» » Belajar dari Musibah Kebakaran Sampah di TPA Purbahayu Kabupaten Pangandaran

Oleh : Iwan Mulyadi, S.P *)

Akhir-akhir ini permasalahan sampah di Kabupaten Pangandaran kembali menjadi sorotan pemberitaan media massa. Terbakarnya sampah di TPA Purbahayu untuk kesekian kalinya kembali terjadi. Pemerintah pun dituding dengan sengaja membakar sampah untuk mengurangi volume sampah yang semakin menggunung tanpa bisa mengelola. Akibatnya Masyarakat sekitar TPA mengeluh karena polusi udara mengganggu kenyamanan dan keamanan warga.

Secara jujur harus kita akui pengelolaan sampah selama ini hanya mengandalkan petugas kebersihan yang didanai dari APBD, tanpa adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Akibatnya, begitu dana pengelolaan sampah dikurangi ataupun terdapat permasalahan dalam operasional petugas kebersihan, sampah pun menjadi masalah. Mungkin inilah yang penyebab pemerintah (dituding) mengambil jalan pintas membakar sampah untuk mengatasinya.

Dalam pengelolaan sampah, pemerintah dan warga masih berpegang pada paradigma lama, yaitu kumpul, angkut dan buang. Artinya masyarakat mengumpulkan sampah dari rumahnya masing-masing dalam wadah, diletakkan di depan rumah, kemudian diangkut oleh petugas kebersihan dan dibawa ke tempat pembungan akhir (TPA).
Parahnya lagi, sebagian warga malah masih menganut paradigma: kumpul dan buang, artinya dibuang di lahan kosong, sungai ataupun drainase, yang menimbulkan bencana bagi warga di sekitarnya.

Sebenarnya, dalam pengelolaan sampah, pemerintah dan para ahli lingkungan telah mengembangkan paradigma baru, yaitu pengelolaan sampah dari sumbernya, melalui prinsip 3R (reduce/pengurangan sampah, reuse/guna ulang dan recycle/daur ulang).

Dalam 3R ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi produksi sampah dengan antara lain menghindari kantong plastik (yang hancur 10-20 tahun jika ditimbun dan akan menimbulkan gas pemicu kanker bila dibakar) dan membawa tas belanja ke pasar, membeli barang dengan kemasan minimal dan merencanakan barang-barang yang akan dibeli, yaitu hanya barang-barang dibutuhkan saja, serta hemat kertas.

Pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik berupa sisa-sisa makanan dan dedaunan didaurulang menjadi kompos atau dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori, yang mana hasilnya dapat dimanfaatkan sendiri untuk menyuburkan tanaman di pekarangan ataupun dijual dan menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga.

TPA bukanlah tempat penampungan atau pembuangan akhir sampah. Menurut Undang-Undang RI Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, TPA adalah tempat pemrosesan akhir sampah, karena memang banyak proses yang harus dilakukan di TPA, antara lain penutupan sampah, pengolahan air lindi dan pengelolaan gas metan.
UU Nomor 18/2008 juga mengamanatkan agar paling lambat lima tahun sejak UU tersebut disahkan, semua kabupaten/kota di Indonesia harus menutup TPA open dumping dan memiliki TPA sanitary landfill, yaitu TPA yang sarana penimbunan sampah telah benar-benar disiapkan dan dioperasikan secara sistematis sehingga benar-benar aman dan tidak akan mencemari lingkungan terutama air tanah serta pencemaran udara, sebagaimana yang terjadi di TPA Purbahayu, Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran.

Adapun untuk membangun sanitary landfill, juga dibutuhkan biaya yang cukup besar. Dibutuhkan lahan yang jauh dari pemukiman dan jauh dari sumber air permukaan serta memiliki porositas rendah, diberi lapisan khusus untuk menghalangi masuknya air lindi ke tanah, dilubangi sangat dalam untuk menampung sampah selama beberapa tahun, tanah galiannya dijadikan penutup sampah harian, sampah yang masuk diatur menurut zona, blok dan sel, ada saluran lindi dan sistem pengolahan air lindi, memiliki saluran dan pipa gas bahkan pemanfaatan gas metan (untuk memasak bahkan pembangkit listrik), serta terdapat sumur kontrol di bagian downstream dan upstream air tanah, dilakukan pengambilan sampel air tanah secara periodik, terdapat upaya penanganan kebakaran sampah serta green zone berupa tanaman di sekitar TPA dan di dalam TPA.

Proses penyebaran dan pemadatan sampah pada area penimbunan dan penutupan sampah dilakukan setiap hari. Penutupan sel sampah dengan tanah penutup juga dilakukan setiap hari.

Di dalam UU Nomor 18/2008 justru diharapkan dapat membuat TPA regional yang melibatkan beberapa kabupaten/kota. Untuk setiap kecamatan, cukup dibuat tempat penampungan sementara (TPS) berupa kontainer ataupun bangunan khusus, yang terpisah antara sampah organik-anorganik dan dilengkapi dengan pengomposan skala kecamatan, untuk sampah-sampah yang belum dikomposkan pada skala rumah tangga. Pembuatan TPS juga dapat dilakukan pada skala RW, kawasan ataupun perumahan.

UU Nomor 18/2008 menyatakan juga bahwa pengelola kawasan permukiman, komersial, industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah.

Selain TPS, saat ini juga sedang tren bank sampah, sebagai upaya untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah. Bank sampah merupakan tempat pengumpulan sampah seperti karton, majalah, kaleng dan plastik yang terkoordinasi dan memiliki jaringan kerja dengan para pelapak sampah di wilayah tertentu. Para penyetor akan mendapatkan dana dari sampah yang disetornya dengan persentase tertentu, yang dibagi dengan pengelola. Dana tersebut akan ditabung dengan bukti berupa buku tabungan.

Memang diperlukan biaya besar dan banyak proses yang harus dilalui pada sebuah TPA yang memenuhi syarat (sanitary landfill). namun hal tersebut dapat diminimalisir. Caranya dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, memilah sampah organik dan non-organik agar dapat didaur ulang dan dijadikan kompos, serta membuang sampah pada tempatnya.

Untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah bahkan meningkatkan kebersihan Kabupaten Pangandaran yang kita cintai, sudah saatnya kita tidak hanya membebankan kepada pemerintah. Kita  sejak awal harus berperan dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. (***)

*)Penulis adalah Jurnalis Seputar Jabar Online, tinggal di Kabupaten Pangandaran

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: