» » » Indonesia Dan Harta Karun Yang Masih Tersimpan


Oleh : Yunie Chandra Haneda
Penulis yakin pasti banyak yang tidak percaya dengan judul di atas, seperti mimpi di siang bolong apalagi dengan kondisi negara kita saat ini: dollar melambung tinggi, daging sapi tidak terbeli, daging ayam menghilang di pasaran. Sepertinya semakin terpuruk rakyat Indonesia?. Hampir separuh rakyat Indonesia hidup di bawah standar sejahtera, memang seperti itulah kondisi yang terlihat di depan mata. Tapi tahukah, kita sebenarnya hanya berkutat di permasalahan yang sama membuat kepala semakin pusing, sehingga pemikiran-pemikiran yang dapat membangkitkan semangat dan mengubah kondisi ini seolah tertutup rapat. Padahal sebenarnya kita masih memiliki berjuta-juta harta karun yang tersimpan di seluruh wilayah Indonesia, darat maupun laut.  Dengan mengelola harta karun tersebut, seharusnya kita tidak perlu berutang kepada luar negeri karena sebetulnya harta karun kita dapat mensejahterakan rakyat.

Secara geografis Indonesia terletak di wilayah tropis dengan curah hujan dan sinar matahari yang cukup, hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara terkaya akan sumber daya hayati. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Direktorat Lingkungan Hudup, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENAS), saat ini Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara Mega Biodiversity setelah China dan India. Artinya Indonesia adalah negara terkaya ketiga dalam hal keanekaragaman sumber daya hayati, itupun berdasarkan data sumber daya hayati yang terletak di darat saja, belum lagi yang berada di bawah laut. Bayangkan, tujuh puluh persen wilayah negara kita adalah lautan dengan demikian kekayaan sumber daya hayati yang terdapat di bawah laut jauh lebih banyak dibandingkan di darat. Dapat dipastikan Indonesia akan menempati posisi teratas sebagai negara SUPER MEGA BIODIVERSITY. Inilah yang penulis sebut sebagai harta karun Indonesia. Lalu bagaimana cara mengelola kekayaan kita tersebut, karena kita tidak memiliki teknologi yang canggih?

Berbicara mengenai teknologi, negara maju seperti Amerika, Jerman, Jepang, memiliki teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan Indonesia. Lalu apakah dengan teknologi yang “seadanya” ini kita bisa hidup sejahtera? Jawabnya bisa, tapi bukan melalui teknologi karena Indonesia bukan negara teknologi tinggi seperti mereka, Indonesia adalah negara penyedia (Provider) bahan baku untuk kebutuhan teknologi mereka. Negara maju seperti mereka hanya memiliki teknologinya saja tanpa memiliki bahan baku. Sumber kekayaan alam Indonesia, baik sumber daya hayati, tambang dan mineral  dibutuhkan oleh mereka. Tetapi, bukan berarti negara maju dapat mengeksploitasi kekayaan alam negara Indonesia begitu saja tanpa ada aturan yang jelas apalagi tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Tentunya hal tersebut dapat menghancurkan negara kita tercinta ini.

Terkait hal tersebut, penulis lebih memfokuskan kepada sumber daya genetik sebagai “harta karun terbesar” Indonesia. Nah, pasti bingung apa sih sumber daya genetik itu? Berdasarkan Convention on Biological Diversity (CBD), sumber daya genetik adalah mikro organisme sebagai bagian dari sumber daya hayati yang memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Sumber daya hayati bisa terlihat langsung secara kasat mata, maka sumber daya genetik harus melalui mikroskop setelah malalui penguraian dan penelitian, oleh karena itu virus, bakteri, ragi dan amuba termasuk ke dalam sumber daya genetik (Pasal 7 huruf d butir (i) UU Paten). Sumber daya genetik menjadi issue yang strategis karena memiliki nilai aset global tinggi bagi kelangsungan hidup manusia di masa sekarang maupun yang akan datang. Sumber daya genetik merupakan bahan baku bioteknologi, terutama bahan dasar obat-obatan, kosmetika serta industri lainnya. Sebagai contoh, kunyit (curcuma) dijadikan bahan dasar untuk obat : perangsang nafsu makan, maag selain itu dijadikan bahan dasar kosmetika untuk lulur dan masker wajah. Buah merah (Pandanus Conoideus) dari Papua memiliki kandungan antioksidan tinggi yang dapat menghancurkan sel kanker payudara dan menyembuhkan penyakit HIV berdasarkan hasil penelitian ahli gizi dari Universitas Cendrawasih. Getah karet Indonesia memiliki kualitas terbaik di dunia, sehingga produsen-produsen ban terkenal di dunia menggunakan getah karet dari Indonesia sebagai bahan baku industri mereka. Ini hanya contoh sebagian kecil saja, sebagai bukti bahwa begitu banyak sumber daya genetik di Indonesia yang belum seluruhnya dimanfaatkan.

Lalu bagaimanakah memanfaatkan sumber daya genetik agar dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat? Penulis yakin pula pertanyaan itu ada di benak pembaca. Memang negara kita saat ini tidak mungkin sumber daya genetik secara langsung karena teknologi yang terbatas. Maka solusinya adalah sebagai provider (seperti yang telah dijelaskan di atas) lalu dalam proses akses sumber daya genetik tersebut harus melalui berbagai macam perjanjian yang isinya terkait dengan akses, pemanfaatan dan pembagian keuntungan. Nah, point ketiga ini lah yang dapat mensejahterakan rakyat terutama masyarakat lokal yang hidup dan tinggal di sekitar lokasi sumber daya genetik tersebut berada. Pembagian keuntungan ini dapat berupa materiil dan immateriil. Seara materiil tentu saja berupa uang, prosentase atau bagian keuntungan perusahaan yang mengakses sumber daya genetik tersebut. Sedangkan Immateriilnya adalah pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum seperti: tempat ibadah, perbaikan jalan, membangun jembatan dan fasilitas lainnya yang dapat mempermudah terhadap akses sumber daya genetik.

Selain pemanfaatan sumber daya genetik, perlindunganya pun harus diatur sedemikian rupa karena sumber daya genetik berkaitan langsung dengan sovereign right atau lebih dikenal dengan hak kedaulatan artinya apabila suatu sumber daya genetik terletak di Indonesia berarti hak milik Indonesia. Ketika negara lain mengakses sumber daya genetik tersebut harus melalui persetujuan dan pengawasan pemerintah Indonesia agar terhindar dari Biopiracy yaitu pembajakan sumber daya genetik. Misalnya, sumber daya genetik nya dari Indonesia,  diproses secara bioteknologi di negara lain kemudian sumber daya genetik tersebut dipatenkan oleh negara tersebut. Contoh konkritnya adalah perusahaan kosmmetik Shiseido dari Jepang mengklaim sembilan hak paten atas tanaman tradisional Indonesia yang bernomor registrasi JP 10316541 dengan subyek paten tanaman tradisional yang semuanya merupakan bahan anti aging /anti penuaan, perawatan kulit dan kepala. Jenis rempah-rempah asli Indonesia yang dipatenkan oleh Shiseido diantaranya: kayu rapet (Parameria laevigata), kemukus (Piper cubeba), tempuyung (Sonchus arvensis L), belantas (Pluchea indica L), mesoyi (Massoia aromatica Becc), pule (Alstonia scholaris), pulowaras (Alycia reindwartii Bl), sintok (Cinnamomum sintoc Bl), kayu legi, kelabet, lempuyang, remujung, dan brotowali adalah nama-nama tumbuhan dan rempah Indonesia yang akan dipatenkan oleh perusahaan kosmetik Jepang Shiseido. Bahkan diantaranya nama-nama tumbuhan tersebut ada yang sudah terdaftar pada paten Jepang. Atas perjuangan beberapa LSM Indonesia pengajuan paten tanaman obat yang sudah berabad-abad dipergunakan di Indonesia tersebut dibatalkan oleh pihak Shiseido. Contoh kasus lainnya terkait dengan biopiracy sumber daya genetik berupa virus, yaitu kasus Virus Flu Burung (H5N1) membuat Menkes (Pada masa pemerintahan presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono-Red), Siti Fadhilah Supari geram kepada WHO dan perusahaan farmasi multinasional yang menolak memberikan prioritas kepada Indonesia untuk memperoleh vaksin flu burung walaupun sumber daya genetiknya berupa virus ganas (wild virus) H5N1 tersebut berasal dari Indonesia dan saat itu Indonesia dinyatakan sebagai negara Epidemi Flu Burung. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya, karena sampai saat ini biopiracy masih terus berlangsung sebagai akibat kurangnya pengawasan akses dari pemerintah Indonesia. Apabila dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan kerugian yang besar untuk Indonesia dari segi ekonomi serta kerugian alam berupa kepunahan sumber daya genetik dan kerusakan lingkungan. Untuk itu, mari bangun kesadaran akan pentingnya sumber daya hayati sebagai harta karun yang dapat menjamin keberlangsungan hidup negara kita, Indonesia tercinta. Salam HKI (Hak Kekayaan Intelektual Indonesia) !!

*) Penulis adalah pemerhati keragaman hayati.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

4 komentar:

  1. Salam HKI, maju terus teh Yuni untuk memajukan HKI di sekitar kita (y)

    BalasHapus
  2. Terima kasih Bang Ricko, teman seperjuanganku di Magister HKI Unpad, Salam HKI Indonesia !!

    BalasHapus
  3. dipatenken semua kan masih banyak lagi

    BalasHapus
  4. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas feedback nya. Bang mamad silahkan add FB saya June Chandra Haneda, saya banyak posting ttg HKI dan sumber daya genetik. Saya senang sharing ilmu. Salam HKI ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus