» » Dunia Penerbangan Indonesia . Quo Vadis ?

Oleh : Leonardus A Fanuel *)

Dalam kurun waktu 7 bulan terakhir kita menyaksikan  Dua kecelakan pesawat terbang dan satu kejadian pada wahana pendukungnya yaitu kebakaran yang terjadi di terminal II E Bandara Soekarno - Hatta, kebanggaan setiap warga Indonesia. Apa yang terjadi pada akhir tahun lalu (Desember 2014) , pada penerbangan Air Asia dari Bandara Juanda, Surabaya ke Bandara Changi, Singapura yang jatuh di perairan Kalimantan Barat , sampai saat ini kita belum mendapatkan kejelasan apa sebenarnya penyebab dari pada kecelakaan. Karena KNKT sebagai pihak yang berwenang dalam melakukan investigasi atas kejadian tersebut belum menyampaikannya, sehingga tidaklah bijak kalau ada pihak yang berspekulasi atas penyebab utama kejadian tersebut. Namun demikian tampaknya publik Indonesia, khususnya halayak penumpang angkutan udara, tidak terlampau terganggu dan trauma atas hal tersebut, sehingga seolah “ business as  usual” --- bandara dipenuhi dengan para calon penumpang ,kemanapun arah penerbangannya dan apapun maskapainya. Mungkin hal tersebut karena tidak ada pilihan moda transportasi yang lebih cepat atau ada pemikiran bahwa kecelakaan toh hanya terjadi sekali - kali saja jadi kenapa harus hawatir berlebihan. Kalau dilihat dari sudut pandang penumpang memang hal tersebut dapat dipahami.

Apa yang terjadi dengan pesawat Hercules AURI kita di Medan terahir ini tentu agak berbeda dengan kejadian pada pesawat Air Asia diatas karena yang terahir ini terjadi dalam rangka tugas kedinasan yang melibatkan personil dan juga logistik, disamping mengangkut keluarga TNI dan masyarakat sipil lainnya. AURI sebagai pemangku kepentingan utama tentulah paham benar segala permasalahan internal yang tidak begitu dipahami oleh masyarakat luas pada umumnya.

Namun, apapun konteks dan penyebabnya toh itu telah terjadi , sudah ada korban, baik yang berada di pesawat itu sendiri dan juga pada masyarakat yang kebetulan tertimpa reruntuhan dari pada jatuhnya pesawat tersebut, baik jiwa maupun harta benda .

Diatas itu semua tentunya para anggota keluarga yang ditinggalkan. Para orang tua, istri/suami, anak-anak yang ditinggal akan merasa kesedihan yang sangat mendalam, yang dampaknya bukan cuma sesaat tetapi bisa sampai waktu yang sangat lama. Itu semata-mata dikarenakan hubungan kekeluargaan yang putus karena suatu kecelakaan yang tragis tentu meninggalkan efek psikologis yang mendalam, yang perlu menjalani penanganan yang tepat dan efktif supaya yang bersangkutan bisa mengatasi “luka batin” dan dapat menjalani kehidupan ini dengan kesadaran atas segala resikonya dan bersandar pada Yang Maha Kuasa.

Yang terahir terjadi di salah satu lounge di Bandara Soetta membuat mata kita terbelalak. Koq kejadian tersebut tidak dapat diatasi dengan cepat, yang ujung-ujungnya telah menyebabkan serangkaian akibat buruk di berbagai bandara di dalam negeri maupun di luar negeri, sebagai akibat dari pada pembatalan sejumlah penerbangan yang terutama menyangkut Maskapai Garuda. Beribu calon penumpang tertahan di berbagai bandara tentunya mengalami kerugian waktu dan kesempatan untuk melaksanakan hal-hal penting yang sudah dijadwalkan . Kompensasi kerugian yang diberikan tentu sangat tidak memadai dengan hilangnya kesempatan yang dimaksud. Terlebih lagi kelihatan para crew di darat tidak begitu luwes untuk melayani berbagai pertanyaan para penumpang yang kecewa tersebut, walaupun hal tersebut merupakan force majeure tetapi jawaban yang tepat, pelayanan yang ramah disertai dengan empati itulah, diharapkan para penumpang dalam situasi demikian. Tampaknya  kita masih memerlukan waktu untuk sampai ke  tingkat itu .

Bagi yang punya pengalaman menjadi pemasok material kepada perusahaan penerbangan , tentulah sangat paham falsafah dalam dunia tersebut yang menjunjung tinggi motto “ no tolerance for any error ‘” yang menjadikan “ zero  accident”. Sebagai ilustrasi Quality Control Department < QC>  bisa menolak barang  yang ber - klasifikasi “air-borne” alias yang langsung berada atau dipakai di pesawat, yang kemasan luarnya penyok /”dented” , itu adalah SOP dari pada QC tersebut karena tentu dikhawatirkan ada dampak pada isinya, hal tersebut tampak sangat ”keras” tetapi mau tidak mau harus dilaksanakan, kecuali jika ada kekecualian alias ada faktor   “X”  dan hal tersebut tentu suatu saat bisa berbahaya dan bukan tak mungkin menjadi penyebab kecelakaan di saat tertentu.

Masih segar dalam ingatan kita2 bahwa maskapai penerbangan Garuda dan anak perusahhannya Citilink, beserta maskapai Indonesia lainnya pada suatu kurun waktu yang lalu 2007-2010 pernah dilarang untuk mendarat di bandara-bandara yang ada di benua Eropa. Hal tersebut tentulah sangat memprihatinkan dan menyedihkan. Namun tentunya mereka mempunyai  “alasan” tertentu untuk hal tersebut. Kita perlu melakukan introspeksi bukan cuma sekedar balas-membalas saja. Jika sampai maskapai Garuda sebagai ”Flag Carrier” negara Indonesia dianggap kurang berbobot---untunglah larangan tersebut tidak berlangsung terlampau berkepanjangan .

Demikian juga dengan RUPIAH yang kita bawa ke luar negeri yang kadang seolah dianggap sebagai valuta tidak bernilai dan sejumlah Money Changer menolak menukarkan dengan valuta negara lain ---alangkah menyedihkan.

Terlebih lagi kalau kita sampai malu dengan paspor REPUBLIK INDONESIA yang kita bawa. Jadi mau tidak mau kita menyadari bahwa satu dan lain hal itu sesunggugnya berkait-kaitan  , tidak bisa dipandang terpisah sendiri-sendiri. Seandainya saja Indonesia adalah “Juara Dunia”sepakbola,  niscaya masyarakat dunia “respek” terhadap kita, kita akan menjadi lebih terkenal di kancah dunia , produk Indonesia pun bisa lebih dimininati masyarakat dunia. Sebaliknya, jika hal negatif yang terjadi, bukanlah hal aneh bisa memberikan dampak yang merugikan pada bidang-bidang lain  walaupun sebenarnya tidak ada korelasi langsung antara berbagai  hal tersebut.

Dunia penerbangan sebagai ujung tombak dari pada mobilitas bangsa adalah merupakan  “ Show Case “  bagaimana kita beradaptasi dengan teknologi yang tersedia. Seandainya kita bisa mendapatkan teknologi yang tercanggih yang ada, itu hanya sampai hard ware-nya saja, belum tentu kita dapat mengoperasionalkannya dengan optimal. Disamping itu kita juga memerlukan soft skill /human touch yang terkait dengan corporate culture dimana personil itu berada berada, bahkan orang melihatnya sebagai national character daripada bangsa Indonnesia, dimana mulai dari manajemen bandara yang kompleks itu sampai dengan kwalitas operasional maskapai dan seterusnya pada pihak-pihak yang terkait menjadi cermin kemana kita akan menuju dan bagaimana caranya.

Tanpa semua itu dunia penerbangan kita hanyalah semata manajemen alat angkut udara saja. Semoga kita bisa, pasti harus bisa !

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: