» » Nilai Sosial Dibalik Perkembangan Pesat Go-Jek Indonesia

Oleh : Mirza Fazlur Rahman *)

SAYA ingat sekitar beberapa minggu yang lalu, saya menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh SBM ITB Bandung dengan narasumber seorang founder GO-JEK Indonesia bernama Nadiem Makarim.

Awalnya saya tak tahu apa itu GO-JEK dan apa yang akan dibahas, namun ternyata di luar dugaan justru saya belajar banyak dari seminar tersebut. Selama ini di benak saya, bisnis hanyalah soal satu hal, yaitu profit. Tanpa profit maka apalah artinya suatu bisnis. Segala ilmu ekonomi yang saya pelajari adalah demi mendapatkan profit sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya. Sudah menjadi suatu standar umum khalayak masyarakat bahwa tolak ukur kesuksesan seseorang dilihat dari materinya. Dan semua itu sudah membutakan hati nurani saya sehingga membuat saya melupakan hal terpenting dalam hidup ini.

Tak perlu diragukan lagi GO-JEK merupakan salah satu start-up company tersukses saat ini di Indonesia. Mereka mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana hanya dalam kurun 6 bulan GO-JEK telah menaklukan Jakarta dan kini berekspansi untuk menguasai Bandung. Hanya soal waktu GO-JEK akan menyebar dengan cepat ke berbagai  kota besar lainnya di Indonesia. Nadiem Makarim membawa suatu model bisnis yang sangat unik dan baru pertama kali diterapkan, dimana mereka menggunakan perkembangan pelayanan teknologi terkini sebagai pondasi sistem bisnisnya yang diintegrasikan dengan pengemudi ojek sebagai sumber daya manusianya.

Namun dibalik segala kesuksesan tersebut, ada satu hal yang membuat saya sangat terkejut sekaligus takjub. Ternyata Nadiem Makarim hanya mengambil 20% keuntungan dari bisnisnya dan sisanya 80% keuntungan adalah milik pengemudi ojek tersebut. Itu benar-benar hal yang luar biasa sekaligus tidak masuk akal buat saya. Proporsi pembagian keuntungannya sangat tidak wajar dan justru tidak memihak perusahaan itu sendiri. Dan sekali lagi, dengan pembagian keuntungan yang berat sebelah seperti itu, GO-JEK justru mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam waktu relatif singkat. Ini adalah suatu fenomena yang justru bertentangan dengan teori ekonomi manapun yang saya pelajari selama ini dimana salah satu tujuan utama perusahaan adalah mendapatkan profit semaksimal mungkin.

Saya sangat berkesan dengan suatu kalimat yang diucapkan oleh Nadiem Makarim pada seminar tersebut bahwa hidup terlalu singkat hanya untuk sekedar mencari materi. Hal itu telah membuka hati saya yang selama ini tertutup bahwa kita juga bisa berbisnis dengan membawa nilai sosial di dalamnya yang akan membuat hidup menjadi lebih berarti dan bermakna. Semoga GO-JEK semakin sukses ke depan dan menginspirasi kepada kita semua bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekedar mengejar materi tanpa ada nilai sosial yang mengiringinya.(***)


*) Penulis adalah Mahasiswa ITB

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: