» » » Wah Indonesia Darurat Narkoba

Oleh : Peter S Simo Wibowo SH*)

Pelaksanaan eksekusi mati tempo hari jilid I dan Jilid II di Nusakambangan terhadap para terpidana mati kasus - kasus narkoba, setidaknya menjadi secercah titik harapan bagi rakyat Indonesia untuk menjadikan sebuah contoh dan efek jera bagi pihak - pihak yang bermaksud bermain - main dengan " racun nikmat " narkoba dengan memasukannya ke wilayah negara Indonesia, dengan bangganya media media kita mengumumkan hari pelaksanaan eksekusi mati tersebut dan hal itu bisa dianggap sebagai peringatan keras terhadap siapapun yang mempunyai niatan sebagai penyelundup atau kurir narkoba akan bernasib sama seperti terpidana - terpidana mati yang akan meregang nyawa diujung laras senapan para regu tembak. Untuk sesaat masyarakat Indonesia bernafas lega akhirnya pemerintah Indonesia menunjukan kedaulatan dan keberaniannya untuk melaksanakan eksekusi mati tersebut, karena memang dari sisi hukum pun putusan - putusan para terpidana mati sudah mempunyai kekuatan hukum yang mengikat atau inkracht, sehingga negara wajib menjamin pelaksanaan atas kepastian hukum isi putusan tersebut, sekalipun banyak pihak pula termasuk negara - negara asal wna terpidana mati yang menentang eksekusi mati tersebut dengan mengatas namakan HAM secara " membabi buta ". But the show must go on eksekusi jilid I dan II berjalan sesuai dengan rencana.

Masyarakat sekarang masih menunggu pengumuman dari Kejaksaan Agung selaku eksekutor untuk pelaksanaan eksekusi mati jilid III karena masih mengantrenya puluhan terpidana mati yang terkatung - katung bertahun - tahun menunggu nasib mereka, yang entah kapan pastinya mereka akan dieksekusi. Mudah - mudahan salah satu program pemerintah era Jokowi - JK Indonesia darurat narkoba ini berjalan dengan konsisten karena indikasi mengendornya semangat pemberantasan anti narkoba sudah mulai terasa pada korps kehakiman yang akhir akhir ini seringkali memutus dan memvonis para bandar / kurir dengan hukuman yang relatif ringan dan jauh dari efek jera bagi pelaku pelaku penyelundup narkoba yang belum tertangkap. Pengadilan Negeri (PN) Tangerang menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara pada 12 Januari 2015 terhadap Jeny perempuan kelahiran Blitar, 5 Mei 1980 awalnya bekerja sebagai PRT di Macau, China  yang telah terbukti secara sah dan meyakinkan menyelundupkan 1 kg sabu via bandara Soekarno, padahal jaksa menuntunya dengan ancaman hukuman 18 tahun penjara, karena majelis hakim memutus jauh dari tuntutan jaksa maka jaksa banding namun majelis pada tingkat banding malah menguatkan putusan tersebut, Patut diduga Jeny mendapatkan bantuan " hukum " dari sindikatnya sehingga dia sementara bisa terbebas dari hukuman mati.

padahal jelas pasal yang terapkan untuk Jeny sudah sangat kuat bagi majelis hakim untuk mengganjarnya dengan hukuman mati yakni pasal pasal 113 ayat 2 jo pasal 132 ayat 2 UU Narkotika. Pasal ini mengancam pelaku dihukum mati, selengkapnya berbunyi:

Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kilogram atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah 1/3.

Lalu pada 11 Februari 2015, Pengadilan Negeri (PN) Tangerang menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara bagi Emmy yang telah secara sah dan meyakinkan terbukti akan memasukan sabu seberat 350 gram via bandara Soekarno Hatta dan vonis tersebut 4 tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa, dan setelah banding ternyata Pengadilan Tinggi Banten pada 27 April 2015 memutusnya dengan pertimbangan hukum bahwasanya putusan PN Tangerang sudah tepat, benar dan mencerminkan rasa keadilan. Emmy lolos dari hukuman mati sebagaimana diancam dalam Pasal 114 ayat 2 UU Narkotika yang dijeratkan kepadanya. Pasal 114 ayat 2 berbunyi:

Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kilogram atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 gram, pelaku dipidana denganpidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah 1/3.

mengamati putusan putusan tersebut diatas masyarakat berasumsi bahwa korps kehakiman yang dianggap sebagai garda terdepan untuk mendukung program pemerintah pemberantasan narkoba nampaknya masih bisa diajak           " kongkalikong " oleh para sindikat dan melindungi para kurir - kurirnya dari hukuman mati, sehingga seolah - olah dengan kondisi seperti ini masih terbuka peluang yang seluas luasnya untuk memasukan narkoba sebanyak - banyaknya ke Indonesia tanpa harus khawatir di hadiahi hukuman mati oleh sistem peradilan kita, karena hukum masih bisa terbeli oleh para kartel dan sindikat narkoba yang memiliki sumber dana hampir tak berbatas.

Jadi hasil kerja keras penyelidik, penyidik kepolisian dan BNN serta penuntut kejaksaan akhirnya tidak selalu berbuah manis dengan vonis hakim pada akhirnya yang seringkali meloloskan para pelaku dari jerat hukuman mati yang seharusnya jadi momok menakutkan dan menimbulkan efek jera bagi siapapun yang bermaksud memasukan atau menyelundupkan narkoba ke Indonesia, bukankah hukum pidana yang diterapkan bertujuan memberikan dampak penjeraan bagi pelaku yang sudah terjerat maupun pelaku lain yang belum terjerat untuk menjadi sebuah contoh sehingga dia menghentikan perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar ???
Sehingga Indonesia darurat narkoba hanya sekedar slogan semata, yang pada akhirnya darurat sebenarnya adalah terletak pada darurat penegakan hukum narkotikanya itu sendiri yang tak sejalan dengan harapan bangsa kita dan tak sejalan dengan program bapak presiden, apakah ini yang disebut dengan pembangkangan ??

*)Penulis adalah konsultan pada kantor hukum SWAHA.    

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: