» » Menyoal Kemajemukan di Bumi Pertiwi

Oleh Adrian Chandra Faradhipta*)

Akhir-akhir ini kita disuguhi sajian media baik elektronik dan cetak yang membahas tentang persoalan di Tolikara. Bahkan Presiden Jokowi mengundang para tokoh agama untuk hadir ke Istana Negara sebagai bentuk rekonsiliasi umat beragama di Indonesia.

Positif memang walau hal tersebut cukup terlambat dilakukan ketika konflik telah terlanjur terjadi ditengah aparatur negara yang harusnya  dapat dengan sigap mencegah hal demikian terjadi melalui Badan Intelejen Negara, Kepolisian, sertapi hak terkai tlainnya.

Tidak hanya di Tolikara riak-riak kecil pun sering terjadi di berbagai belahan bumi pertiwi, tidak sebatas hal-hal yang berkaitan dengan agama, tetapi juga berkaitan dengan kesukuan, etnisitas, status ekonomi dan variabel sosial lainnya. Kejadian demi kejadia nmembuat publik tentu bertanya apakah ini nilai yang kita kedepankan selama ini? Apakah Bhinneka Tunggal Ika hanya semboyan belaka? Ataukah kita semakin egois lalu dengan semena-mena melupakan saudara sebangsa kita?

Kemajemukan Indonesia

Majemuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan terdiri atas beberapa bagian yang merupakan kesatuan, dengan kata lain kemajemukan diartikan dengan keanekaragaman. Kemajemukan dalam kehidupan berbangsa kita adalah hal yang lumrah dalam masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, para penggagas bangsa ini jauh hari dengan visioner menetapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda namun tetap satu) sebagai semboyan bangsa.

Kita patut berbangga bahwa negeri ini adalah negeri yang paling beragam di seluruh dunia. Tidak akan kita temui satu negara pun di dunia yang seberagam negeri ini. Dengan memiliki setidaknya 17.508 pulau pada tahun 2010, Ketua BPS saat itu, RusmanHeriawan mengatakan bahwa setidaknya kita memiliki 1.128 suku bangsa yang berhasil didata. Untuk bahasa daerah menurut Kepala Pusat Bahasa Depdiknas, Dr DendySugondo di Jakarta, dalam penyelenggaraan Kongres Bahasa Indonesia IX di Jakarta, pada 28 Oktober- 1 November 2008 diperkirakan ada sekitar 746 bahasa daerah. Namun yang berhasil dipetakan ada 456 bahasa daerah. Sisanya kebanyakan bahasa daerah yang punah dan belum sempat terdata berada di luarJawa. Sebuah indikator yang absolut bahwa bangsa ini adalaha bngsa yang majemuk. Sangat berbeda jika kita melihat di luar sana bahwa satu bangsa pun dapat terbelah menjadi dua negara seperti Korea Utara dan Korea selatan, maupun Sudan dan Sudan Selatan.

Faktanya bahwa Republik ini masih tegak berdiri di tengah terjangan globalisasi bahkan McKinsey memperkirakan pada 2030 Indoensia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 7 mengalahkan Inggris dan Jerman. Yang lebih penting adalah sebuah keberhasilan yang gemilang bagi Indonesia setelah hampir 70 tahun merdeka kita tetap dapat mempertahankan kemajemukan tersebut walaupun harus diuji dan dibumbui riak-riak kecil.Bahkan,hal tersebut dapat menjadi penguji yang objektif terhadap soliditas dan solidaritas bangsa ini.

Sungguh suatu bentuk pengerdilan rasa persatuan jika sebagian dari kita seringkali mudah terpancing dengan isu-isu ataupun berita picisan yang menyulut api kemarahan dan kebencian sesama kita. Kita perlu belajar dan membangun komunikasi yang intensif untuk menjembatani perbedaan tersebut. Bukan dengan memanas-manasi konflik yang tengah terjadi terlebih termakan isu-isu media massa yang tidak jarang mulai kehilangan marwah jurnalismenya dalam membahas suatu topik dengan tujuan mendidik dan menginformasikan secara netral serta mengetengahkan perspektif kedua belah pihak yang bersengketa.

BelajarArtiKemajemukan

Saya pribadi sungguh beruntung menemukan arti tenggang rasa dan kesatuan sebagai berbangsa Indonesia dalam beberapa kesempatan mewakili Indonesia dan bergabung dalam organisasi internasional seperti Pertukaran Pemuda Indonesia-Korea Selatan (PPIKor), AIESEC, dan Almuni Association of Indonesia Korea Youth Exchange Program (AIKUNA) serta beberapa acara dan kegiatan internasional lainnya.

Saya dapat bertemu dengan sahabat-sahabat dari seluruh Indonesia dengan latar belakang dan kemajemukan yang luarbiasa, walau dibumbui dengan perdebatan dan pertengakaran kecil tetapi itu semua hanyalah proses untuk saling mengerti dan kembali menyatukan pemikiran kami untuk terus bersatu dalam menunaikan misi bersama mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.

Tidak hanya itu interaksi dengan kawan-kawan diaspora di berbagai belahan dunia membuka mata saya akan kebanggaan menjadi seorang warganegara Indonesia, Mereka dengan sukarela dan teguh memegang nilai-nilai Indonesianya tanpa harus memaksa diri mengubah kewarganegaraannya hanya demi status sosial atau pun kemudahan-kemudahan yang didapatkan setelahnya.

Di negeri sendiri pun kita tentu banyak belajar akan arti pemaknaan kemajemukan itu. Saya sungguh terharu ketika suatu saat adzan berkumandang dengan sopan seorang teman Nasrani mengingatkan saya untuk bersegera menunaikan sholat, atau pun ketika beberapa teman saya yang Hindu dan Buddha dengan maksud meluruskan pandangannya bertanya secara langsung tentang pandangan Islam terhadap ekstremisme yang terjadi dan setelahnya mereka dengan tulus menyampaikan kepada orang lain bagaimana wajah Islam yang penuh damai sebenarnya.

Dari kehidupan sehari-hari pun kita pasti sering menemukan berbagai hal-hal kecil tapi bermakna yang membuat kita semakin belajar arti persatuan. Apakah itu di tempat kerja, di sekolah, di fasilitas umum, di lingkungan rumah, dan lain sebagainya.

Namun,akhir akhir ini pembelajaran diri kita akan kemajemukan semakin kabur oleh konsumsi terhadap sajian berita dari media massa yang sering tidak konsisten dan cenderung memihak dipenuhi bumbu-bumbu  komersial.

Aturan yang cenderung abu-abu dan law enforcement yang lemah dengan tameng kebebasan pers menjadi katalisator pemberitaan yang cenderung memihak dan tidak komprehensif. Beberapa contoh tentang kaburnya pemberitaan di media massa akhir-akhir ini misalnya saja tentang status penyebutan teroris yang selalu dikaitkan dengan Islam padahal tidak selalu Islam berkaitan dnegan teroris dan penyebutan Islamic State atau Negara Islam.Tindakan yang patut dipuji justru datang dari Inggris, ketika Perdana Menteri David Cameron mengoreksi dan menyurati BBC dalam penyebutan Islamic State bagian organisasiterori ISIS dan ISIL yang cenderung disalah artikan bahwa mereka merupakan bentuk representatif Islam dan berpotensi menyakiti masyarakat Islam secara global.

 Terlepas dari itu semua kita patut apresiasi bahwa masih ad ajuga media massa kita yang mencoba secarao bjektif untuk menyampaikan informasi secara professional dan tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalisme.

Refleksi Diri

Di tengah kemajemukan ini ada satu hal yang sering menjadi persoalan kita bersama yaitu pengabsolutan benar arti semua tindakan kelompok maupun golongan kita masing-masing. Kita terjebak dengan konsep “Sayaa tau kelompok saya adalah yang paling benar”atau bisa disebut dengan pengkultusan diri dangolongan. Kita lupa bahwa tidak ada sesuatu yang absolut benar dan tidak ada suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan jika kita sama-sama berkepala dingin untuk membangun komunikasi..

Menjadi PR besar kita bersama juga untuk mulai membentengi dan menyortir diri kita dari terpaan informasi di negeri ini yang cenderung berpihak atau pu nmembumbuinya secara berlebihan. PR bagi pemerintah dan media massa kita juga untuk dapat secara objektif menegakkan aturan tentang keterbukaan informasi publik yang berimbang dan mendidik bukan roman picisan yang hanya mengedepankan aspek komersial atau pun kepentingangolongan.

Kita juga tidak boleh dengan serampangan mudah tersulut kebencian tanpa mencari informasi yang komprehensif tentang semua hal yang terjadi di sekitar kita. Kita sebagai Indonesia harus yakin dan pecaya bahwa sejarah panjang bangsa ini terlalu murah dan kecil jika tergoyahkan hanya karena riak-riak kecil golongan yang lupa akan arti kemajemukan tanpa harus melupakan identitas pribadi dang olongan kita.

Salam Kebhinekaan. (***)
.
*Penulis adalah alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Korea Selatan (PPIKor) 2012

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: