» » » » » Gara Gara Peraturan Menteri Susi Nelayan Jaring Arad Resah


SJO PANGANDARAN - Nelayan Pantai Timur Pangandaran resah. Mereka yang umumnya menggunakan alat tangkap ikan Pukat Tarik (Jaring Arad), harus kehilangan mata pencahariannya. Pasalnya Peraturan Menteri Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik di Wilayah Perairan Indonesia, akan diberlakukan September 2015.

Keresahan juga dirasakan Jamud (45), pemilik jaring arad di Pantai Timur Pangandaran. Ia merasa kebingungan dengan aturan tersebut. Sampai saat ini, belum ada solusi dari pemerintah daerah untuk nelayan jaring arad jika aturan tersebut benar-benar dilaksanakan. Dirinya juga mengaku belum terpikirkan mencari mata pencaharian baru mengingat selama ini hidupnya bergantung pada hasil laut.

“Kami tawakal saja jika aturan ter­sebut benar-benar dilaksanakan. Tapi kami bingung mau usaha apa lagi,” kata jamud ditemui di Pantai Timur Pangandaran, Jumat (26/06) kepada seputarjabar.com.

Menurut Jamud, meski tidak bisa dibilang besar, penghasilannya sebagai pemilik jaring arad cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari. Untuk satu kali tangkapan, dirinya bisa meraup sekitar Rp 300 ribu. Jika tangkapan sedang ramai, penghasilannya tentu bisa semakin bertambah. Pengha­si­lan tersebut dibagi lagi dengan 12 pekerjanya dengan sistem bagi hasil.

“Memang tidak besar pendapatan kami dan tahun ini sering paceklik. Tapi kalau benar-benar dilarang ya semakin enggak ada penghasilan untuk kami,” ucapnya.

“Kami juga tidak paham  mengapa alat tangkap yang puluhan tahun kami gunakan, tidak boleh lagi  dipergunakan. Katanya sih akan diganti dengan peralatan jenis lain, tapi saya tidak tahu pasti.” sambungnya.

Hal senada dituturkan Rohim (43). Nelayan jaring arad ini mengaku pasrah menunggu kepastian peraturan Menteri KKP, Susi pujiastuti tersebut. Me­nurutnya, jika dilarang, nel­a­yan bisa memilih menang­kap ikan langsung ke tengah la­ut. Namun, untuk itu tentu di­per­lukan modal besar sekitar Rp 50 juta untuk membeli perahu, mesin, dan kelengkapan melaut lainnya.

Sedangkan kalau jaring arad, Lanjut Rohim, nela­yannya bekerjasama. Ada yang mengoperasikan perahu, me­narik jaring, memilah ikan dan seterusnya. Nan­ti penghasilannya berapa dihitung dari bagi hasil dengan pemilik jaring.

“Karena banyaknya tenaga yang terlibat, pelarangan penggunaan jaring arad pun tentu akan melahirkan banyak pengangguran baru,”tegasnya (Iwn)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: