» » Konflik Laut China Selatan, Damaikah Kawasan Asia Ini ?

Oleh : Leonardus A Fanuel*)


Dalam Penyelenggaraan Peringatan Konferensi Asia Afrika ke - 60 di Jakarta - Bandung beberapa waktu lalu, dapat kita saksikan kehadiran begitu banyak pemimpin pemerintahan dari berbagai negara. Kita paham apa tema atau esensi dari pada pertemuan  tersebut.

Sebenarnya hanya satu hal penting yang diusung, yakni, jangan ada peperangan maupun konflik bersenjata, terutama, diantara para  negara peserta yang  hadir atau menyokong pertemuan tersebut. Hal-hal selain dari pada itu menjadi penunjang tambahan dari  pada pertemuan tersebut .

Dari gestuur para pemimpin Negara dunia, kita dapat menyimpulkan bahwa ada hal yang tak sekedar basa basi. Apalagi dengan hadirnya Tiongkok dan Jepang, kekuatan besar dunia di poros Asia.

Keduanya, Presiden Xi Jin Ping dan PM Abe saling “menjauh”. Dikarenakan memang keduanya sedang berada dalam hubungan yang  memanas, pertikaian teritorial kedua belah negara. Yang akhirnya menimbulkan konflik horizontal, kekuatan antar negara yang berbatasan ; Philipina, Vietnam, Brunei dan Taiwan.

Masalah yang terjadi di kawasan Asia Pasifik ini bukan hanya urusan negara-negara yang secara geografis berada di kawasan tersebut. Ada satu kekuatan SUPER yang Dominan atas apa yang terjadi di ”halaman orang lain“ yaitu, sang, GLOBAL POLICE Amerika Serikat.

Keterlibatan negara tersebut di setiap sudut di muka bumi ini sudah menjadi bagian dari pada politik luar negerinya semenjak berahirnya Perang Dunia II. Jadi apa sih sebenarnya kepentingan AS itu. Apa  kita
sebagai Negara Asia tidak dapat menyelesaikan masalah diantara rumpun sendiri atau itu memang ulah AS yang selalu “GATAL” ingin ikut campur urusan orang lain dan merasa sebagai “DEWA DEMOKRASI DUNIA”.

Kalau  kita melihat era sebelum Perang Dunia II, Jepang menyerang dan menduduki wilayah Tiongkok. Jepang-pun menjadi bagian dari yang berperang melawan AS beserta kekuatan sekutu. Dengan kekalahannya setelah dijatuhi BOM Atom di Hiroshima - Nagasaki di Agustus 1945, Jepang menjadi negara yang kehilangan kebebasannya dalam mengelola pertahanan negara karena angkatan perang hanya sebagai “Self  Defence  Force “ saja.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, mantan penjahat perang tersebut akhir-akhir ini diberikan keleluasan oleh sang “MASTER” -- AS untuk mengembangkan teknologi militernya agar bisa berperan aktif selaras dengan agenda sang master tersebut, terutama dalam hal yang menyangkut sengketa di Laut  China Selatan.

Kisruh ini, bukan hanya contoh yang dapat kita lihat secara kasat mata bagaimana AS juga bermain mata dengan mantan musuhnya ---Vietnam. Kita paham waktu berlangsungnya Perang Vietnam, negara tersebut didukung oleh negara tetangganya dan “sahabatnya” pada waktu itu –RRT, dimana mereka mendapatkan berbagai bantuan dan juga menjadikan teritorial RRT sebagai jalur bantuan logistik dan persenjataan dari Rusia.

Apa yang terjadi sekarang kita bisa melihat, bahwa mantan musuh yang pernah “dipermalukan" dalam peperangan  yang  memakan beribu serdadu AS tersebut telah menjadi “teman berkencan” sebaliknya hubungannya dengan RRT malah menjadi musuh. Apapula yang ada pada agenda besar sang master di kawasan Asia tersebut. Tebak sendiri !

Jika kita melihat sejarah bahwa Perang Dunia I meletus di benua Eropa disusul Perang Dunia II menyebar ke segala penjuru dunia, namun sebagian pengamat di waktu yang lalu memprediksi bahwa seandainya pecah Perang Dunia III, titik letusnya akan berada di kawasan Timur Tengah.

Tetapi, apa yang terjadi pada dekade terahir ini Timur Tengah sendiri mengalami dinamika politik sehingga titik letus di Timur Tengah sendiri  tidaklah berpusat di satu tempat saja. Yang mencengangkan adalah bahwa mOpinienurut pengamat sekarang titik letus Perang Dunia III bukan tidak mungkin terjadi di kawasan Asia Pasifik berkenan dengan kerawanan masalah Laut China Selatan tersebut. Itu semua tentunya bergantung pada situasi hubungan antara  AS dan RRT.

*) Penulis Adalah Pengamat Ekonomi, Politik dan HAM

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: