» » Menjelajah 'tugas mulia' jurnalis dan peranannya dalam meliput konflik dan bencana


SJO BANDUNG - Konflik dan Bencana merupakan dua hal yang acap kali terjadi secara tiba-tiba. Dalam kedua hal tersebut, pastinya akan melibatkan banyak pihak, juga menimpulkan dampak positif maupun negatif. Setiap terjadi konflik dan bencana, jurnalis berperan penting dalam penyampaian informasi maupun situasi yang sedang terjadi.

Jika terjadi bencana alam, jurnalis dituntut siaga, dalam arti mengerti maupun paham apa yang terjadi, turun ke lapangan, dan diharuskan bekerja dalam situasi darurat dan tentunya harus tetap memperhatikan deadline. Dalam terjadinya konflik, jurnalis dituntut memiliki peran aktif mendamaikan, dalam arti menjadi pihak yang netral sesuai kode etik jurnalistik.

Maria D. Andriana, selaku jurnalis yang berpengalaman mengatakan, dalam terjadinya bencana, media seharusnya berperan selaku "membangkitkan semangat" para korban.

Dalam artian, jangan sampai korban yang diberitakan dengan tujuan mendapat bantuan jadi hanya mengandalkan bantuan, namun jurnalis harus menyadarkan mereka dengan memberitakan korban - korban lain yang masih mempunyai semangat melanjutkan hidupnya dan tidak putus asa, agar menjadi acuan.

Selaku jurnalis berpengalaman, dirinya berpesan agar dalam meliput suasana genting dalam bencana alam, jurnalis jangan berbuat "konyol". Jurnalis seharusnya memperharitikan track tempat tujuan, memastikan dirinya aman dan tidak ikut menjadi korban. Misalnya, dalam meliput gunung meletus jangan menggunakan sepatu berbahan karet mengingat lava yang panas.

Dalam meliput konflik, jurnalis pun seharusnya lebih faham mengenai "cover both side" dalam menghadirkan narasumber-narasumber yang melihat konflik tersebut. Jangan sampai, apa yang ditampilkan menjadi tontonan yang hanya berisi perdebatan semata.

"Jika sampai seperti itu, berarti jurnalisme tidak menyumbangkan apa-apa" ujar Maria Hartiningsih yang juga selaku jurnalis yang sudah berpengalaman dalam workshop "peliputan jurnalis perempuan meliput konflik dan bencana" yang diadakan di Hotel Zodiak, Jalan Kebon Kawung No.56, Jumat (31/7).

Dirinya menambahkan, dalam meliput bencana, jurnalis semestinya tidak melakukan "jurnalisme ludah" yang artinya terus menekan narasumber yang memang tidak tahu persis mengapa bencana itu terjadi.
Diharuskan juga mempunyai kemampuan mengolah fakta yang mengandung banyak informasi-informasi yang bisa disampaikan.

Ridlo eisy, selaku anggota dewan pers menekankan, mengapa pers mempunyai bentuk perlindungan yang besar. Dikarenakan pers mempunyai peranan penting. "Wartawan mempunyai tugas yang mulia, karya jurnalistik mempunyai pesan yang bermakna dan informasi yang berguna" tandasnya.(Vio)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: