» » » Melalui 5 P, Aher Sosialisasikan “Internet Sehat” Untuk Anak Indonesia


SJO BANDUNG – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2015, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) didampingi Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Prasetiyani Heryawan, melaksanakan sosialisasi penerapan “Internet Sehat”, di kawasan Dago Car Free Day, Minggu (26/07) pagi.

Pada sosialisasi tersebut, Aher dan Netty membagikan selebaran mengenai bahaya internet bagi anak, dan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi konten internet yang dapat diakses anak.

Berdasarkan data Survey Cyber Crime tahun 2014, sebanyak 9% pengguna internet pernah mendapat konten kekerasan, radikalisme, hingga terorisme. Selain itu, 64% pengguna internet pun pernah mendapat konten pornografi. Sedangkan 49% pengguna tidak mengetahui bahwa dalam game (online) yang dimainkan terdapat kategori batasan umur. Untuk itu, melalui sosialisasi ini Aher mengajak masyarakat untuk melakukan pola “Internet Sehat” dengan 5P, yaitu:

1.  Pastikan komputer disimpan di ruangan yang terlihat oleh semua
2.  Pergunakan penapis (filter) anti porno dan konten berbahaya
3.  Periksa berkala gawai anak Anda
4.  Pelajari rating konten di Internet
5.  Perkuat iman dan kasih sayang di keluarga

“Dengan internet sehat, diharapkan perkembangan kedewasaan psikis anak berjalan optimal, sebanding dengan kedewasaan biologisnya," ungkap Aher ditemui usai aksi sosialisasi.

“Jangan sampai kedewasaan biologis lebih tinggi daripada kedewasaan psikis anak, bisa berbahaya," tambahnya.

Disamping itu, Netty Heryawan juga menekankan bahayanya dampak penggunaan internet oleh anak yang tidak diawasi orang tua, diantaranya penyiksaan (bullying), kekerasan seksual, hingga menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).

Seperti dikutip dari press release SoB, Inc (Striving on Branding), Netty menambahkan, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga April 2015 menunjukkan bahwa masalah terkait anak berturut-turut meliputi kasus anak berhadapan dengan hukum mencapai 6.006 kasus, kasus pengasuhan (3.160 kasus), kasus pendidikan (1.764 kasus), kesehatan dan napza (1.366 kasus), dan cybercrime-pornografi (1.032 kasus).

“Di Jawa Barat, kasus kekerasan seksual pada anak masih mendominasi aksi kekerasan anak," pungkas Netty.

“Hingga bulan Juni 2015 ini ada 55 kasus kekerasan seksual pada anak yang dilaporkan pada P2TP2A Jabar, belum lagi pada lembaga terkait lain," sambungnya.(r/Dn)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: