» » » Diperlukan Konsistensi Pemerintah Terhadap Anak-Anak Calon Penerus Bangsa

Oleh : Felix Wangsaatmaja, SH*)

Beberapa hari terakhir, Kita disajikan prihal perkembangan proses penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian daerah bali terhadap dugaan telah terjadinya pindak pidana pembunuhan terhadap Angeline,Seorang putri kecil di pulau dewata .Belakangan muncul dugaan dan ya motif warisan yang masih harus didalami pihak polda bali.Ternyata korban adalah anak angkat,ibu angkat korban adalah margriet Megawe, ibu angkat korban telah ditetapkan sebagai tersangka penelantaran anak

Dalam kesempatan ini, penulis tidak ingin memperdalam prihal proses penyidikan yang masih berlansung, hemat penulis kejadian ini adalah akibat dan sudah jelas hukuman bagi pelaku yang terbuktimelakukan kejahatan yang biadab terhadap seorang putri kecil ini. Penulis berharap setelah terjadinya peristiwa ini masyarakat pada umumnya, pemerintah / lembaga - lembaga yang peduli terhadap anak dapat mengambil hikmah dan selalu konsisten dalam melakukan bimbingan yang meliputi antara lain penyuluhan, konsultasi, konseling perihal pelaksanaan pengangkatan anak.

Cukup banyak peraturan perihal pengangkatan anak dinegara Indonesia dimulai dari surat edaran Mahkamah Agung no, 2 th. 1979, Undang - Undang no.4 tH. 1979, Surat Edaran Mahkamah Agung No. 4 th. 1989 tentang pengangkatan anak, UU perlindungan anak no. 23 th. 2003 peraturan pemerintah no. 54 th. 2007 tentang pelaksanaan pengangkatan anak.

Apabila dilihat dari peraturan - peraturan yang mengatur tentang pengangkatan anak, sebenarnya payung hukum sudah cukup memadai kembali kepada konsistensi dari aparat - aparat yang akan mengembangkan dan melaksanakan tugas dari peraturan perundangan tersebut. Berdasarkan pengalaman penulis, proses pengangkatan anak dilakukan dengan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri, setelah proses persidangan, pemeriksaan saksi, hakim menetapkan apakah permohonan aquo dapat dikabulkan atau tidak. Biasanya memang orang tua kandung dari anak yang akan diadopsi oleh calon orang tua adopsi berlatar belakang ekonomi. Tidak salah apabila orang tua kandung merelakan anaknya didopsi dengan harapan anaknya dapat dipelihara dan dibesarkan secara baik oleh orang tua adopsinya.

Dengan adanya kasus Angeline, sangat diharapkan seluruh pihak yang terkait dengan proses pengangkatan anak dapat berperan aktif dalam melakukan proses bimbingan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak yang meliputi penyuluhan, konsultasi, konseling, pendampingan, pelatihan jo. pasal 26 PP no. 54 th. 2007 tentang pelaksanaan pengangkatan anak.

Mengapa dikatan sangat diharapkan ? jangan karena kasus Angeline, tampak seolah olah baik pemerintah, aparat kepolisian maupun masyarakat nampak seperti sangat concern, akan tetapi tidak diimbangi dengan tindakan nyata. Bahwa selain anak angkat, masih banyak anak-anak yang menjadi korbankekerasan, korban dari perceraian orang tuanya, yang harus menjadi " pekerjaan rumah " bagi pemerintah. Hemat penulis yang pernah menangani anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya, tidak ada sama sekasli perhatian dari pemerintah. Si anak haruslah berjuang sendiri menghadapi persoalan - persoalan terutama masalah psikologis. Dalam praktek, idealnya si anak korban perceraian orang tuanya dibawa ke psikolog untuk dapat membantu permasalahan psikologisnya, namun apadikata bagi mereka yang perekonomiannya pas - pasan jangankan untuk konsultasi ke psikolog ? dimanakah peran pemerintah ?

Sangatlah besar harapan agar dimasa yang akan datang program - program pemerintah dapat nyata menyentuh kepada anak - anak yang menjadi korban baik korban kejahatan, korban perceraian orang tuanya. Permasalahan ini jangan dianggap remeh, oleh karena negara ini menaruh harapan besar kepada anak - anak yang kelak akan menjadi calon - calon pemimpin. Bagaimanakah kita dapat mengharapkan calon -calon pemimpin apabila terhadap anak -anak di negara kita sama sekali tidak ada perhatian dan tindakan nyata ??

*)Penulis adalah advokat pada kantor hukum SWAHA.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: