» » Reformasi Intelijen, Perlukah ?

Foto : Wikipedia.

Oleh : Leonardus A Fanuel *)

Dengan  santernya berita menyebut Letnan Jenderal Purn. Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya dan Gubernur DKI selama 2 perioda itu sebagai orang yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk
menggantikan Letnan Jenderal Pur. Marciano Norman  sebagai “ PILOT”  Badan Intelijen Negara
timbullah reaksi dari berbagai kalangan/tokoh  dinegeri ini.

Kalau melihat latar-belakang beliau yang mumpuni di bidang intelijen---dari  pendidikan dan penugasannya di kesatuan Baret Merah  sampai dengan  posisinya    sebagai Pangdam Jaya dan
Gubernur DKI  itu sendiri .  Dengan  seabreg pengalaman penugasan  beliau , kita  tidak  perlu
meragukan  lagi  kapabilitas  beliau   untuk memangku   jabatan  tersebut .Mungkin kalau  ada  satu kekurangannya dimata   kita adalah usianya sudah  masuk  kepala 7 saja. Tapi  patut  kita  ketahui bahwa bahkan di beberapa  negara lain , termasuk di Asia, banyak perwira     yang masih “ bertugas aktif”  di usia  yang  jauh melebihi usia  pensiun  resmi  militer/polisi  di negeri  ini . Jadi  bukan  usia biologis saja yang penting tetapi   kondisi  fisik , psikis and intelektuaitas lah yang  diatas  segalanya.

Kalau kita berbicara  mengenai reformasi   intelijen , hal tersebut  dikarenakan  dimasa yang lalu---pra-reformasi ,  kita banyak menyaksikan wewenang intelejen  yang sangat  besar, yang membuatnya lebih  disegani  dibandingkan  dengan  instansi-instansi   penegak hukum yang ada.  Memang setiap era berbeda dalam  pelaksanaan tugasnya, mengingat bahwa intelejen  adalah instansi yang menjalankan perintah komando atas jadi apa yang dijalankan sesuai dengan arahan tersebut. Namun di era reformasi ini  dengan adanya UU Intelejen, maka diatas kertas semua  tugasnya dipagari dengan Undang Undang  tersebut sehingga  jika  terjadi  “over-shooting”  bisa  segera terpantau untuk  dikoreksi.

Kita tahu Organisasi BIN adalah sudah “   well  set up “/ ajeg . Didalam negeri secara organisasi BIN dapat dikatakan eksis di setiap propinsi di negri  ini  yang dikepalai oleh seorang Perwira Tinggi yang berkoordinasi erat  dengan setiap  stakeholder intelijen  daerah ---Direktorat Intelkam Polda, Asintel Kodam , Deninteldam, Kesbang Pemda, dll.  

Dengan  demikian  setiap   informasi yang  sudah  dipilah menjadi  data  yang  berguna  dapat dibagikan diantara  para pemangku kepentingan  tersebut.Selain daripada itu  BIN  juga  menpunyai Deputi  bidang Luar Negri  yang  tentunya  juga berhubungan erat  dengan  fungsi-fungsi yang ada  di Kedubes-kedubes  kita di  tempat  tugas masing-masing . Hal ini  tentulah  sangat krusial  mengingat di era  digital/informasi  yang disebut   “ borderless  world ” /  dunia  yang tak berbatas  ini dimana lalu-lintas informasi maupun  manusia  bergerak dengan  intensitas tinggi ,  sehingga kita selain melakukan  pantauan  dari  belakang monitor juga perlu  melaksanakan  pantauan di   lokasi –lokasi yang  dianggap strategis dan rawan , termasuk di wilayah-wilayah diluar NKRI  dengan  lebih  intens dibandingkan  dengan di masa lampau.

Kalau  kita  mengkaji  apa yang  terjadi  di beberapa negara di Timur Tengah . Apakah dinamika tersebut  menunjukkan  kegagalan  pihak  intelijen negara-negara  yang  dimaksud  atau  semata-mata sang  pimpinan  pemerintahan  yang  “over-confident”  atas  aparat  keamanan dalam  negerinya ?
Hal  tersebut  dapat  menjadikan   pembelajaran   bagi   pihak  terkait  di negeri ini. Kebetulan  jauh sebelumnya  penulis pernah   berbincang dengan seorang petinggi  TNI  yang kritis yang  dapat “membaca” bahwa suatu  hari memang  hal demikian bisa terjadi.

Adapun   yang  dihasilkan  oleh   intelijen yang disebut  dengan  laporan intelejen   adalah   bahan untuk pertimbangan untuk  komando atas  sampai keujungnya di meja Kepala  negara.  Selengkap dan seakurat  apapun laporan tersebut  , ibarat  makanan yang  sangat  lezat yang disajikan diatas meja; namun,  jika  tidak  dilirik, tidak disentuh , tidak disantap tentulah  sajian  nikmat tersebut  akan menjadi  tidak  ada artinya/sia-sia saja .  Artinya komando atas   perlu mempunyai “ trust”/percaya atas laporan  tersebut   sehingga bisa bermanfaat  sebagai bahan  pertimbangan  pemerintah .Jadi siapapun  orang yang menjadi Kepala BIN adalah  orang  kepercayaan  Kepala Negara.

Selanjutnya adalah  masalah  manpower atau  SDM intelijen    sendiri. Memang sekarang kita  sudah mempunyai lembaga  pendidikan  intelijen setingkat  perguruan  tinggi , jadi   tentulah   “lulusan” dari lembaga tersebut   harus   paham dengan  dinamika yang up-to-date   dari pada teknologi  yang senantiasa berkembang  , kemudian tentulah  kita  harus mempunyai  pelaksana tugas  yang loyalitasnya  tidak  boleh  diragukan  karena  domain  intelijen pada dasarnya  adalah  menjalankan tugas yang  rahasia  dimana  hanya  pihak-pihak tertentu yang  boleh  mendapat   akses atas segala informasi yang ada.

Biasanya  pada  setiap  pergantian  kepemimpinan  tentu  ada   yang  “minggir”dan  ada yang ”manggung”. Hal tersebut  biasanya  menjadi hak  prerogatif  sang  pimpinan kecuali  barangkali kalau  ada  semacam “ titipan”  dari  yang di atas  . Apapun  segala  dinamika  yang akan terjadi , masyarakat  pada umumnya   hanya mengharapkan   yang   sederhana saja  , yaitu situasi  yang aman tenteram , tidak  waswas  . Semoga.

*)Penulis adalah Pengamat Ham

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: