» » Pencerahan Menjelang Sahur, Tentang Hak Peserta BPJS

Oleh : Iwan Mulyadi, S.P *)

Orang bijak mengatakan setiap musibah selalu ada hikmahnya. Ini pengalaman pengalaman, Maman Sagiman (32) warga Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran. Ayahnya, Tukijo (60), harus dirawat karena terkena penyakit akut, penyempitan pembuluh darah, pembengkakan pada paru-paru dan jantung.

“Untungnya kami sekeluarga telah menjadi peserta BPJS.”kata Maman. (Inilah keistimewaan orang Indonesia, bahwa setiap musibah tidak seluruhnya merupakan kerugian tapi selalu ada untungnya…Aneh memang!)

“Dari kejadian tersebut, maka inilah saat  pertama kalinya ayah saya mendapat hak sebagai peserta BPJS.“ujar Maman.

Sehubungan penyakit yang menimpa ayahnya luar biasa gawat, dan fasilitas di Puskesmas Pangandaran sangat terbatas akhirnya harus dirujuk ke Rumah Sakit Banjar Patroman.

***

Tengah malam, diruang HCU saat mendampingi pasien, Maman mencoba berbincang dengan Ferry, perawat jaga untuk menghilangkan rasa ngantuk.

Dari perbincangan dengan perawat tersebut, Maman mendapat pengetahuan pertama tentang hak sebagai peserta BPJS. Bahwa biaya ambulance dari Puskesmas Pangandaran ke RS Banjar Patroman, Kotamadya Banjar, ditanggung BPJS. Sebab saat itu kondisi pasien masuk katagori ‘Gawat Darurat Medis’.

Dalam kondisi tersebut,  maka pihak Puskesmas memberi  rujukan pada rumah sakit memiliki fasilitas dan alat yang sesuai dengan tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien, meskipun diluar wilayah Kabupaten atau kota.

Kemudian diketahui bahwa ternyata pasien bisa pindah fasilitas kesehatan diluar haknya, dengan syarat bersedia membayar biaya tambahan. Hal ini disebabkan pasien mendapat fasilitas diluar haknya.

“Selain itu, peserta BPJS tidak boleh meminta rujukan dari ke rumah sakit  (RS) atau ke dokter spesialis sesuai keinginan kita. Dokterlah yang akan memmberikan rujukan sesuai pertimbangan medis. Jadi pemberian rujukan tidak berdasarkan permintaan peserta.”Ujar Ferry.

Lebih lanjut Ferry menuturkan, bahwa terkadang  beberapa dokter mungkin tidak mau berpanjang-panjang ribut bila peserta ngotot meminta rujukan. Namun resiko penolakan oleh RS atau spesialis adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Jadi, dalam hal ini, sebaiknya peserta menuruti apa yang disarankan oleh dokter.

“Mengenai biaya, setiap penyakit atau diagnosa sudah disistem paket. Paket yang diberikan adalah untuk semua pelayanan, mulai administrasi, obat, laboratorium dan jasa dokter. Sistem paket artinya, biaya yang disebutkan harus cukup untuk suatu kasus/diagnosa.Ini bukan sistem plafon, jadi tidak boleh nambah biaya.”Jelas Ferry.

Lebih jauh Ferry menegaskan, sepanjang peserta BPJS berobat sesuai haknya, dijamin tidak mengeluarkan uang sepeserpun, alias gratis!

“Terima kasih Pak Perawat, saya telah mendapatkan pencerahan dan pengetahuan tentang hak sebagai Peserta BPJS.”ujar Maman.

Ah…tak terasa pembahasan seputar hak sebagai peserta BPJS begitu mengasyikan. Jam telah menunjukkan Jam 03.45 WIB. Mereka pun harus mengakhiri perbincangan untuk makan sahur.(***)

*)Penulis adalah Jurnalis Seputar Jabar Online, tinggal di Kabupaten Pangandaran

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: