» » » Momentum Idul Fitri bagi TNI

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam, hari kemenangan dan hari kesucian kembali lepas dari kekotoran-kekotoran yang melekat selama setahun yang lewat. Secara umum umat Islam memahami bahwa di hari tersebut setiap manusia yang telah lolos menjalani ujian selama bulan suci Ramadhan akan dikembalikan ke fitrah nya seperti bayi yang baru lahir. Ibarat sebuah hard disk computer, manusia baru saja di format ulang agar program dan data yang tidak perlu dan bahkan mengganggu dapat hilang, dan kemudian bisa diisi kembali dengan data-data atau program yang baik dan lebih bermanfaat.

Hari ini adalah hari-hari terakhir menjelang hari raya Idul itri. Bulan Ramadhan yang suci tinggal menyisakan sedikit waktu sebelum pergi berlalu dan hari yang fitri sudah mengantri di kedalaman ufuk timur untuk segera menampakkan wajahnya kepada kita. Harapan untuk menjadi manusia yang fitri tinggal menunggu waktu, ibarat petani yang telah siap untuk panen.

Dalam waktu dua hari berturut-turut di penghujung bulang suci ini, terjadi pergantian jabatan yang sangat strategis dan paling berpengaruh di negeri ini, yaitu Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat. Pimpinan organisasi yang paling menentukan jalannya sejarah negeri sejak proklamasi kemerdekaan hampir 70 tahun yang lalu. Terlepas dari beberapa ‘riak kecil’ yang mengiringi proses pergantian ini, namun hal itu telah terjadi dan diterima oleh seluruh penduduk negeri. Pergantian pucuk pimpinan dua organisasi terpenting di negeri ini pada waktu yang hampir bersamaan dengan Idul Fitri ini merupakan momentum penting yang hendaknya disikapi dalam nuansa kontemplasi serta introspeksi diri oleh seluruh prajurit TNI.

Ibarat umat muslim yang hampir selesai mengikuti ujian selama satu bulan, TNI juga baru saja melewati beberapa ujian selama bulan Ramadhan tahun ini, mulai dari kecelakaan pesawat Hercules di Medan hingga perkelahian prajurit TNI-Polri di Semarang maupun Papua Barat dan beberapa konflik di Sulawesi Selatan. Hasil dari pelaksanaan ujian tersebut tentu saja akan dapat dilihat setelah hari raya Idul Fitri terlewati, apakah ada perubahan menjadi lebih baik ataukah sama saja dengan kemaren, bahkan lebih buruk. Jika umat Islam mampu menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik setelah kembali dari perayaan Idul Fitri, maka dapat dikatakan bahwa umat Islam telah lulus dalam ujian. Demikian juga TNI, mampukah menjadi organisasi yang lebih baik atau lulus ujian setelah dilakukannya pergantian pucuk pimpinan?

Terkait hal ini, kita berharap agar pergantian pucuk pimpinan TNI dan TNI AD menjelang hari raya Idul Fitri ini menjadi momentum untuk mengembalikan jati diri TNI kepada fitrahnya, layaknya umat Islam yang kembali menjadi seperti bayi yang baru lahir. TNI haruslah kembali kepada jati diri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan profesional secara hakiki, bukan sekedar obsesi atau retorika basi.

Perjalanan panjang TNI di negeri dengan hiruk pikuk politik ini, mau tidak mau harus diakui, memang telah ‘mengotori’ fitrah atau jati diri TNI sebagai prajurit yang tugas pokoknya adalah bertempur. Berbagai tarik menarik kepentingan baik eksternal maupun internal telah membawa TNI pada wilayah yang ‘abu-abu’ dan mempengaruhi pola piker, pola sikap serta pola tindak para prajuritnya. Sebagai akibatnya, TNI justru cenderung lebih asyik memasuki wilayah dan mengurusi banyak hal diluar domain tugas pokoknya. Akhirnya, karakter dan tuntutan-tuntutan sebagai militer profesional yang didukung dengan alutsista memadai pun semakin melemah.

Berbagai kecelakaan yang melibatkan alutsista TNI dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian materiil yang cukup besar menjadi salah satu refleksi dari kondisi tersebut. Demikian juga dengan masih belum hilangnya konflik antara prajurit TNI dengan Polri maupun masyarakat, keterlibatan prajurit dalam penyalahgunaan narkoba maupun penyalahgunaan wewenang unsur pimpinan dalam mengelola uang negara juga merupakan indikator yang sangat jelas dari semakin lemahnya jatidiri atau fitrah TNI.

Oleh karenanya, besar harapan masyarakat agar pergantian pucuk pimpinan TNI ini disikapi seperti hari raya Idul Fitri yang kebetulan waktunya hampir bersamaan, untuk kontemplasi dan introspeksi untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya kembali kepada fitrah TNI. Semoga para pimpinan TNI yang baru dapat membawa TNI untuk keluar sebagai pemenang dari berbagai ujian selama bulan yang suci ini, seperti umat Islam yang telah keluar sebagai pemenang ketika mampu melewati ujian selama sebulan menunaikan ibadah puasa dengan benar, dan akhirnya menjadi manusia yang bertakwa. Semoga (Pendam III/Siliwangi)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: