» » Optimisme 70 Tahun Merah Putih


oleh Adrian Chandra Faradhipta

Gemah ripah loh jinawi  (kekayaan alam yang berlimpah) dan  toto tentrem karto raharjo (keadaan yang tenteram) ataupun ungkapan kolam susu dalam lirik lagu Koes Plus yang melegenda itu tentunya dapat menggambarkan betapa kaya dan luasnya negeri kita ini. Berbagai kekayaan bumi terhampar luas di penjuru negeri dengan bentang pesisir terpanjang kedua di dunia dengan 17.000-an pulau serta keberagaman bahasa daerah dan budaya yang sangat kaya ditambah dengan biodiversitas baik perairan maupun daratan yang sangat melimpah. Dengan fakta itu saja kita sudah sepatutnya bangga menjaid Indonesia menjadi bangsa dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan populasi Muslim terbesar di dunia dengan keberagaman luar biasa, namun dengan satu visi dalam sebuah perjanjian agung yang kita namakan Pancasila dengan moto Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak hanya itu, negeri ini juga sungguh diisi oleh manusia-manusia tangguh yang bangga memegang teguh rasa nasionalismenya. Di ujung Sumatera sana di Serambi Mekah kita akan temui saudara-saudara yang bermental baja tak patah arang sekalipun diterjang Tsunami. Di sisi timur di perbatasan Merauke sana, kita akan bersyukur memiliki saudara-saudara tanah Papua yang dengan bangga menjadi Indonesia walau ditengah keterbatasan dan ketidakadilan yang mereka alami. Di tengah Ibukota Jakarta berduyun-duyun orang mengadu nasib demi sesuap nasi namun tetap bias tersenyum di tengah terjnagan ibukota. Di luar sana di Hongkong, Timur Tengah, dan di seluruh penjuru dunia, para diaspora, para TKI, dan semua pemegang paspor hijau berlambang garuda.

Negeri ini juga kaya akan prestasi dan manusia bertalenta tidak kurang 570 medali emas, perak, dna perunggu berhasil diraih pelajar Indonesia dalam berbagai perlombaan internasional hanya dalam waktu 5 tahun ke belakang. Belum lagi berbagai medali dan prestasi yang diraih oleh para atlet dan individu Indonesia lainnya dalam berbagai perlombaan serta acara internasional lainnya.

Namun ditengah gelimang prestasi dan ketangguhan negeri kita ini maish banyak ironi kehidupan yang mengemuka belum lagi tantangan serta masalah kebangsaan yang semakin kompleks yang perlu ditangani. Masalah multidimensional dalam berbagai hal seperti kemiskinan, pengangguran, terorisme dan radikalisme, pemerataan kesejahteraan, politik, hukum, pendidikan dan kesehatan adalah di anatara tantangan kita bersama dalam membangun bangsa Indonesia.

Setelah 70 tahun kemerdekaan kita setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi fokus dan sorotan kita bersama. Pertama adalah kembali meng-Indonesiakan Indonesia. Meng-Indonesikan Indonesia adalah mengembalikan marwah semangat utama bangsa yang terkandung dalam Pancasila. Di tengah era globalisasi dan modernitas kehidupan kita saat ini. Filtrasi bahkan adopsi budaya barat dan budaya asing yang buruk bagi kehidupan berbangsa kita acapkali baik itu disadari maupun tidak kita sadari menjadi penghalang bangsa kita untuk berkembang dan bersaing dnegan bangsa linnya. Contoh kecilnya saja adalah kemampuann berbahasa Indonesia kita yang semakin hari semakin ditinggalkan. Ya memang benar bahwa bahasa komunikasi internasional seperti bahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban untuk bersaing di tengah zaman yang semakin tanpa batas saat ini. Namun, memahamai dan bertutur dengan bahasa Ibu secara benar adalah wujud kita untuk melestarikan akar berbangsa kita. Tidak perlu jauh melihat kurnagnya perhatian terhadap bahasa ibu kita, istilah berbahasa Indonesia yang sering salah kita temukan seperti penulisan Atlit yang seharusnya Atlet ataupun Apotik yang seharusnya Apotek atau mungkin lebih sering menggunakan kata snack untuk penganan ataupun mungkin berapa banyak anak-anak usia dini yang lebih fasih bertutur dengan bahasa asing lalu bingung dan canggung berbahasa Indonesia dikarenakan didikan orangtua yang terlalu mengistimewakan bahasa asing. Lebih jauh betapa banyak dari kita yang sangat bangga mengenakan merek luar dibandingkan mereka lokal yang notabene tidak kalah kualitas dengan merek luar negeri tersebut bahkan harus kita ketahui banyak juga dari merek luar tersebut diproduksi oleh industri dalam negeri kita. Belum lagi budaya urban manusia Indonesia yang semakin bebas dengan angka pemakaian narkoba dan kasus seks bebas di kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan.

Kedua, Indonesia perlu mengubah pola pikirnya menjadi pola pikir postif dan optimis. Di zaman yang semakin cepat dan ekspos media massa yang besar saat ini kita cenderung digiring menjadi bangsa yang masih sering pada pola “blamer” bukan “problem solver”. Lebih jauhnya hal tersbeut sering dicontohkan oleh para pemimpin kita yang kehilangan rasa malu untuk meminta maaf ataupun mengakui kekurangannya dan mencari kambing hitam atas segala permasalahn bangsa.  . Kita semakin hari semakin sering menjadi orang-orang yang menyalahkan pihak tertentu atas berbagai macam masalah yang terjadi dan lupa akan andil kita untuk menyelesaikan masalah tersebut. Walaupun, kita harus paham bahwa koreksi dan kritik yang membangun perlu juga menjadi penyeimbang bagi keberlangsungan hidup berbangsa yang majemuk ini. Bangsa ini juga terlalu latah untuk terus menerus kambuhan untuk mencari solusi instan dibandingkan mencegah suatu permasalahan bangsa contohnya saja maslaah kemacetan di Ibukota. Ketika negeri tetangga sepetri Singapura, Malaysia, ataupun Thailand jauh hari membangun fasilitas transportasi massal seperti MRT ataupun kereta bawah tanah pada medio 1990-an, sedangkan kita dengan segala daya dan upaya sibuk memburu pengerjaan galian MRT di tengah kemacetan yang semakin menggila di tahun 2015 ini.

Kita layaknya perlu belajar semangat orang Korea Selatan, ketika 1997 dimana atas permintaan pemerintahnya seluruh masyarakat korea dari berbagai kalangan dengan suka rela mengumpulkan emas simpanan mereka dalam rangka untuk membantu pemerintahnya membayar hutang negaranya kepada IMF tanpa saling menyalahkan atau berkomentar fokus berduka atau membuat suasana semakin memburuk. Dan hasilnya luar biasa, hanya dalam sebulan terkumpul 3 Miliar Dollar Amerika. Bukan berarti kita memblokade atau menumbuhkan kembali semangat “kediaman” pers atau membredeli kebebasan bersuara. Kita sunguh lebih beruntung dibandingkan negara tetangga kita Malaysia yang dengan sangat jelas rakyatnya sangat dibatasi untuk berkomentar sesukanya terhadap kasus 1 MDB atas nama perlindungan terhadap pemerintahan incumbent.

Di sisi lain, pendidikan untuk berlaku positif dan adil dapat kita ambil pelajaran dalam sbeuah acara lomba memasak dari negara tetangga kita Australia. Jika di antara kita pernah menonton acara Master Chef Australia kita akan temukan bagaimana di antara budaya dan mental yang ditunjukkan oleh para peserta sangat positif, mereka dapat saling memberikan dukungan dan memberi komentar positif antar-sesama mereka meskipun di tengah kompetisi yang sangat ketat. Hal ini menjadi cerminan bagaimana pendidikan di negara tersebut mengajari kita akan makna menghargai, toleransi, dan bersaing secara sehat. Sungguh miris ketika kita temukan menjelang pilakada ataupun sesama anggota kabinet menteri kita saling menjelekkan hanya demi mengamankan posisi mereka atau demi meraih dukungan publik. Belum lagi ketika kita melihat tontonan di negeri kita yang menyajikan tontonan dengan kualitas rendah dan jauh dari nuansa edukasi dan marwah nilai-nilai jurnalisme.

Ketiga adalah investasi dalam pemberdayaan pemuda. Mengapa pemuda begitu penting bagi Indonesia? Dengan jumlah mencapai 62,6 juta orang. Artinya, hampir dari seperempat penduduk Indonesia tak lain isinya adalah pemuda. Karena itu, dalam pembicaraan mengenai daya saing dan masa depan bangsa, pemuda adalah subjek utama yang harus diperhatikan kesiapannya. Pada rentang 2015-2035 Indonesia diproyeksikan mengalami bonus demografi. Pada rentang tahun ini jumlah penduduk usia kerja produktif (15-64 tahun) akan mencapai 70%. Sisanya 30% adalah penduduk tidak produktif. Investasi dan grand plan yang mumpuni dan komprehensif pelru dirumuskan dan dieksekusi secara matang dan mumpuni. Berbagi program investasi baik dari segi pendidikan dan kesehatan serta pemberdayaan pemuda. Namun fakta yang ironis bagi Indonesia yang termasuk dari sejumlah negara di dunia yang memiliki kementerian khusus yang menanganai masalah kepemudaan yaitu  Kementerian Pemuda dan Olahraga di Indoensia justru pemuda Indonesia masih belum banyak diberdayakan dan mendapatkan porsi yang besar untuk berperan dalam memajukan bangsa ini. Contohnya saja adalah komposisi di berbagai lembaga pemerintahan di Indonesi ynag cenderung diiisi oleh kalangan senior. Belum lagi banyaknya para diaspora Indonesia dari kalangan muda yang mengomentari betapa sulitnya mereka untuk mencoba berperan lebih besar kembali ke tanah air. Sebagai catatan Indonesia perlu berhati-hati menyikapi bonus demografi keberadaan pemuda tersebut karena kemungkinan di masa mendatang hanya dua jika dikelola dan diberdayakan dengan baik maka mereka akan menjadi window of opportunity (jendela kesempatan), sebaliknya jika kita lalai dan tidak mengelolanya dnegan baik maka mereka akan menjadi windo dan w of disaster (jendela bencana) dimana sebagian besar pemuda akian diproyeksikan menjadi pengangguran terbuka ataupun terdidik serta angka produktivitas yang rendah sehingga menjadi beban sosial ekonomi bagi Indonesia.

Terlepas dari seluruh problematika bangsa yang semakin pelik, kita sebagai bagian bangsa Indonesia harus tetap optimis untuk menanamkan semnagat optimisme dalam setiap pribadi kita. Karena bangsa ini dibangun atas jerih payah dan perjuangan maisng-masing kita. Berpikirlah apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa bukan permasalahan bangsa apa yang harus terus saya ributkan. Yakinlah bangsa yang besar dibangun atas adasar optimism warganya untuk bersama mewujudkan dan memaknai arti kemerdekaan.

*) Penulis adalah Duta Pemuda Indonesia untuk Korea Selatan 2012 dan Utusan Indonesia untuk MMF Program Izmir, Turki 2011

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: