» » MENGENANG BULAN SEPTEMBER SEBAGAI BULAN BERDARAH BAGI BANGSA INDONESIA Pasang Surut Revolusi Indonesia berdasarkan Pancasila Dan UUD 1945

Oleh Eko Ismadi

Sejarah adalah catatan peristiwa perjalan hidup masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang memiliki kehidupan. Idealnya pemahaman ini hanya dapat diperuntukan bagi kehidupan manusia baik secara individu, kelompok, dan berbangsa dan bernegara. Sesuatu yang dapat dijadikan pembelajaran karena sekalipun peristiwa itu menyakitkan dan menyedihkan namun ada hikmah dan nilai positif yang terkandung di dalamnya baik bagi yang pelaku maupun yang menjadi korbannya peristiwa tersebut.

Yang sungguh mengherankan adalah mengapa kedua peristiwa ini terjadi di bulan yang sama dan pelaku yang memiliki identitas idiologi dan paham yang sama. Adakah yang salah dalam mengurus negari pada masa itu atau ada sesuatu hal ? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab karena memang sudah berlalu dan sekarang kita waspadai saja jangan sampai muncul untuk ketiga kalinya. Tidak ada untung kita berdebat mencari yang benar dan mencari yang salah, sebab toh! Pancasila Dan UUD 1945 Serta NKRI masih berdiri tegak kita syukuri saja sebagai ujian agar bangsa Indonesia lebih cerdas dan sigap menghadapi musuh Pancasila Dan UUD 1945.

Yang menjadi korban sudah diampuni dosa dan dilipat gandakan pahalanya sedang yang melakukan kejahatan juga harus sadar akan kesalahannya bahwa idiologi selain Pancasila itu tidak tepat bagi kehidupan bangsa Indonesia. Saling memaafkan bukan berarti akan melegalkan atau memberi kesempatan un tuk hadir kembali dalam kehidupan politik Indonesia sebagaimana yang dilakukan Soekarno dan Gus Dur yang ingin melegalkan komunisme melalui pencabutan Tap MPR 1966. Yang diharapkan sikap sekarang ini adalah mewaspadai dan menjaga upaya untuk melagalkan komunisme di Indonesia harus dicegah dan dihindari.

Terlebih dimasa pemerintahan Jokowi hingga sekarang ini belum ada upaya nyata untuk mengembangkan kewaspadaan terhadap komunisme itu. Padahal sikap itu sangat diperlukan untuk bagi stabilitas pemerintahan dan kemajuan bangsa Indonesia. Beradasarkan Catatan Sejarah Presiden Soekarno Negara dan Politiknya bias stabil karena meyakini akan paham Idiologi Pancasila dan UUD 19945 dan Soeharto dapat berkuasa selama 32 tahun juga karena kosisten dengan Pancasila Dan UUD 1945. Manakala Presiden Soekarno lepas dari Pancasila dengan mengganti Pancasila dengan Nasakom, politik goncang pertikalain dan perselisihan rakyat demikian kejamnya, yang pada akhirnya sikap itu justru menyusahkan diri beliau sendiri dan diakhiri pemerintahannya. Bapak Jokowi kami harap dapat belajar dari sikap kedua Presiden tersebut agar bangsa Indonesia memiliki dinamika sejarah yang berkesinambunga bukan rotasi sejarah yang berkesinambungan.

Tulisan ini bukan untuk mengurai arti komunisme serta praktek pahamnya, karena saya bukan ahli politik dan ilmuwan. Tetapi saya hanya menulis peristiwa sejarah yang terjadi di masa itu yaitu tahun 1948 dan 1965. Saya tidak mengurangi dan menambahi ulasan dan urain kejadian itu berdasarkan fakta dan data dari hasil pemerikasaan dan pengakuan pelaku serta bukti administrasi kegiatan yang dilakukan para pelaku pemberontakan ini sebelum dan sesuadah persitiwa tersebut terjadi. Yang dapat dikorelasikan dengan kondisi nyata pada masa itu dan dapat diterima dengan akal sehat dan akademiah.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: