.

7. Pada pukul 03.30 1 Oktober 1965 pasukan yang akan menculik Jenderal DI Panjaitan dengan menggunakan 1 buah preman dengan nama Tirtayasa, 1 Bus Ikarus, dan 1 Bus dari BPD.

Di Jakarta.
1. Di Rumah Jenderal Haryono MT. Pukul 04.00 diperikan dating pasukan Cakrabira. Setelah menempatkan pasukan untuk steling maka Serma Bungkus mengetuk Pintu dan menanyakan kepada Ibu Haryono yang kebetulan beliau sendiri yang membuka pintu. Kemudian Ibu Haryono menanyakan maksud kedatangannya dan dijawa oleh serma bungkus bahwa Jenderal Haryono diminta menghadap Presiden sekarang juga.
Ibu Haryono MT laporan kepada Beliau kalau ada tamu dari pasukan Cakrabirawa yang menjemput dan membawanya menghadap Presiden sekarang juga. Jenderal Haryono berpesan kepada istrinya kalau waktu sudah malam besuk saja menghadapnya,”jam 08.00 saya siap menghadap.”. Karena Jenderal Haryono MT curiga denga kedatangan pasukan Cakrabirawa maka beliau tidak mau keluar kamar. Setelah itu kembali Ibu Haryono menyampaikan kepada Serma Bungkus tentang pesan suaminya, namun Serma Bungkus justru ngotot dan memaksa masuk ruang tamu dan berusaha masuk kamar tidur, namun keburu pintu kama rdapat dikunci.

Melihat pintu di kunci Serma Bungkus berteriak,”Menyerahlah Jenderal sekarang juga.!!!” sambil menggedor pintu Kamar tidur. Serma Bungkus kembali berteriak,”Keluarlah Jenderal!!!” Karena tidak ada Jawaban maka Serma Bungkun memerintahkan anggota Cakrabirawa yang lain untuk menembak Pintu Kamar Tidur Jenderal Haryono MT. Pertam yang melakukan penembakan adalah Eks Sersan Arlian dengan senjata Sten, berikutnya Eks Pratu Subakir juga dengan Sten, disusul renterentetean dan tembakan Pistol oleh Eks Serma Bungkus. Terus menerus sambil berteriak menuruh keluar JenderalHaryono MT.

Rupanya tembakan tersebut tidak membuat Jenderal Haryono MT gentar tetap bertahan di Kamar Tidurnya. Tetapi anak-anaknya semua tiarap untuk melindung dan menghindarkan diri dari lintasan peluru. Karena dirasa terlalu lama oleh Eks Serma Bungkus maka tembakan kembali dilancarkan dengan rentetan secara bersamaan sasaran terpusat pada kedudukan grendel dan kunci, dengan demikian pintu dapat terbuka dan pasukan Cakrabirawa dapat memasuki kamar tidur Jenderal Haryono MT.

Setelah Pintu terbuka maka Eks Pratu Wagirem, Eks Pratu Kamis, dan Eks Pratu Subakir mendapati lampu kamar mati. Anggota Cakrabirawa lainnya berusaha membakar kertas Koran untuk mendapatkan penerangan.

Jenderal MT Haryono yang bersembunyi dibalik lemari berusaha melarikan diri dengan merobohkan satu anggota Cakrabirawa dan merebut senjatanya ternyata tidak berhasil. Usaha yang dilakukan oleh Jenderal Haryono MTI dijawab oleh Anggota Cakrabirawa dengan rentetan tembakan yang menembus dada Jenderal Haryono MT.

Kemudian Jenderal Haryono MT jatuh tersungkur bersimbah darah tidak berdaya. Justru dalam kondisi tidak berdaya tersebut Anggota Cakrabirawa menyeret tubuh Jenderal Haryono MT yang bersimbah darah dari kamar tidur hingga dihalaman dimana kendaraan yang mengantar anggota Cakrabirawa menunggu.

Setelah sampai dikendaraan tubuh Jenderal Haryono MTI dilempar seperti melemparkan barang dagangan yang akan dibawa kepasar.

Menyaksikan Ayahnya diperlakuakn seperti oleh Anggota Cakrabirawa seperti itu salah seorang anaknya ada yang mengikuti hingga ke halaman rumah, namun akhirnya anak Jenderal Haryono MT yang mengikuti tersebut dipopor hingga pingsan. Jenderal Haryono MT dibawa ke Lubang Buaya hanya mengenakan pakaian pendek dan kaos singlet. SUNGGUH PERBUATAN YANG TIDAK BERADAB DAN DILUAR PERI KEMANUSIAAN yang tidak mencerminkan sebagai manusia yang bertakwa kepada TUhan.

2. Di Rumah Jenderal S Parman. Cakrabirawa tiba di kediaman Jenderal S Parman 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Karena pintu pagar terkunci maka pasukan penculikan melompat memasukan pekaranan. Karena pasukan berseragam lengkap maka terdengar gaduh oleh suara derap sepatu laras disekitar rumah. Jenderal S Parman terbangun mengira ada perampokan dirumah sebelahnya. Jenderal S Parman juga membangunkan Bu Parman, kemudian mengok keluar rumah ternyata pasukan Cakrabirawa sudah didepan pintu. Ketika itu pintu diketuk Jenderal S Parman meanyakan siapa diluar dan dijawab oleh Eks Serma,”Cakra Jenderal.”

Sudah terbiasa dengan perintah mendadak maka Jenderal S Parman tidak menaruh curiga sama sekali terhadap kedatangan Cakrabirawa tersebut. Jenderal S parman membuka Pintu dan sekali lagi menanyakan,”ada apa.” Eks Serma Satar sebagai Komandan Pasukan penculikan menjawab,”Bapak diperintah menghadap Presiden Soekarno sekarang juga.” kemudian Eks Serma Satar juga meyakinkan kepada Jenderal S Parman mengatakan,”Bahwa situasi Negara dalam keadaan genting.” Jenderal S Parman kembali bertanya,”Genting!.” Dua kali bertanya oleh Eks Serma Satar dengan jawaban yang sama pula.

Ketika Jenderal S Parman memasuki ruangan Tamu Beberapa anggota Cakrabirawa mengikuti kegiatan Jenderal S Parman dengan sejata siaga dan bayonet terhunus. Ibu Parman merasa Curiga dan tidak senang melihat perilaku pasukan Cakrabirawa tersebut meminta agar menunggu diluar saja. Karena menaruh curiga bertanyalah kepada salah satu anggota Cakrabirawa tersebut tentang surat perintah dan NRP segala. Karena merasa dicurgia pertanyaan tersebut dijawab dengan todongan senjata denga bayonet terhunus kepada Ibu S Parman.

Kemanapun Jenderal S Parman bergerak selalu dikuti dan diawasi oleh pasukan Cakrabirawa tersebut. Setelah berpakain lengkap PDU IV beliau dibawa keluar oleh Cakrabirawa namun sebelum keluar rumah sempat menyuruh ibu S Parman agar menelpon Jenderal Achmad Yani untuk memberitahu peristiwa yang terjadi. Perintah itu dijawab dengan diputuskan sambungan dan kabel telepon rumah oleh anggota Cakrabirawa yang bernama Eks Kopda Chairuman.
Setelah Jenderal S Parman dimasukan ke dalam Truk dan meninggalkan rumahnya tidak lama datang Ibu Haryono MT Karena kediaman Jenderal Haryono MT tidak jauh, dalam pertemuan tersebut menceritakan bahwa suaminya telah ditembak dan diculik oleh Cakrabirawa dan dibawa kemana tidak tahu. .

3. Di Rumah Jenderal Suprapto. Cakrabirawa tiba di kediman Jenderal Suprapto pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Eks Pratu Buang yang mendapat tugas untuk memasuki rumah mengetuk pintu. Sebelum pintu diketuk Jenderal Suprapto dan Ibu telah bangun karena ada lolongan anjing tetangga. Kemudian Jenderal Suprapto bertanya siapa yang ketuk pintu, dijawab oleh,”Dari Cakrabirawa pak!” Eks Serda Sulaiman yang menjadi Komandan penculikan menghadap Jenderal Suprato dan mengatakan,”Bapak diperintahkan menghadap Presiden Soekarno sekarang juga.”

Beliau menyetujui untuk pergi namun minta untuk dapat berganti pakian namun permintaan beliau tidak dipenuhi oleh Cakrabirawa. Dengan berpakain piyama beliau digiring keluar rumah. Dengan todongan senjata dan bayonet terhunus siap menembak dan membunuh siapa saja, salah satu anggota Cakrabirawa memaksa Ibu Suprato masuk kamar dan jangan bersuara gaduh. Dilihat oleh Ibu Suprapto anggota Cakrabirawa memutuskan sembungan kebel telepon.
Dari balik Jendela Ibu Suprapto melihat banyak pasukan Cakrabirawa berbaret merah dengan raut muka bengis. Baru setelah kendaraan dan Cakrabirawa pergi Ibu Suprapto tersadar akan apa yang terjadi terhadap diri Pak Prapto suaminya. Kemuadian beliau menulis pesan kepada bapak S Parman namun pengiriman surat diurungkan karena keburu datang ibu Haryono Mt menceritakan apa yang terjadi dirumahnya dan di rumah bapak S Parman.

4. Di Rumah Jenderal Sutoyo S. Cakrabirawa tiba di kediaman Jenderal Sutoyo S. pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Pasukan Cakrabirawa mengetuk pintu, Jenderal Sutoyo S terbangun dan bertanya Jenderal Sutoyo S dari dalam rumahnya, salah satu anggota Cakrabirawa menjawab,”GONDO DARI MALANG PAK.” Sementara terjadi dialog anggota Cakrabirawa lain telah menyusup kedalam rumah melalui pintu garasi samping. Masuk ke belakang dan dengan menodongkan senjata dengan bayonet terhunus memaksa dan menyekapnya minta kepada pembantu untuk menyerahkan kunci ruang tengah.
Kemudian Jenderal Sutoyo S diapit oleh dua Prajurit Cakrabirawa yakni Eks Serda Sudibyo dan Eks Pratu Sumadi, kemudian dibawa keluar rumah menuju kendaraan. Namun Pasukan Cakrabirawa yang berhasil masuk ruang tengah langsung menembakankan senjatanya dengan membabi buta semua perabot rumah tangga di buat bernatakan dilantai, tidak hanya itu telepon rumahpun dibuatnya hancur berkeping-keping. Mendengar adanya tembakan yang ramai dalam rumah membuat Ibu Sutoyo S bangun dari tidurnya, keluar kamar namun hanya mendapati Bapak Sutoyo S digiring oleh Cakrabirawa masuk Mobil dan hilang tidak berbekas.
Salah satu anggota Cakrabirawa melihat Ibu Sutoyo menggunakan telepon kemudian anggota tersebut masuk lagi dan merebut telpon dari tangan Bu Sutoyo dan merusaknya. Dengan rasa ketakutan yang mencekam Ibu Sutoyo S pergi ke rumah Brigjen Suhardi Menteri/Jaksa Agung. bersama anak anaknya. Oleh Bapak Suhardio dinasehatkan untuk pulang kerumah, sedangkan Bapak Soehardio pergi kerumah Bapak S Parman ternyata mendapati peristiwa yang sama.

5. Di Rumah Jenderal DI Panjaitan. Tiba dikediaman Jenderal DI Panjaitan pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Pasukan Cakrabirawa yang tergabung dalam penculikan di kediaman Jenderal DI Panjaitan memasuki pekarangan rumah dengan meloncati pagar halaman. Dari luar rumah pasukan Cakrabirawa yang bermaksud menculik Jenderal DI Panjaitan menembakan senjata kearah rumah dengan membabi buta. Akibatnya dirumah itu banyak kaca jendela yang pecah dan perabotan bernatakan. Kemudian Pasukan itu bergerak maju mendekati pintu rumah dan menembaki pintu hingga jebol dan dapat dibuka.

Pasukan Cakrabirawapun bisa masuk rumah dan berteriak teriak menyebut nama Jenderal DI Panjaitan untuk turun. Karena lama tidak juga mendapat anggapan kemudian memuntahkan peluru lagi dibeberapa kamar yang bagian bawah. Namun tidak keluar juga akhirnya mengeluarkan ancaman,”Kalau Jenderal tidak keluarga maka seisi rumah ini akan saya bunuh!” Karena rumah itu tingkat maka ada rasa kawatir dar pasukan Cakrabirawa untuk naik keatas. Melihat ada pintu kabar terbuka Cakrabirawa menemukan tiga orang yang tiarap dan ketakutan tidak berniat menyakiti. Tetapi keponakan Jenderal DI panjaitan yang lain mengambil pistol dan berniat melindungi diri dihabisi dua sekaligus oleh Cakrabirawa.
Kembali Cakrabirawa yaitu Eks serda Sukardjo mengeluarkan ancamannya” ,”Kalau Jenderal tidak keluar maka seisi rumah ini akan saya bunuh!” mendapati pembantu rumah, Eks Pratu Herwanto dan Serda Asmuni yang sehabis mengabisi kedua keponakan Jenderal Di Panjaitan langsung menggiring Pembantu untuk menunjukkan kediaman kamar tidur Jenderal Di Panjaitan.

Tiba dilantai atas ancaman semakin jelas diterima oleh Ibu DI Panjaitan. Kemudian atas pertimbangan keselamatan keluarga anak dan istri maka IBU DI panjaitan meminta kepada Bapak Di Panjaitan untuk menyerahkan diri kepada Cakrabirawa. Namun sebelumnya Jenderal DI Panjaitan sempat bertanya,”siapa kamu?” Dijawab oleh Eks Serda Sukidjan, ”Cakrabirawa Jendral!” dan Eks Sersan Sukidjanpun menyampaikan dengan setengah membentak,”Jenderal diperintah menghadap Presiden Soekarno Sekarang juga.”

Dengan berpakaian lengkap PDU IV keluar kamar tidur, pakaian yang disenangi oleh Presiden Soekarno yang suka tampil kemiliter-militeran padahal bukan militer. Setelah sampai diruang tengah langsung diapit oleh Eks Serda Sukidjan dan Kopda Dikin, dibawa keluar rumah. Dihalaman rumah Jenderal DI panjaitan berdiam diri dan mengepalkan tangan untuk berdoa dan menyerahkan dirinya kepada TUHAN. Melihat sikap Jenderal DI panjaitan yang demikian ini timbul rasa sebel dari pasukan Cakrabirawa yang lainnya, saat berdoa itulah Jenderal DI Panjaitan dipukul kepalanya dengan popor senjata, dan jatuh tersungkur. Tidak puas sampai disitu PERBUATAN BIADAB ITU DILAKUKAN LAGI DENGAN MENEMBAKI TUBUH JENDRAL DI PANJAITAN YANG SUDAH TIDAK BERDAYA ITU DENGAN TEMBAKAN RENTETAN. Tembakan itu mengenai kepala dan cairan otak dikepala beliau hancur berantakan dan tercecer dihalaman rumahnya.
Melihat sasarannya sudah tidak berdaya kemudian PASUKAN CAKRABIRAWA MENYERET TUBUH JENDERAL DI PANJAITAN YANG TIDAK BERDAYA ITU DAN MELEMPARKANNYA KELUAR PAGAR SEPERTI MELEMPARKAN BINATANG BURUAN YANG HABIS DITEMBAK, PERLAKUAN ITU TIDAK BERHENTI DSITU TUBUH JENDERAL DI PANJAITAN JUGA DILEMPARKAN KEDALAM KENDARAAN. Sungguh perbuatan yang tidak manusiawi dan diluar perikemanusiaan.

6. Di Rumah Jenderal Achmad Yani. Tiba dikediaman Jenderal Achmad Yani pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Dengan sikap yang tenang Pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Pelda Mukidjan itu dengan leluasa masuk kediaman Jenderal Achman Yani. Karena Cakrabirawa pada masa itu terkenal sebagai pasukan elit dan terhormat serta loyal kepada Bung Karno. Ternyata dugaan pasukan pengamanan kediaman Jenderal Achmad Yani tersebut keliru, karena setelah sampai di ruang penjagaan Cakrabirawa langsung menodongkan pistol dan senjatanya.

Setelah berhasil masuk rumah dan mendapati putera bungsu Jenderal Achmad Yani yang terbangun karena mendengar ada keributan disekitar luar rumah. Usianya kurang lebih 7 tahun yang berusaha mencari Ibunya yang sedang melaksankan tirakatan, sehingga Bu yani tidak ada ditempat. Salah satu anggota Cakrabirawa menyuruh puteranya Jenderal Achmad Yani untuk membangunkan ayahnya. Setelah diketuk pintu tidak dibuka dan Jenderal Achmad Yani juga tidak bangun.

Tetapi justru putera Jenderal Achmad Yani yang lain yang terbangun dan berhasil membangunkan Jenderal Achmad Yani. Kemudian beliau keluar kamar tidur dengan berpakaian piyama dan menemui anggota Cakrabirawa. Anggota Cakrabirawa menyampaikan bahwa,”Pak Yani diminta menghadap presiden sekarang.” Kemudian Jenderal Achmad Yani menjawab,”nanti dulu saya mandi dulu.” Dengan tegas anggota Cakrabirawa menjawab,”Tidak usah sekarang saja.!!” Mendengar jawaban itu Jenderal Achmad Yani tersinggung dan memukul anggota Cakrabirawa yang menghalangi Beliau kembali dalam kamar. Anggota Cakrabirawa yang dipukul jatuh pingsan, melihat hal itu kawatir sasaran penculikan melarikan diri dan tugasnya gagal, maka dengan spontan Eks Serda Raswad langsung memerintahkan kepada Serda Gijadi untuk menembak Jenderal Achmad Yani dengan senjata Thomson. Sebanyak 7 buah butir peluru mengenai menembus tubuh Jenderal Achmad Yani.
Melihat korban tidak berdaya anggota Cakrabirawa yang bernama Eks Praka Wagimin langsung PASUKAN CAKRABIRAWA TERSEBUT MENYERET TUBUH JENDERAL ACHMAD YANI TIDAK BERDAYA ITU KELUAR RUMAH DAN MELINTASI BEBATUAN YANG ADA DUHALAMAN RUMAH, DAN MELEMPARKANNYA KELUAR PAGAR SEPERTI MELEMPARKAN BINATANG BURUAN YANG HABIS DITEMBAK, PERLAKUAN ITU TIDAK BERHENTI DSITU TUBUH JENDERAL ACHMAD YANI JUGA DILEMPARKAN KEDALAM KENDARAAN. Kemudian kendaraan tersebut menuju ke Lubang Buaya.

7. Di Rumah Jenderal AH NASUTION. Tiba dikediaman Jenderal AH Nasution pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965. Pasukan Cakrabirawa masuk kerumah setelah menawan beberapa pasukan penjaga dan pengawal. Peristiwa di rumah Yang Mulia Menko HANKAM/KASAB didahului oleh tindakan pengaman pasukan pengawal yang betugas di rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena oleh pemuda rakyat yang bersenjata. Pasukan pengawan Wakil Perdana Menteri ini mengadakan perlawanan maka gugurlah seorang anggota Polisi berpangkat Agen I bernama Karel Sasuit Tubun. Peristiwa ini berdasarkan pelaku yang berhasil ditangkap dan di interogasi oleh TNI pada masa itu.
Cakrabirawa yang ditugaskan menculik Jenderal AH nasution merupakan kekuatan terbesar yakni 130 orang atau 1 Kompi lebih. Setelah menduduki Rumah jaga dan ruang istirahat Ajudan Cakrabirawa berteriak mencari mJenderal Nasution,”Mana Nasution ?! Mana Nasution ?! ?” sambil membentak dan menodongkan senjata dengan bayonet terhunus. Mendengar ada keributan maka terbangunlah Ajudan Jenderal AH Nasution yaitu Kapten Czi Pierre Andreas Tendean dan Ajun Komisaris Polisi Hamdan. Dengan lantang menjawab,”Saya Nasution! Ada apa?!” Kemudiandengan cekatan maka Kapten Pierre Tendean disuruh tiarap dilantai, dan membawanya masuk Mobil karena dikira adalah Jenderal AH Nasution.

Regu lain dari Cakrabirawa yang dating ke rumah Jenderal Nasution penasaran dan membuka rumah bagian belakang, dan dapat masuk ke ruang kerja serta ruang makan Jenderal AH Nasution. Ibu Nasution yang tertarik dengan suara gaduh di dalam rumahnya langsung membuka pintu kamar tidur bermaksud keluar. Baru membuka langsung ditodong oleh Anggota Cakrabirawa yang sudah menghadang di depan pintu Kamar tidur. Sempat berebut dan saling dorong dengan antara Pasukan Cakrabirawa dan Bu Nasution dibantu oleh Pak Nasution.

Setelah Pintu kamar berhasil ditutup, Cakrabirawa menembaki pintu hingga Jebol, Ibu Nasution demi melindungi suaminya. Pengasuhnya yang berada diruang itu juga berlindung sambil menggendong ADE IRMA SURYANI NASUTION. Sekalipun pintu diberondong peluru, namun sykurlah Ibu Nas masih mendapat perlindungan dari Tuhan yang Maha Kuasa tidak satupun peluru yang mengenai tubuhnya. Namun naas bagi Adek yang digendong oleh pengasuhnya ditembus oleh 3 butir peluru yang mengenai punggunya dan 2 buah mengani tangannnya, yakni tembakan dari Eks Kopda Haryono anggota Cakrabirawa.

Ditengah tembakan Jenderal
Nasution masih berkehendak untuk keluar menghadapi Cakrabirawa. Keinginan Jenderal Nasution dicegah oleh Ibu Nas,”Jangan keluar Cakrabirawa ingin membunuh Kamu!.” Setelah berkata demikian pintu didobrak dan beberpa anggota Cakrabirawa dapat masuk kamar, namun Jenderal Nasution dapat melarikan diri keluar kamar tidur dan melompat keluar rumah lewat pagar samping. Bersembunyi di rumah dan kantor keduataan Besar Iraq.
Setelah gagal mengejar Jenderal

AH Nasution maka pasukan penculik Jenderal AH Nasution kembali ke Lubang Buaya dengan membawa Kapten Czi Pierre Tendean sebagai gantinya.

Di Jogyakarta.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, Setelah terjadinya gerakan G 30 S/PKI di Jakarta terjadi pula di Jogyakarta yaitu menimpa diri Berigjen Katamso dan Kolonel Sugiono Komandan dan Kepala Staf Korem 072 Jogyakarta. Pagi itu seperti biasa beliau Komandan Korem O72 Kolonel Katamso masuk kantor sedangkan Kasrem Letkol Sugiono bertugas keluar daerah ke Salatiga.

Ketika masyarakat Jogyakarta sedang dibingungkan oleh ketidak mengertian apa yang terjadi, dikejutkan dengan adanya siaran RRI Jogyakarta sore hari masih tanggal 1 Oktober 1965 bahwa Jogyakarta berada dalam kekuasaan Gerakan G 30 S/PKI. Diperkirakan setelah pengumuman tersebut Komandan Korem 072 Jogyakarta langsung diculik pukul 15.30 dirumahnya. Eks Mayor Mulyono jabatan Kasi V Korem, mengambil alih Komando Korem 072 Jogyakarta. Kemudian Kolonel Katamso dititipkan di Yon L Kentungan.

Tepat pukul 16.00 Kepala Staf Korem 072 Jogyakarta Letkol Sugiono kembali dari dinas luar tidak kembali ke rumah namun kembali ke Kantor. Setibanya di kantor bermaksud ingin mengumpulkan staf untuk briefing dalam rangka menghadapi situasi yang yang berkembang dan adanya gerakan G 30 S/PKI di Jakarta.

- ”Eh pada kemana ini ?” selorohnya ketika masuk Kantor
- ”Kep, panggilan Mayor Mulyono dan kumpulkan semua Perwira yang ada ! katakan ada briefing.” perintahnya kepada Kapten Sudibyo
- Ketika Kapten Sudibyo dan Perwira lain sedang persiapan untuk Briefing, tiba tiba muncul Peltu Sumardi dan enam anak buahnya masuk ruangan dan menodongkan Pistolnya,”Jangan banyak Tanya ikuti perintah saya.” kemudian dibawah todongan Pistol Letkol Sugiono menuruti dan mengikuti perintah mereka.
- Menyaksikan itu Kapten Kusdibyo lari bersembunyi melihat peristiwa itu dari kejauhan. Setelah suasana tenang lari ke kantor Mayor Mulyono dan memberitahu kalau ada peristiwa penculikan. Mayor Mulyono mengatakan dengan senyum kemenangan,”Saya mengambil pimpinan Korem.” ,
”Kus, siapkan makan untuk pasukan yang bertugas!” Mayor Mulyono memerintahkan Kapten Kusdibyo
”Siap ….. ! jawaban Kapten Kusdibyo.

Mendapatkan dua tawanan yang tak lain adalah atasannya maka Danyon menanyakan kepada Mayor Mulyono. Kemudian Dijawab oleh Mayor Mulyono itu hanya sementara saja nanti akan datang utusan untuk mengambil tawanan tersebut. Ternyata benar tidak lama ada utusan untuk mengambil Komandan Korem Dan Kepala Staf yang ditawan PKI tersebut.

Diluar pengetahuan Danyon, pada pukul 24.00 Eks Peltu Sumardi membangun Eks Pelda Kamil Perwira Penyidik Yon L dan mengatakan bahwa Kolonel Katamso dan Lerkol Sugiono akan dibunuh. Kamil sempat bertanya,”Salahnya apa beliau ini sampai dibunuh!”. ”Wis ora usah kokehan takon! Pokoke Jam iki kudu wis dipateni! Atas perintah Mayor Mulyono harus dilaksanakan!. Tetapi pembunuhannya jangan sampai bersuara.! Sudah nggak usah banyak Tanya! Pokoknya sekarang juga segera dibunuh, ini perintah Mayor Mulyono ” lanjutnya.

Ternyata Pelda Sumardi telah menyiapkan organisasi pembunuhan atau tim algojo yaitu 1 Regu Dari Kompi Bantuan Peleton Mortir Yon L sebanyak delapan orang dibawah pimpinan Eks Sertu Alip Toyo. Perintahnya Eks Pelda Kamil,”Tunggu dalam jarak sejauh 15 Meter, setelah turun dari Kendaraan kemudian pukul dengan KUNCI MORTIR !” Tidak berapa lama datang kendaraan yang membawa Letnan Kolonel Sugiono dikemudikan Eks Praka Sudarto. Setelah Turun dari Kendaraan masih berpakaian dinas dipukul dengan Kunci Mortir. Letkol Sugiono jatuh tersungkur dan dimasukan keliang kubur yang telah disiapkan.

Kemudian datang kendaraan kedua yang membawa Kolonel Katamso, pukulan menimpa bagian kepala belakang. Kolonel Katamso jatuh tersungkur menggeletak di tanah, sebelum meninggal belai masih sempat mengucapkan sebuah kalaimat,”Dik Wisnu saya masih setia pada Bung Karno.”: Karena melihat Kolonel Katamso masih hidup, Eks Pelda Kamil kembali memerintahkan,”Pukul sampai mati!” Karena dirasa lubang kubur kurang besar untuk berdua maka Eks pelda Alib kembali memerintahkan Eks Serda Alip Toyo, Praka Darmo, Pratu Kalimin, dan Pratu Darono untuk menggali lubang agar lebih besar.

Pertama yang di masukan ke dalam Lubang Kubur adalah Letkol Sugiono. Beberapa saat kemudian dimasukan jenazah Kolonel Katamso, ketika mau dimasukan masih terdengar dengkuran Letkol Sugiono didalam liang lahat, namun jenazah Katamso tetap dimasukan, hanya saja untuk ,menghabisi nyawa Lekol Sugiono maka Eks Serda Alip Toyo melemparkan beberapa batu besar ketubuh Letkol Sugiono hingga tidak terdengar dengkuran lagi.

Pada Kesekan harinya tanggal 2 Oktober 1965 pukul 09.00 Mayor Wisnu melaporkan kepada Mayor Mulyono, bahwa Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiono tidak ada ditempatnya. Mendengar Laporan tersebut Mayor Mulyono kaget dan pucat wajahnya serta penuh kebingungan seperti orang linglung dengan mata memerah sebagai tanda kecemasan.

KEADILAN TUHAN
JENDERAL AH NASUTION SAKSI SEJARAH. Oleh Campur Tangan Tuhan maka beliau lolos dari peristiwa maut yang mengancam kehidupannya. Inilah yang menunjukkan identitas sebenarnya antara Soekarno dan Nasution. Ketika G 3o S/PKI terjadi Soekarno pergi ke Lubang Buaya di Pangkalan Halim Perdana Kusuma, bergabung dengan PKI, sedangkan Nasution bergabung TNI di Markas Kostrad Jalan Merdeka Timur Jakarta Pusat.

Kalau saja Jenderal Nasution tidak lolos dalam usaha penculikan itu maka cerita sejarah tentang G 30 S/PKI tidak akan seperti sekarang ini. Dan belum tentu juga Pancasila Masih ada?, Bendera Indonesia masih Merah putih?, Dan Indonesia seperti yang kita nikmati seperti sekarang ini. Masih ada Jenderal Nasution saja Presiden Soekarno masih berkelit tidak mengakui PKI sebagai pemberontakan dan PKI sendiri tidak mengakui kesalahan apa lagi Jnederal Nasution turut jadi koraban. Tidak terbayangkan oleh saya sebagai generasi muda Indonesia.

ADE IRMA DARAH KESUCIAN. Sebagai Perisai Ayahanda dan Dharma bakti bagi pertiwi melalui darah yang tertumpah. Anak kecil yang tidak berdosa inilah yang menjadi bukti akan ketulusan hati manusia yang menyayat hati. Masihkah kita ada perasaan dan hati nurani. Bila seandainya itu menimpa kita, keluarga kita, sanak saudara kita, dan komponen bangsa ini. Sudilah kiranya dengan melihat darah yang tercurah dari seorang anak kecil yang menjadi bagian dari sebuah peristiwa gerkan yang seharusnya belum layak untuk ditanggungnya.

Bagaimana perasaan kita ? apakah kita akan turut mengingkari sejarah sebagai yang dilakukan Soekarno kepada bangsa Indonesia. Sebagai berikut ini :

”Biasa itu jatuh Korban dalam gerakan Revolusi sebagai riak-riak kecil bagi kehidupan bangsa Indonesia.”

SUKITMAN. Tuhan berkerja untuk mendatang kebaikan bagi bangsa Indonesia seorang Agen 1 Polisi atau Baradha. Tanpa Polisi Sukitman mungkin perdebatan panjang tentang siapa dibalik Gerakan 30 September yang dipimpin Eks Letkol Untung dan Aidit yang terjadi pada tahun 1965, akan menjadi perdebatan panjang yang tiada akhir. Sudah nyata didepan mata dan didukung fakta serta data saja masih berani bereklit dan menuduh Soeharto sebagai dalannya. Dan Soekarnopun ikut meramaikan suasana dengan mengatakan PKI berjasa terhadap Indonesia.

Lubang Buaya tempat dikuburkannya Pahlawan Revolusi tidak segera ditemukan. Ini terjadi pada Pahlawan Revolusi yang ada di Jogyakart yang dibunuh oleh PKI di Jogya 21 hari kemudian baru diketahui dan dalam kondisi yang mengenaskan.

Mungkin orang bertanya apa sih jasanya seorang Polisi berpangkat Agen II bagi tegak kokonya NKRI yang berdasarkan Pancasila Dan Undang Undang Dasar 1945? Jasanya kecil dan manfaatnya cukup besar dan signifikan yaitu :
1. Sukirman mendengar teriakan beberapa anggota Cakrabirawa yang bersuara lantang mengatakan,”Yani, Wis dipateni. Yani sudah dibunuh!, Yani yang dimaksud adalah Jenderal Achmad Yani”.
2. Sukirman juga mendapat penjelasan tentang pembunuhan dalam gerakan G 30 S/PKI,”Pembunuhan ini atas perintah Presiden. Karena yang kita tangkap itu orang-orang yang menamakan dirinya Dewan Jenderal, yang akan membunuh Presiden pada Hari Ulang Tahun ABRI 5 Oktober 1965.”
3. Sekitar pukul 06.30 tanggal 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya Sukitman mendengar teriakan,”ganyang Kabir, ….. Ganyang Kabir.”

PENUTUP
Demikianlah tulisan ini dibuat bagi kita bangsa Indonesia yang mencintai Pancasila Dan undang Undang Dasar 1945. Ulasan ini berdasarkan fakta dan dokumen sejarah yang pernah terjadi bukan sebuah peristiwa fiktif atau fiksi. Tujuan penulisan adalah untuk menyampaikan manfaat dan pentingnya guna sekarang bagi kehidupan bangsa Indonesia. Agar kehidupan bangsa tepat utuh dan berlanjut serta lestari. NKRI tetap tegak dan kokoh berdasarkan Pancasila Dan undang undang Dasar 1945.

Ulasan sejarah ini juga tidak memiliki maksud untuk menciptkan kegaduhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi mengajak semua bangsa Indonesia agar untuk belajar dari peristiwa sejarah agar berguna bagi pentingan Ketahanan Nasional dan keamanan Nasional. Menghindari terjadinya rotasi sejarah dan sebaliknya menciptakan dinamika sejarah bagi kehidupan bangsa yang lain baik.

Agar bangsa Indonesia dapat memahami sikap dan perilaku seseorang yang memliki krelasi dengan komunis yaitu sebagai penggemar. sebagai simpatisan, atau sebagai penerusnya. Karena komunisme bagi bangsa Indonesia adalah sebuah masalah sebab Pancasila dan komunis tidak hanya memiliki perbedaan namun bertolak belakang, sehingga tidak mungkin untuk disatukan.
Semoga tulisan bermanfaat bagi NKR HARGA MATI !!!!

DAFTAR PUSTAKA
1. Pemberontakan PKI Dan Penumpasannya
2. Komunisme dan kegiatannya di Indonesia
3. Suprdjo Direnggut Kalong
4. Mengungkap Pengkhianatan Pemberontakan 30 S/PKI
5. 40 Hari setelah Kegagalan G 30 S/PKI

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

2 komentar: