» » Incognito vs Blusukan

Oleh : Peter S Simo Wibowo SH*)

KATA "blusukan" mulai populer menjelang pilgub DKI pasangan jokowi dan Ahok pada 2012 yang lalu, Pasangan Jokowi dan Ahok sangat getol melakukan blusukan kepada masyarakat DKI hingga tingkat sosial - ekonomi yang paling bawah sekalipun guna memperkenalkan diri dan menyampaikan misi serta visi mereka juga program - programnya apabila terpilih dan menjabat sebagai orang nomor satu dan dua di DKI, Jurus "blusukan" juga ditiru oleh pasangan - pasangan cagub dan cawagub lainnya namun kurang sukses, hingga akhirnya rakyat DKI lebih memilih Jokowi dan Ahok

Terpilihlah mereka menjadi Gubernur dan wakil gubernur periode 2012 - 2017, Pak Jokowi selama menjabat menjadi Gubernur DKI masih sering melakukan "blusukan" dengan didampingi banyak awak media untuk mengecek langsung keluhan - keluhan masyarakat dilapangan dan mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung,

Memang cara tersebut sangat ampuh untuk menarik simpati rakyat dan menunjukan sosok pemimpin yang peduli, low profile dan merakyat, terbukti pada saat pilpres 2014 pasangan Jokowi - JK melenggang mulus memenangkan pertarungan tanpa hambatan yang berarti berkat popularitas yang diperoleh dari jurus "blusukan" yang diterapkan oleh Jokowi dan JK semasa kampanye.

Apakah dahulu pemimpin - pemimpin kita melakukan hal yang sama "blusukan" juga seperti pemimpin yang sekarang ? Jawabannya adalah IYA. Pada hakikatnya kata blusukan berasal dari bahasa Jawa yang berasal dari kata dasarnya blusuk yang artinya masuk, Jadi kalau kita artikan dan terjemahkan secara bebas blusukan disini dapat diartikan adalah sebuah kegiatan para tokoh atau figur yang masuk dan mendatangi tempat terpencil dan masyarakatnya untuk mendengar langsung dan menggali berbagai informasi dan permasalahannya serta mencarikan alternatif solusi untuk menyelesaikannya. Atau sama dengan istilah kata Incognito, mungkin sebagian masyarakat masih ada yang awam dengan istilah kata tersebut, apa itu Incognito, Incognito adalah kata Latin yang artinya tidak dikenal, jadi penggunaan istilah perjalanan "blusukan" pemimpin - pemimpin kita pada waktu yang lalu kurang tepat diterapkan untuk mengganti istilah Incognito yang dilakukan pemimpin - pemimpin bangsa Indonesia seperti bung Karno dan pak Harto, mengapa demikian ??

Perjalanan "blusukan" bung Karno dan Pak Harto sebagai pemimpin bangsa Indonesia adalah perjalanan Incognito benar - benar murni Incognito karena dari maksud dan tujuan perjalanan yang dilakukan oleh mereka bukan sama sekali untuk sebuah popularitas atau sebuah pencitraan belaka, karena perjalanan tersebut sifatnya tertutup dan semi rahasia hanya segelintir pihak saja yang mengetahuinya dan benar - benar memiliki tujuan untuk menggali informasi beserta permasalahan yang dialami oleh rakyatnya, dan menghindari informasi - informasi yang tidak sesuai dari laporan para pembantu - pembantunya, Jadi pola kepemimpinan semacam ini tidak bisa dibohongi oleh bawahannya. Sedangkan perjalanan "blusukan" yang sekarang dilakukan oleh calon - calon pemimpin dan pemimpin kita patut diduga memiliki arah dan tujuan yang sama sekali berbeda, "blusukan" selalu senantiasa didampingi oleh " seabrek" media massa disiarkan oleh seluruh stasiun televisi dengan tujuan ditonton dan disaksikan oleh jutaan pemirsa yang akhirnya menarik rasa simpati dan popularitas, sehingga diduga tujuan politis para pasangan pemimpin yang mencitrakan pemimpin yang humble dapat tercapai dan bukan murni bermaksud menyerap aspirasi dan keluh kesah rakyat semata.

Jadi "blusukan" versi yang sekarang dengan "blusukan" tempo doeloe sama sekali berbeda tidak bisa istilah Incognito diterapkan pada versi "blusukan" masa kini, Bung Karno dikenal gemar melakukan "blusukan" dengan menyelinap keluar dari istana menuju pasar dan tempat tempat lainnya dengan menyamar menggunakan kaos oblong dan kaca mata hitam tanpa pengawalan yang ketat dari pasukan penjaga presiden yang dikenal kala itu Detasemen Kawal Pribadi, namun setelah 21 Juni 1962 Resimen Tjakrabirawa dibentuk bung Karno mengurangi jadwal blusukannya karena senantiasa dikawal oleh Tjakrabirawa kemanapun beliau pergi, pada suatu kesempatan Presiden Soekarno berkata kepada jurnalis Amerika Cindy Adams :" Dulu aku biasa keluar istana diam - diam seorang diri, namun sejak ada Tjakrabirawa hal itu tak mungkin lagi kulakukan " Namun tetap saja bung Karno membandel, selagi ada kesempatan bung Karno menyelinap dan blusukan, melanjutkan kegemarannya.

Demikian juga dengan presiden kedua Republik Indonesia pak Harto yang gemar Incognito, karena tak tepat disebut blusukan perjalanan Presiden Soeharto mengunjungi rakyatnya yang ada dipelosok pulau Jawa bersifat rahasia dan minim publikasi tepatnya perjalanan Incognito pak Harto dilakukan pada ! April 1970 pada saat meluncurkan rencana pembangunan lima tahun yang dikenal dengan REPELITA. Pak Harto memilih perjalanan tanpa protokol kenegaraan dengan pengawalan yang sangat longgar, perjalanan incognito pak Harto tersebut bertujuan untuk memonitor langsung pelaksanaan program pembangunan yang telah beliau canangkan, khususnya dibidang pertanian, sehingga beliau dapat menyerap langsung aspirasi serta keluhan - keluhan rakyatnya, sayangnya perjalanan mulia pak Harto ini tidak dipublikasikan dan tidak banyak diungkap ke publik, sehingga hanya sedikit sekali publik yang mengetahui sisi positif kepemimpinan beliau tersebut.

Namun sekarang para calon - calon pemimpin dan yang sudah jadi pemimpin berlomba - lomba mengimplementasikan " blusukan" dengan nuansa yang berbeda dan diduga maksud serta tujuan tentu berbeda pula, yakni mencari atau mempertahankan popularitas serta simpati dari masyarakat ( pencitraan ) dengan mempublikasikan perjalanan tersebut secara besar - besaran agar semua publik mengetahuinya, berbanding terbalik dengan tujuan dan maksud perjalanan Incognito bung Karno maupun pak Harto, ya memang mungkin zaman sudah berubah dan memang sudah menjadi tuntutan zaman juga pola kepemimpinan Bung Karno dan pak harto melakukan Incognito mungkin sulit untuk diterapkan pada zaman era teknologi informasi yang sudah jauh sangat berkembang, namun sepanjang pemimpin kita yang suka pamer "blusukan" baik disengaja ataupun tidak disengaja dan mudah mudahan tujuannya bukan untuk pencitraan, dan sepanjang bertujuan untuk membangun negara dan bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 tanpa embel - embel tujuan politis dan kepentingan sejumlah elit - elit parpol, kita sebagai rakyat Indonesia wajib mendukung dan menghormatinya. Merdeka !!!

*)Penulis adalah Pengamat Hukum

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: