» » Apakah kita Amnesia dengan Penderitaan selama 3 tahun itu ?

Oleh : Leonardus A Fanuel

Belum lama kita memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke 70. Selama beberapa saat kita hanyut dalam hingar-bingar peringatan secara fisik, dari Aceh hingga Papua. Namun secepat itu pula kita seperti melupakan esensi dari prolog dan epilog dari pada peristiwa itu sendiri .

Seandainya tidak dijatuhkan bom atom di Dua kota di Jepang---Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika apakah para pemuda yang sedang berada dalam puncak semangat untuk memerdekan bangsa ini akan dapat mendesak Bung Karno – bung Hatta untuk mengambil momentum tanggal 17 Agustus untuk memproklamirkan negara Republik Indonesia ini.

Nun jauh di Utara, di negara Tiongkok < Zhung Guo> Jepang pada waktu yang bersamaan mengalami kalahan perang yang kemudian kekalahan Jepang terhadap Tiongkok tersebut dideklarasikan secara resmi di awal bulan September 1945. Agresi Jepang di tanah Tiongkok dari tahun 1937 – 1945 agaknya sedikit diabaikan dalam sejarah dunia. Perang perlawanan rakyat yang memakan korban sekitar 30 juta di pihak Tiongkok dan sekitar 2 juta orang di pihak Jepang tersebut adalah merupakan lembaran sejarah manusia yang kelam yang  tidak mungkin terlupakan oleh rakyat yang berpenduduk terbesar di dunia ini. Semua itu terlebih karena kekejian serdadu negara Matahari Terbit tersebut  yang diluar ukuran manusia yang beradab .

Hal tersebut terlebih menyangkut Peristiwa pembantaian dan pemerkosaan besar-besaran terhadap rakyat termasuk anak - anak dan para wanita di kota Nan King <Nan Jing> pada tahun 1937 yang memakan hampir 300 ribu korban di pihak rakyat. Hal tersebut merupakan peristiwa yang paling kejam selama masa Perang Dunia II di luar peristiwa pembantaian kaum Yahudi di Jerman. Para pengamat sejarah dan militer berpendapat bahwa jika Tiongkok pada waktu itu tidak melakukan resistensi mati-matian yang membuat manuver bala tentara Jepang ke wilayah lain tertahan, maka bukan tidak mungkin pasukan agresor Jepang bisa melanglang sampai ke arah Australia maupun ke arah India .

Maka tidak heranlah pada tanggal 3 September 2015 ini negara RRC memperingati  kemenangan perang atas   kaum fasis-militerisme Jepang tersebut. Peringatan tersebut  bisa terlaksana karena posisi negara tersebut yang secara ekonomi dan militer sudah setara dengan negara-negara besar lainnya didunia. Defile militer yang sudah dipersiapkan secara matang dan sempurna tersebut melibatkan 12,000 anggota pasukan dari matra Darat, Laut dan Udara dengan berbagai alutsista yang mutahir. Dimana terlihat pula kontingen dari 17 negara yang tentaranya ikut berparade di lapangan Tien An Men, Bei Jing tersebut, diantaranya dari Rusia, Pakistan, Tazkishtan, Kuba, Mexico, Venuezela, Fiji. Juga hadir  para VVIP  dari tidak kurang dari 30 negara termasuk Presiden Putin, Presiden Korea Selatan dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon .Tidak jelas siapa yang mewakili Indonesia dalam acara tersebut.

Parade yang berlangsung tertib selama kurang lebih 90 menit tersebut diawali dengan rombongan para veteran perang baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar negeri seperti tentara Amerika yang pernah terlibat  peperangan disana, mereka sudah uzur dengan usia 90-an sampai yang diatas 100 tahun.  Tampaknya esensi yang ingin diangkat adalah bahwa sebagai negara yang besar RRC tidak maut erulang kembali agresi yang dilakukan oleh Japang di masa lalu itu dan Presiden Xi Jin Ping dalam pidatonya menyatakan bahwa penguatan angkatan perangnya adalah untuk melindungi rakyatnya dari agresi dari manapun datangnya dan untuk   menjamin adanya perdamaian  dunia, terutama di kawasan Asia Pasifik .

Para pemimpin dunia yang berkunjung ke Bei Jing <Peking> menyatakan dukungannya atas diselenggarakannya peringatan tersebut dan sama-sama mengharapkan dunia yang lebih damai di masa yang akan datang. Pakistan yang merupakan  “teman dekat” RRC sangat mendukung adanya  acara tersebut,   terutama adalah untuk mengingatkan dunia untuk tidak terulangnya fasisme dan militerisme di masa yang akan datang .

Tampaknya Indonesia tidak “bunyi”dalam acara tersebut, apakah karena kita sudah melupakan sepenuhnya  apa  yang terjadi selama kehadiran “saudara tua” di Nusantara, walau hanya dalam kurun waktu 3 tahunan saja. Tanyakan saja kepada para orang tua yang mengalami masa tersebut. Ataukah kita sebagai bangsa yang sangat pemaaf tidak mau sang  “Nihon jin” merasa  tersinggung, mengingat  kita ini dalam kesehariannya tidak dapat melepaskan diri dari peran investasi mereka. Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki, Nissan, Yamaha dan masih banyak lagi. Adalah tunggangan kita, kemanapun kita pergi. Terlebih dalam keadaan ekonomi kita yang sedang “batuk-batuk” tersebut sangatlah memerlukan kehadiran “saudara  tua”tersebut. Semoga kita tidak mudah lupa dan pikun.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: