» » Film Soedirman, Politik Tentara dan Politik Negara Arti, Makna, Dan Implementasi Dari Pandangan Sejarah.

Foto : Wikipedia.
Oleh Eko Ismadi
Sekarang ini Prajurit TNI dan Keluarga Besar TNI diwajibkan untuk menonton Film Jenderal Sudirman. Setiap Prajurit yang saya temui dan saya tanya tentang Film tersebut selalu memberi jawaban,Cerita Perang Pak! Beliau Kan Pejuang.” Sinar kebahagiaan terbersit dalam diri saya artinya ternyata Prajurit sedikit banyak masih paham tentang sejarah. Namun ulasan ini ditulis bukan untuk membahas tentang Film Sudirman akan tetapi tulisan ini mengutarakan tentang pemikiran Sudirman bagi TNI dan peranannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam ulasan ini saya ingin sedikit memberikan sebuah pesan kebangsaan dari Bapak Panglima Besar yaitu Politik Tentara Adalah Politik Negara. Pesan ini memberi pedoman kepada TNI untuk berperan dan menempatkan diri dalam mengabdikan diri kepada Bangsa Indonesia dan menjaga kelangsungan hidupnya. Kita wajib bersyukur TNI dari mulai didirikan hingga detik ini masih tetap konsisten dengan komitmen kebangsaannya, sekalipun mengalami pasang surut dan jalan berliku namun TNI tetap berada pada prinsip dasar sikap yang tercermin dari Pesan tersebut.

Dihadapkan dengan kondisi politik negara sekarang ini komitmen TNI diperlukan untuk memberikan pencerminan akan tegak kokohnya komitmen kebangsaan. Adapaun komitmen yang dimaksud adalah komitmen idiologi politik Pancasila dan UUD 1945 dan persatuan dan kesatuan bangsa. Ketika kita berbicara penyelenggaraan politik maka TNI tidak termasuk didalamnya karena TNI tidak boleh berpolitik namun bila kita berbicara politik Negara maka TNI ada di dalamnya.

Politik Negara meliputi empat unsure kekuatan yaitu TNI/POLRI, Organisasi Politik, NKRI, Dan Pemahaman Sejarah Nasional Indonesia. Keempat unsur tersebut harus memiliki orientasi pemikiran yang bertumpu Idiologi Pancasila Dan Undang Undang Dasar 1945. Dalam catatan sejarah TNI/POLRI yang memperlihatkan akan kekokohan dan ketegaran terhadap komitmen tersebut. Ini semua bukan karena kekuatan kekuatan dan kehebatan pemimpinnya secara Pribadai namun ada keyakinan yang mendatang kekuatan dalam diri TNI, Organisasi, Dan Kepribadiannya Pemimpinnya yaitu keyakinan kepada kebenaran terhadapa Sejarah Nasional Indonesia Dan Spiritualitasnya.

FIGUR KEPEMIMPINAN DAN KONSEP KEBANGSAAN
Dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia Figur Kepemimpinan TNI dapat menentukan kelangsungan hidup bangsa. Pada tahun 1946 ketika Tan Malaka berusaha mengajak Panglima Besar Sudirman untuk melakukan perbuatan maker dengan melakukan perlawanan terhadap merintaha Soekarno dengan tegas menolak. Karena Beliau Konsisten dengan komitmen kebangsaan yang pernah beliau sampaikan kepada Prajurit TNI,”Saya tidak setuju itu karena sikap iotu sikap pemberontak. Dan itu dapat dikatakan makar.”

Dalam peristiwa penyerangan yang dilakukan Belanda pada tahun 1948, TNI melalui Kepribadian Panglima Soedirman harus berbeda pendapat dengan Presiden Soekarno dalam menghadapi serangan tersebut. Sikap tersebut memiliki pangaruh yang cukup besar dalam kepemimpinan nasinal pada masa itu dimana melalui kegiatan yang dilakukan TNI pada tanggal 1 Maret 1949 negara Indonesia masih ada dan diakui oleh Dunia internasional. Indonesia tidak lagi dalam kekuasaan Belanda.

Berikutnya Dalam Di tahun 1965 Kepemimpinan TNI pada masa itu terpisah pisah dan yang kemudian dengan tegas berani memberikan saran dan pendapat kepada Presiden Soekarno hanya Jenderal Ahmad Yani yaitu mengenai ancaman bangsa Indonesia dari arah Utara. Dalam hal ini yang dimaksud adalah gerakan komunisme China yang berusaha untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Bahkan Jenderal Achmad Yani mengatakan,”SAYA CINTA PANCASILA SAMPAI LIANG LAHATPUN AKAN TETAP KUPERTAHANKAN PANCASILA.” Perkataan dan semangat beliau dibuktikannya dalam peristiwa G 30 S PKI yang akhirnya menjadikan beliau gugur sebagai Kusuma Bangsa Dalam mempertahankan Pancasila di Dalam Liang Lahat. Sebegai benteng Pancasila dan tegak kohnya NKRI.

Korelasi dua fakta sejarah tersebut dengan kondisi politik saat ini adalah diperlukannya figure Kepemimpinan TNI yang bisa melahirkan konsep kebangsaan Indonesia yang tetap memiliki tekan semangat untuk merdeka dan memilik integritas serta mempertahankan idiologi Pancasila. Pada tahun 1946 ketika Bangsa Indonesia harus berkorban nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan justru PKi sibuk dengan urusannya sendir dan ketika di tahun 1965 Indonesia sedang menghadapi kesulitan pangan dan paceklik panjang justru melakukan pemberontakan.

Demikian pula sekarang ini bangsa Indonesia sedang ingin bangkit dari keterpurukan dan membangun kekuatan ekonomi, mereka yang tertarik Komunisme dan PKI justru sibuk dengan pengajuan minta maaf, mengajukan tokohnya untuk menjadi pahlawan, dan memunculkan di forum publik lambing dan symbol komunisme.

Untuk itu Diperlukan Pemimpin TNI yang paham, mengerti, dan peduli terhadap sejarah. Dengan pemahamn sejarah nasional Indonesia tersebut akan selalu menempatkan TNI pada politik Negara Indonesia bukan menempatkan TNI pada penyelenggaraan politik Negara. Bulan ini Bulan September mengingatkan kepada kita pada Proklamsi kemerdekaan yang sudah berumur 70 tahun dan adanya peristiwa gerakan G 30 S PKI. Dua manifestasi sejarah yang memiliki hubungan erat dengan TNi dan kelangsungan hidup bangsa beserta peranannya.

TNI HARUS DAPAT MENJADI FILTER DAN KATALISATOR
Berdasarkan pemahaman sejarah dapat disimpulkan bahwa peran TNI dalam politik Negara adalah menjadi Filter dan katalisator. Yaitu sebuah peran yang memiliki otoritas berdasarkan otoritas yang berlandaskan pada kesepakatan bangsa. Kesepakatan tersebut adalah bersumber pada pengakuan Pancasila dan UUD 1945 Serta NKRI dan Kebhinekaan. TNI dalam peran ini harus mampu memberikan saran dan pendapat bila didapatkan ada salah satu unsur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak beraliansi pada idiologi Pancasila.

Peran TNI dalam Filter dan Katalisator tidak bersifat pasif namun dapat pula bersifat aktif. Tidak melihat dan pandang buylu siapapun yang berpikir diluar pancasila dan UUD 1945 secara aktif TNi sudah otomatis dapat melakukan tindakan. Indikator yang menjadi pedoman pelaksanaan tugas adalah Nilai-nilai Luhur Pancasila dan Sejarah nasional Indonesia Serta Tujuan nasional yang meliputi kpentingan nasional dan arah tujuan nasional.

Sikap TNI adalah sikap Negara dan sikap politik Negara bukan sikap politik penyelenggara Negara. Dalam sikap ini diharapkan TN dapat memperhatikan dan memenuhi kebutuhannya melalui pelaksanaan anggaran Negara tanpa harus mengorbankan eksistensinya sebagi abdi Negara dan abdi masyarakat. TNI juga dapat berperan serta tanpa harus terlibat dan masuk dalam penyelenggaraan Negara. Ini sudah dibuktikan oleh panglima jenderan TNI Moldoko dalam menghadapi konflik Pilpres Jokowi dimana TNI dapat menjadi unsure utama dalam menentukan hasil penyelesaikan konflik dan menentukan kepemimpinan nasional Indonesia.

KONSISTEN TERHADAP KEHIDUPAN PRAJURIT
Salah satu bentuk implementasi dari politik tentara adalah politik Negara tercermin dari sikap yang kosisten terhadap kehidupan prajurit. TNI memiliki keunikan sejarah yang diakui oleh seluruh dunia. Namun demikian masih ada sebagian dari kelompok bangsa Indonesia yang ingin berusaha melemahkan perAnanan TNI dan kekuatannya sehingga kelompok tersebut dapat dengan mudah menyebarkan pengaruhnya guna mencapai tujuan politik kelompoknya.

Konsisten yang dimaksud adalah pedoman dan aturan pembinaan dan kepentingan organisasi tidak berubah ubah mengikuti perkembangan politik dan penyelenggaraannya namun sebaliknya justru kondisi negara dapat dikendalikan oleh kosistensi sikap Prajurit. Ada catatan sejarah di masa Era kepemimpinan Soekarno dimana kehidupan ke Prajurit selalu berubah ubah diantaranya komando dan pengendalian serta tradisi revolusioner yang tidak lagi diarahkan pada kepentingan bangsa dan Negara tetapi terarah pada kepentingan politik pribadi Soekarno sebagai pribadi dan kelompoknya. Kelompok yang dimaksudkan adalah kelompok yang menyanjung, memuji, menghormati beliau dengan dalih revolusi.

Sikap Keprajurit tidak akan tergantikan oleh sebuah kekuasan dan wewenang namun sikap Prajurit justru akan menumbuhkan sikap hidup berbangsa dan bernegara secara mandiri. Karena keprajuritan akan menumbuhkan kembang sikap mental kokoh kuat dan kejuangan yang tangguh serta kepribadian yang beraliansi pada kepribadian pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, sekalipun menhadapi persoalan sulit.

MEMAHAMI SEJARAH DAN NILAI SPIRITUALNYA
Yang menjadi kunci terbentuknya Politik Negara adalah Politik Negara hanya melalui memahami sejarah dan nilai spiritualismenya. Dengan memahami sejarah kita akan dapat pelajaran yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan masa depan, dengan memahami sejarah kita akan mengerti sistim dan kebijaksanaan apa yang diperlukan sekarang, dan dengan memahami sejarah kita dapat memprediksi segala kemungkinan yang akan terjadi. Dan juga kita akan mengerti akibat dan sebab akibat dari perilaku politik komponen bangsanya.

Dalam catatan sejarah Dua pemimpin besar bangsa Indonesia yang bermasalah dengan sejarah yakni Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Permasalahan Presiden Soekarno dengan sejarah adalah menggantikan Dasar Negara dari Pancasila dengan Nasakom di tahun 1965 dan yang kedua adalah memberikan pengampunan kepada anggota PKI dalam peristiwa Madiun 1948. Ternyata kebijaksanaan tersebut justru menimbulkan permasalahan bagi Presiden Soekarno sendiri yang berujung pada diakhirinya kekuasaan Presiden Soekarno di Tahun 1966. Sedangkan permasalahan Soeharto adalah membentuk single mayority atau kekuatan politik tunggal yang tidak sejalan dengan Pancasila dan undang undang dasar 1945.

Namun yang perlu diambil sikap keduanya bagi kepentingan masa depan adalah kedua pemimpin tersebut bias sukses karena memegang teguh Pancasila dan Undang undang dasar 1945. Bukan dengan dengan Idiologi yang lainnya. Dan beliau berdua layak untuk dihormati sebagai orang yang berjasa terhadap bangsa Negara Indonesia.

Sejarah yang wajib diperlajari dan dimengerti oleh seluruh prajuarit TNI adala Sejarah Nasional Indonesia. Sebuah catatan sejarah yang membahas tentang sejarah Wawasan Nusantara, Perjuangan Bangsa Indonesia, Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Perang kemerdekaan, Mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, serta mempertahankan Pancasila Melalui peringatan 1 Oktober 1945 sebagai Hari kesaktian pancasila. Demikian pula adalah sejarah Pancasila Dan Undang Undang Dasar 1945.

MENJADI CONTOH DAN TAULADAN BAGI KOMPONEN BANGSA LAIN
TNI dituntut untuk dapat memberi contoh kepada warga Negara, masyarakat, bangsa dan Negara dalam perilaku Nasionalisme Indonesia dan kesetiannya terhadap Pancasila dan undang undang dasar 1945. Sebagai pedoman dan tolok ukur TNI melaksanakan Politik Tentara adalah Politik Negara adalah Sapta Marga, Sumpah Prajurit, Dan Delapan Wajib TNI.

SAPTA MARGA. BHAYANGKARI NEGARA, TNI Sebagai bayangkhari Negara Indonesia. menjaga, mempertahankan, melindungi, memelihara, dan memantapkan serta mengkokohkan NKRI yang berdasarkan Pancasila Dan undang dasar 1945. Kedudukan TNi bersama rakyat mutlak disini dalam kondisi apapun dan tidak tergantung siapapun yang menjadi pemegang kendali adalah Idiologi Pancasila dan Undang Undang dasar 1945.

SUMPAH PRAJURIT. SETIA Prajurit TNI hanya memiliki satu yaitu rasa setia kepada bangsa dan Negara. Karena didorong oleh rasa setia itu maka TNi akan mengabdikan diri kebada bangsa dan Negara. Setia kepada Rakyat Indonesia dan Pemimpin bangsa Indonesia. Yakni pemimpin yang memiliki mental dan idiologi Pancasila dan berwawasan sejarah nasional Indionesia.

DELAPAN (8) WAJIB TNI. MENGATASI KESULITAN RAKYAT SEKELILINGNYA. Rakyat yang dimaksud adalah bias orang perorang, bias kelompok, bias organisasi, dan bisa perkampungan ataupun wilayah. Demikian istansi, baik instan swasta ataupun pemerintah yang didalamnya ada kekuatan rakyat dan bermanfaat bagi rakyat. Kesulitan yang dimaksud bias diakibat alam dan bencananya, perselisihan dalam kehidupan, dan pertikaian politik karena perbedaan pandangan dan paham politik. Misalnya sikap kewaspadaan terhadap legatis komunisme dan aktivitasnya.

PESAN DAN HARAPAN
Kita adalah Prajuirt TNI pahamilah sejarah dan belajarlah dari sejarah agar diri kita selamat dan terbebas dari konflik politik, sebaliknya kita akan dapat menjadi pendamai bagi kepentingan politik. Satu komando satu aturan dan satu tekad membangun Indonesia berdasrkan Pancasila Dan undang undang dasar 1945. Kita yakin akan kemampuan kita dan kita harus yakin dengan kemandirian kita semua itu dapat terlihat dan dapat meyakin orang serta komponen bangsa yang lain mana kala pemimpin TNI memiliki konsep kebangsaan dan rasa setia kepada bangsa dan negaranya.

Warga Negara Indonesia adalah warga Negara yang bertakwa dan percaya kepada Tuhan maka pencermina sebagai warga Negara yang baik adalah paham dan mengerti akan Pancasila dan undang undang dasar 1945. Mengerti dan paham akan keberadaan juga peran sertanya mari TNI dipelihara dan dijaga dengan baik. Tidak untuk dihujat dan tidak untuk dilemahkan. Segala sesuatu diciptkan pasti ada manfaatnya bukan ada masalahanya. Demikian TNi akan senantiasa Taat setia kepada Negara dan bangsa Indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang undang dasar 1945. Hanya dengan perhatian dan peran serta rakyat TNi dapat bekerja dengan baik.

Tak ada gading yang tak retak dan tak ada perbuatan yang tak memiliki maksud baik. Tulisan ini kami maksudkan untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa serta membangun kehidupan yang rukun, damai, aman, tentram, dan sejahtera berdasarkan Pancasila Dan Undang dasar 1945 bukan dengan paham komunisme dan paham yang lain yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Tulisan ini juga jauh dari kata sempurna untuk itu kami masih membutuhkan koreksi dan masukan untuk melengkapi tulisan ini agar bermanfaat dalam melestarikan kehidupan bangsa. Saya bukan ahli sejarah, saya bukan ahli politik, dan saya bukan ahli militer, dan saya juga bukan ahli hokum tata Negara. Namun saya sedikit mengerti dan memahami sejarah. Berasarkan modal keyakina dengan sejarah yang saya pahami itulah saya memberanikan menulis artikel ini.
Semoga senantias Tuhan Selu bersama bangsa Indonesia dan memilhara motto bangsa Indonesia NKRI HARGA MATI. AMIN !!!!

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: