» » Teknologi Baru + Ideologi Baru = Dunia Baru ?

Ilustrasi Google.
Oleh : Leonardus A Fanuel *)

Di era teknologi ini kita menganggap bahwa teknologi adalah segala-galanya. Dalam pengertian
sempit memang terkesan bahwa teknologi menguasai kehidupan kita saat ini karena dari saat
kita bangun tidur yang kita pertama sentuh adalah gadget terlebih dahulu, demikian juga
waktu kita masuk dalam peraduan, kita atur gadget tersebut apa harus tetap diaktifkan atau
dinon-aktif-kan .  

Pengaruh sosial - media, sebagai buah daripada kemajuan teknologi adalah luar biasa karena pemakainya, selain dari jumlahnya yang sudah mencapai jutaan, juga kepada latar belakang pemegang akun yang spektrumnya sangat luas--- dari seorang anak Sekolah Dasar sampai kepada   kepala negara adi - kuasa juga menjadi pemilik akun sosial media.

Namun disini penulis lebih spesifik mengemukakan pengaruh teknologi digital tersebut dalam
domain institusional.  Bagaimana keuangan / pasar modal dunia bisa “ digoyang” karena adanya teknologi tersebut. Kita ingat apa yang dapat dilakukan oleh seorang George  Soros atau orang-orang setingkatnya. Cepatnya komunikasi sebagai senjata untuk melakukan sesuatu “serangan” oleh
sekelompok orang terhadap suatu target---yang biasanya suatu korporasi besar ataupun suatu negara. 
Ini dilakukan tentunya bukan tanpa alasan, tetapi hal tersebut adalah merupakan sesuatu yang sudah dirancang sehingga targetnya jelas dan akibatnya terukur menurut kehendak sang “ penyerang” . 

Yang jelas banyak hal yang sifatnya politis yang menjadi dasar dari pada aksi tersebut. Suatu pemerintahan yang terkesan tidak sejalan dengan arus jaman bisa saja dijadikan target tersebut. Namun jika yang ditargetkan juga mempunyai “senjata pamungkas’ tentunya tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan, namun jika pemerintah tersebut berada dalam posisi lemah, dengan mudah bisa dilibasnya yang mengakibatkan kekacauan ekonomi, hancurnya pasar modal yang ujung-ujungnya membuatnya sebagai negara gagal.

Selain itu teknologi juga bisa merupakan senjata bagi sang pemilik teknologi tersebut. Adalah suatu kejadian beberapa tahun yang lalu dimana di suatu lokasi di negara Rusia terjadi ledakan hebat yang terpantau oleh satelit negara Barat. Ternyata ledakan tersebut terjadi di suatu kilang minyak sebagai
akibat daripada  “dikacaukannya”  pusat sistem kontrol kilang tersebut dimana konon volume  BBM yang mengaliri pipa-pipa yang ada tidak bisa dikontrol oleh sistem yang ada, namun dikuasai / diatur
dari jarak jauh oleh sang pemilik teknologi tersebut sebagai “ balas dendam” atas  di-“curi”-nya
rahasia yang menyangkut sistem tersebut, namun sang pemilik sistem rupanya masih  punya  “reserve technology”yang tidak diketahui oleh pihak yang mengambil tanpa izin tersebut, maka terjadilah insiden seperti  diatas. 

Selain itu  kitapun paham soal curi-mencuri data di jaman  sekarang ini tentu tidak seperti yang kita
lihat di film-film detektif/spy di jaman dulu yang mana si pelaku mengambil data rahasia dengan memotretnya, yang hasilnya mungkin cuma beberapa atau puluhan  halaman saja. Namun, di era digital ini yang dicuri bisa diasumsikan sama dengan isi sebuah PERPUSTAKAAN BESAR. Jadi dapat kita bayangkan kerugian di pihak yang jadi korban tersebut.

 Sebenarnya banyak contoh - contoh lain, terutama di bidang  perangkat keras militer <ALUTSISTA>  yang didatangkan dari negara lain . Bukan rahasia lagi bahwa pemilik teknologi militer/ pengekspor mempunyai kiat-kiat  tertentu dimana negara tersebut menjual kepada  negara pembeli biasanya versi KW-2 nya ataupun ada sistem khusus yang bisa  membuatnya kurang berfungsi jika suatu waktu negara pengimpor  “balik arah” terhadapnya. Memang  hal tersebut   belum terbukti nyata secara masiv karena setelah Perang Dunia II kita belum mengalami konflik besar se-level perang dunia. 

Disisi lain kita menyaksikan bahwa di saat ini masyarakat dengan mudah tergerak hanya karena satu isu saja. Sebagai contoh, kita lihat dalam kejadian  “Cicak vs Buaya jilid I”dimana penggunaan sosial media menjadi senjata yang ampuh untuk menggalang opini masyarakat sehingga adanya dukungan beribu-ribu orang dalam kapasitas sebagai “follower” didunia maya maupun unjuk rasa untuk isu yang diangkat pada waktu itu, demikian untuk isu-isu yang terjadi selanjutnya, sehingga terjadi kegamangan pada pihak-pihak terkait. 

Sebenarnya, dalam pelaksanaan hukum positip di negara yang berlandasan hukum tidaklah boleh terpengaruh oleh apa yang terjadi diluar jalur hukum itu sendiri yang ujungnya adalah keputusan pengadilan dari tingkat awal sampai ahirnya di Mahkamah Agung. Memang hukum perlu juga mengadopsi azas keadilan, namun atas diskresi sang Hakim yang yakin atas keputusannya, dimana ia secara moril mempertanggung-jawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dia berani teguh pada pendiriannya apapun akibatnya.

Banyaknya “peserta” dalam penentuan segala kebijakan publik seakan “menggerus” kewenangan yang ada pada pemerintahan ---baik itu eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Jadi parlemen/legislatif sekarang bukanlah satu-satunya institusi yang mewakili rakyat dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Kelompok-kelompok, baik yang namanya LSM, Ormas, Perkumpulan atau orang-orang yang dibayar untuk lantang berteriak atas sesuatu yang Dia sendiri barangkali kurang paham,  yang selalu “manggung”  atas isu apapun yang dianggap tidak sejalan dengan pihak terkait . 

Hal tersebut tentunya juga sering merepotkan pihak POLRI yang senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban dimana  hal tersebut terjadi. Pada suatu tulisan sebelumnya penulis menyitir suatu pernyataan dari Washington Post yang mengatakan bahwa : power is becoming harder to use and easier to lose . < kekuasaan menjadi makin sulit untuk mengesekusinya dan mudah rontok.Ini sebenarnya masih lebih lumayan dibanding kalau: … power is harder to hold…. Yang bermakna bahwa kekuasaan itu makin  sulit  untuk  dipertahankan , yang artinya para pemangku kekuasaan bersiap untuk lengser, kapan saja. 

Apa semua ini  disebabkan oleh kelompok yang ber-ideologi” anti kemapanan” atau bagaimana.Yang jelas sebagian orang sekarang tidak lagi menjadikan Partai Politik yang ada sebagai  tempat curahan aspirasi mereka, karena di parpol bagaimanapun ada birokrasi yang harus dijalani dan hal tersebut dirasakan “merepotkan” mereka. Sebagai indikatornya bahwa prosentasi golput pada pemilu yang lalupun masih cukup tinggi.

Mempelajari  sekian  banyak  definisi  dari pada istilah IDEOLOGI ,penulis lebih condong memilih yang satu ini yang sangat  sederhana  yang berbunyi sbb: Ideology  is a manner or content of thinking characteristic of an individual/group/culture. Yang artinya semata-mata adalah : ideologi adalah suatu pola atau bobot/isi pemikiran yang menjadi ciri khas seseorang /kelompok/budaya.  

Rasa-rasanya definisi inilah yang paling cocok untuk menggambarkan bahwa yang disebut dengan ideologi dalam tataran praktis adalah berdasarkan kesamaan cara berpikir < yang mungkin keliru> diantara sekelompok orang yang dapat mengakibatkan  “geger “ se-kampung/ se-kota atau bahkan lebih luas lagi.

Inilah gambaran sesungguhnya yang harus kita cermati karena mereka tidak perlu harus tampil dalam jumlah  besar  ,tidak kasat mata , tidak meggunakan atribut apapun  , karena  kesammaannya adalah dalam “content” pikiran/gagasan  yang ada dalam  benak mereka --- tidak tampak  dari luar, yang biasa dalam  dunia intelijen disebut “clandestine”. Jadi  baik  kelompok  yang “besar”  maupun yang “kecil” namun lebih  kohesif, sama-sama dapat menimbulkan  “end result”/produk yang sama-sama dapat membuat pemangku kekuasaan  “pusing  tujuh  keliling “.

Pemerintah  yang  cerdas tentu dapat melakukan  pendekatan  dan merangkul mereka sehingga mereka bisa diajak berjalan dalam koridor yang tidak melenceng. Karena pada dasarnya manusia perlu didengarkan apa aspirasinya. Usaha tersebut tentu memerlukan kiat-kiat khusus yang penuh kesungguhan dan tulus supaya hasilnya optimal, disamping itu juga hal tersebut memerlukan dana yang  tidak sedikit.

Dunia baru yang bagaimana yang kita aspirasikan ditengah hiruk-pikuk yang terjadi di sekeliling kita. Itu semua ditentukan oleh banyak hal, baik di dalam negeri kita ataupun di panggung dunia yang seakan kita tidak ikut  “bermain” tapi tahu-tahu terkena imbasnya, yang biasanya dampak  negatiflah yang kita tuai. Dunia ini memang sudah “tua” dan makin kompleks.

Di masa lalu dunia ini bisa dibikin kacau karena “ideologi” segelintir kecil orang saja. Kiranya
Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat meluputkan kita dari hal-hal dapat mencelakakan, sebaliknya memberikan kita “ Dunia Baru”  yang mencerahkan. Semoga.

*)Penulis adalah Pemerhati Politik, Ekonomi, HAM.





«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: