» » Bagian I : Melalui Catur Fungsi Memantapkan Hubungan Sipil Dengan Militer Yang Ideal Di Era Reformasi Peran, Kontribusi, Dan Tanggung Jawab Dalam Kehidupan Bernegara

oleh : Letkol Inf Eko Ismadi *)

Era Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 merupakan titik balik bagi kehidupan sosial politik di Indonesia. berbagai persoalan menjadi terbuka, namun memiliki peluang untuk diperbaiki, diubah dan diperbaharui dalam kerangka demokratisasi. Permasalahan tersebut antara lain adalah diperlukannya hubungan Sipil dan Militer yang ideal dan serasi. Sebuah hubungan yang meletakkan dasar dalam kerangka kerja sebuah sistim politik demokratis dan hidup kebangsaan Indonesia.
Hubungan sipil yang berkembang ideal dan serasi akan dapat memberikan konstribusi yang sangat bermanfaat bagi pengembangan demokrasi dan peruwujudan nyata dari prinsip-prinsip Ketahanan nasional dan Wawasan Nusantara.  Salaha satu yang disarankan dan patutu untuk pertimbangankan dalam penyelenggaraan negara adalah  melalui catur fungsi. Adapaun alasan dari pendapat ini akan tersaji dalam tulisan ini, sekalipun masih terbatas dan masih memerlukan penyempurnaan. Yang pasti landasan pemikiran dari penulisan ini hanya berdasarkan analisa dan catatan sejarah bukan berdasarkan ilmu lain karena penulis menyadari sepenuhnya bukan seorang ahli hukum tata Negara, namun hanya seorang penggemar sejarah.

Melalui berbagai bahan bacaan dan anlisa dari berbagai pendapat dari para ahli kemudian kami mencoba menulis sebuah tulisan yang berjudul MELALUI CATUR FUNGSI MEMBANGUN HUBUNGAN SIPIL DENGAN MILITER YANG IDEAL DI ERA REFORMASI, Peran, Kontribusi,  Dan Tanggung Jawab Dalam Kehidupan Bernegara. Sebagai penyesuai bagi kondisi politik setelah reformasi. Khususnya yang berhubungan dengan implementasi, visi, dan harapan dalam meralisasikan cita-cita nasional Indonesia.

Landasan Pemikiran
Idiologi. Militer  memiliki kemampuan untuk berkominikasi dengan rakyat dan merasakan dinamika yang berkembang masyarakat. Kemampuan ini juga dapat memahami dan merasakan aspirasi serta kebutuhan kebutuhan rakyat, dimana memungkinkan TNI secara nyata dapat menggugah dan mendorong masyarakat untuk lebih giat ,melakukan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik aman dan sejahtera.

NKRI. Setiap Prajurit Militer memiliki kesadaran nasional yang tinggi,dimana ini dapat merupakan penangkal yang efektif terhadap pegaruh sosial yang bersifat negatif dari budaya serta nilai nilai asing yang kini membanjiri masyarakt Indonesia. Sikap yang realistis dan pragmatis dapat mendorong masyarakat agar dalam menanggulangi masalah masalah berlandaskan tata pikir yang nyata dan berpijak pada kenyataan situasi serta kondisi yang dihadapi, dengan mengutamakan nilai kemanfaatan bagi kepentingan nasional.

Politik. Terhadap kondisi sekarang ini maka TNI akan dapat mengajak rakyat Indonesia secara tepat menentukan prioritas penanganan permasalahan dan prioritas sasaran yang diutamakan.  Dengan demikian akan dapat dinetralisasi atau dikurangi ketegangan, gejolak- gejolak, dan keresahan-keresahan yang pasti akan melanda masyarakat di masa yang akan datang. Kondisi yang dimaksud adalah politik dan penyelenggaraan Negara.

Nasionalisme. Militer memiliki peran sebagai pengemban tugas menyelamatkan negara.Indonesia. Tugas ini didapat dari awal pembentukan negara dan perjuangan mempertahankan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Karena itu tugas pokok TNI adalah sebagai sebagai alat pertahanan negara. Dengan tugas yang dimiliki ini pula,rasa nasionalisme yang melekat pada militer kelihatan lebih kuat.

Kebhinekaan. Disebagian besar rakyat Indonesia measih ada semacam kepercayaan pada golongan militer bahwa mereka memiliki identitas khusus dalam masyarakat, yaitu diidentifikasikan dirinya sebagai pelindung kepentingan nasional. Militer sebagai pelindung kebebasan umum dan  peran bukan hanya sebagai alat pertahanan tetapi juga pelindung nasional yang menjaga kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Uraian diatas idiologi yang sudah disepakati oleh seluruh komponen bangsa Indonesia saat ini. Namun empat permasalahan lain perlu adanya perubahan peran dan keterlibatan TNI didalamnya. Pemahaman inilah yang diperlukan guna terciptanya hubungan  sipil dan militer yang mantap. Karena musuh yang dihadapi saat ini bukan lagi serangan kekuatan militer dari Negara lain tetapi kecauan dan gejolak perilaku masyarakat yang cenderung anarkhis dalam menyampaikan aspirasi dan rasa ketidak puasan terhadap pemerintah, terpeliharanya gerakan radikalisme yang mengatasnamakan Islam, dan juga adanya kelompok tertentuk membangkitkan idiologi komunis di Indonesia.

*) Penulis adalah Pengamat Sejarah. 

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: