» » Bagian III (Habis) : Catur Fungsi - TNI Sebagai Bagian Dari Kekuatan Politik.

Oleh : Letkol Inf Eko Ismadi*)

TNI Sebagai Bagian dari kekuatan Politik.
Militer selaku Angkatan bersenjata  yang juga merupakan salah satu komponen dalam sebuah negara, memiliki peranan dan prakteknya yang berbeda-beda dibelahan dunia. Katakanlah negara-negara Eropa Barat dan Amerika serikat yang menganut asas Supremasi sipil menempatkan angkatan bersenjatanya hanya manjalankan fungsi Pertahanan saja. Sedangkan di negara-negara Amerika latin, Asia, Afrika, dan Timur Tengah, selain menjalankan fungsi Pertahanan, Militer juga menjalankan peran politik yang cukup besar. Bahkan ada yang militer menjadi aktor utama politik dan sangat dominan. Tidak jarang mereka secara langsung menggunakan kekuasaan atau mengancam dengan menggunakan kekuasaan mereka. Kondisi tersebut diistilahkan oleh Eric A. Nordlinger dalam bukunya “Militer dalam Politik”  sebagai Pretorianisme yaitu campur tangan militer dalam pemerintahan.

Berkenaan dengan konsep supremasi militer dan supremasi sipil DR Salim Said menjadikan konsep tersebut sebagai landasan teori dalam penulisan bukunya. Dengan berlandaskan teori tersebut DR.Salim Said mengupas tuntas tentang peranan TNI dalam kancah politik. Eropa Barat dan Amerika mendukung posisi TNI dalam pemerintahan sebagai upaya menghalau pengaruh komunis pada masa perang dingin hingga kebalikannya yaitu dimana Amerika dan Eropa Barat mengecam keberadaan TNI dalam pemerintahan dan digaungkannya asas supremasi sipil oleh mereka dimasa pasca perang dingin.

Bangsa Indonesia memiliki kemandirian dalam berpolitik dan memiliki integritas bangsa dalam kehidupan dan penghidupan bangsanya. Dalam Catur fungsi TNI maka keberadaan TNI dalam politk Indonesia adalah hanya sebagai bagian dari kekuatan bukan sponsor, dinamisator, stabilisator, atau pelopor. Namun hanya sebagai bagian dari kekuatan fungsi dan perannannya adalah sebagai KATALISATOR yang mengajak dan menghimbau arah politik dan kehidupan bangsa Indonesia dalam kepemimpina nasional tetap berada dalam KORIDOR SEJARH NASIONALISME INDONESIA sebagai mana yang telah dicita-citakan oleh leluhur pendiri negara Indonesia. Koridor Idiologi Pancasila, Nasionlisme, dan Kebhinakaan serta Persatuan Indonesia.

TNI Sebagai Bagian dari kekuatan Sosial dan Budaya 
Sesuai dengan amanat Panglima TNI berharap untuk tetap menjaga dan melestarikan kelangsungan budaya Indonesia. Sebagai pokok pikirannya adalah melalui pengembangan kebudayaan lokal, yang kemudian dikembangkan menjadi budaya nasional bangsa Indonesia."Memperkaya unsur-unsur kebudayaan nasional, sebagai aset dan sumber kekuatan bangsa, guna memperkukuh konvergensi keanekaragaman," kata Moeldoko, Kamis (18/9/2014).
TNI juga harus mengerti dan paham akan, kegemilangan dan kejayaan tempo dulu harus terus digali untuk kejayaan masa kini, guna melestarikan khasanah budaya dalam rangka membangun alat perekat dan pemersatu dalam kehidupan berbangsa dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

TNI juga harus mampu menjadikan budaya sebagai filter dalam menghadapi berbagai kondisi global dengan segala kecenderungan negatif yang dibawanya. Untuk itu maka seni dan budaya merupakan tolak ukur peradaban bangsa Indonesia, dan penghormatan terhadap budaya merupakan bagian kebesaran sebuah bangsa.

Nilai-nilai keluhuran yang dimiliki bangsa inilah yang perlu dijunjung tinggi. Dalam konte ks Pertahanan dan Keamanan Nasional atau Hankamnas. Demikian pula seni dan budaya juga merupakan pondasi kekuatan bangsa untuk menahan dan menghadapi serbuan negatif globalisasi, yang cenderung melemahkan social capital bangsa Indonesia.

Budaya juga harus menjadi sarana untuk memelihara budaya politik Indonesia dan kepemimpinan nasional yang dititikberatkan pada penanaman nilai-nilai demokrasi. Bangsa Indonesia bias belajar dari masa lalu yang dari sekarang didorong untuk diupayakan adanya kesadaran budaya dan penanaman nilai-nilai politik demokratis, terutama penghormatan nilai-nilai hak asasi manusia, nilai-nilai persamaan, anti kekerasan, serta nilai-nilai toleransi, melalui berbagai wacana dialog bagi peningkatan kesadaran mengenai pentingnya memelihara persatuan bangsa.

TNI Sebagai Bagian dari kekuatan Kebhinekaan
Kebhinekaan juga dapat diproyeksikan sebagai Komunikasi politik dan komunikasi budaya dalam kerangka bhinneka tunggal ika. menjadi salah satu kunci utama untuk membangun stabilitas keamanan masyarakat Indonesia. Kebhinekaan tunggal ika harus mencerminkan semangat pluralisime yaitu adanya sikap bersedia untuk terbuka, bersedia untuk berbagi, dan kesediaan untuk kerjasama.

Yang perlu dijelaskan diantaranya adalah semangat otonomi daerah dan nasionalisme local. Etnosetrisme, egoisme cultural lebih-lebih membangkitkan radikalisme budyaa local tanpa disertai kesadaran bhinneka tunggal ika, sesungguhnya hanya akan menyebabkan rontok dan lemahnya ketahanan nasional Indonesia. Untuk itu kebhinekaan harus menjadi perekat sosial dalam membangun kebersamaan masyarakat Indonesia.

“Bersatu Damai Dalam Perbedaan itu Indah” semboyan ini harus mengakar dalam setiap diri dan jiwa bangsa Indonesia. Berbeda agama, berbeda kepercayaan, berbeda keimanan bukan hambatan untuk medapat kehidupan dan kententraman ataupun kesuksesan dalam hidup ini. Namun lebih dari itu perbedaan akan dapat menjadi bahan evaluasi dan sebagai bahan pertimbangan bagi tindakan kita untuk melakukan hal yang baik dalam hidup berbangsa dan bernegara.

TNI Sebagai Bagian dari kekuatan NKRI atau persatuan dan Kesatuan bangsa.
Keberadaan TNI sebagai komponen bangsa tidaklah dapat dipungkiri kalau kekuatan militer adalah salah satu komponen penting bagi kedaulatan Negara. Karena itu di dunia ini negara yang memiliki daya topang militer yang kuat akan mencerminkan dan menampilkan kewibawaan diplomatik dan gengsi politik internasional.

Demikian juga kekuatan militer merupakan salah satu barometer kekuatan suatu negara. Jika militernya kuat, yakinlah negara itu memiliki posisi tawar yang kuat dengan Negara lain. Namun untuk memiliki kekuatan militer harus didukung oleh kempauan Negara yang survive dan memiliki kredibiltas yang tinggi. Keluatan militer yang berkembang membutuh kekuatan ekonomi dan politik yang kuat sebagai penopangnya.

Berbagai persoalan oleh kondisi TNI yang dimiliki saat ini sudah mampu demban oleh TNI seperti problema separatisme, terotisme, dan Transnational Organized Crimes atau TOC, masalah batas wilayah, klaim wilayah, pelanggaran wilayah, pencurian kekayaan alam, subversi-infiltrasi, dan spionase, survey illegal oleh pihak asing, penyelundupan senjata dari luar negeri, konflik komunal, suku agama, ras dan atargolongan atau yang lebih dikenal dengan SARA. Inilah hakikat peran TNI di era Reformasi.

Kita harus sadar sepenuhnya untuk membangun ketahanan nasional ini tidak hanya membutuhkan kekuatan utama, melainkan ada kekuatan pendukung lainnya yang dapat memperkuat dan memperkokoh ketahanan Negara Indonesia. Kekuatan pendukung yang dimaksud adalah rakyat. Dinamika sosial-politik yang ada saat ini, memberikan pengaruh baik terhadap struktur maupun kultur pemerintahan dalam mengelola bangsa dan Negara.

Dalam sejarah dunia dan sejarah nasional Indonesia bahwa rakyat. Maka dari itu Peran rakyat dalam konteks mendukung efektivitas dalam ketahanan nasional dihadapkan dengan kaum imperialisme dan kolonialisme berakar dari perlawanan rakyat yang kemudian menjadi embrio lahirnya tentara nasional Indonesia. Maka kita berpikir kita harus berpikir bahwa perlu adanya ketahanan sosial dalam menunjukkan nasionalisme dan kesungguhannya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN. 
Harry Tjan Silalahi menjelaskan bahwa nasionalisme dapat membangun kohesi sosial yang kuat, sehingga dapat memberikan dorongan dalam proses partisipasi pembangunan bangsa dan Negara. Dengan kata lain, dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, Indonesia membutuhkan formula nasionalisme yang cocok dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Juga perlu adanya usaha untuk melakukan konsolidasi dan koordinasi sosial, sehingga terjadinya sebuah integrasi sosial yang solid dan kuat. Kondisi disintegrasi sosial merupakan ruang terbuka yang bisa diasupi oleh kepentingan asing yang kemudian dapat menyebabkan rontoknya sebuah bangsa tanpa harus perang.
Dalam lingkungan pergaulan internasional, fenomena yang muncul adalah isu-isu global yang memuat universal dan mengungguli nilai-nilai nasional. Oleh karena itu, TNI harus waspada dan jangan terpengaruh terhadap perkembangan tersebut dan tetap menjaga Kesatuan dan Persatuan NKRI. Melalui kerja sama sipil dan militer yang harmonis selaras dan seimbang.

Dengan adanya catur fungsi tidak harus diadakan redefinisi baru hubungan sipil dan militer atau diperlukan doktrin baru sebagai pedoman. Namun Catur Fung TNI hanya menjadi bagian komunikaso sosial dan politik yang bertujuan untuk menjaga hubungan yang harmonis dan kehidupan politik yang serasi selaras dan seimbang dalam penyelenggaraan Negara untuk menuju kehidupan yang lebih baik.  

KESIMPULAN
Permasalahan hubungan Sipil dan militer dalam catatan sejarah yang penulis ketahui hanya berkisar sekitar masalah kecemburuan warga Negara Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan. Setiap warga Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, mereka yang berprofesi militer, akademisi, politikus, pedagang, nelayan, petani, dan usaha tidak ada pembatasan dan perlakuan yang diskriminatif.

Dengan Catur Fungsi maka dapat membangu kehidupan berbangsa dan bernegara dengan hubungan yang harmonis selaras dan seimbang antara hubungan sipil dengan militer. Dimina Sipil dan militer merupakan dua pihak yang salin membutuhkan bukan saling mencurigai. Untuk itu diperlukan komitmen bersama untuk kepentingan masa depan. Catur Fungsi akan menjamin kelancaran dan kesuksesan harapan dimasa depan tersebut.

Arah kebijakan dalam catur fungsi TNi tidak harus diundangkan namun digariskan sebagai kesepakatan dan pedoman kerja bagi TNI. Sebuah kebagai kebijakan yang berorintasi pada kepentingan rakyat bangsa dan Negara. Harapan kami sebagi penulis semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi konstribusi dan pertimbangan bagi sumbangsih pemikiran dari seorang warga negara Indonesia.

*) Penulis Adalah Pengamat Sejarah.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: