» » » » Sudah Saatnya Bumi Pertiwi Mengoptimalkan Energi Gas Alam


Oleh : Atsiri Pujasari Susatya Hudaya


Desas desus pemerintah akan mengganti BBM jenis Premium menjadiPertalite yang akan launching pertama kali di DKI Jakarta mungkin akan sedikit menganggu konvensi BBM ke BBG. Dalam kenyataannya harga dari Pertalite itu sendiri lebih mahal dari pada harga BBM jenis Premium yaitu sekitar RP 8000,-. Walaupun dengan RON yang lebih tinggi dari Premium yaitu 90, tentu saja masyarakat Indonesia akanmerasa terbebani. Hal ini terlihat dari reaksi masyarakat pada kenaikan harga BBM jenis Premium Januari lalu. Melambungnya harga minyak dunia, membuat kondisi ekonomi Indonesia tidak menentu. Nyatanya, sebanyak 50% Indonesia masih mengimpor minyak meski pencadangan minyak di Indonesia masih banyak.

Ada hal lain yang terlupakan, dengan menggunakan Bahan Bakar Gas bias menjadi alternative untuk kendaraan bermotor. Ketersedian gas di Indonesia merupakan sebuah peluang yang bias dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan energy yang ada. Berdasarkan data Kementerian ESDM 2013, nilai cadangan gas di Indonesia masih sekitar 150,7 Trillions of Standard Cubic Feet (TSCF) dengan produksi 8.000 MMSCFD/hari. Indonesia juga mengekspor gas ke Cina dengan harga yang sangat murah. Mengapa Indonesia tidak memanfaatkanya untuk rakyatnya?

Beberapa angkutan transportasi seperti Trans Jakarta sudah ada yang mulai beralih ke BBG. Hal yang positif jika masyarakat beralih kebahan bakar gas adalah harga yang tentu saja lebih murah, lebih ramah lingkungan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraanpun lebih sedikit dari pada BBM. Pemerintah Indonesia sudah memulai perluasan pipa-pipa untuk mendorong pengalihan BBM ke BBG namun, beberapa industry yang mulai beralih ke bahan bakar gas masih ragu karena infrastruktur untuk SPBU gas sendiri masih sangat minim. Selain itu, Indonesia juga bias berhemat anggaran APBN dan dapat dialokasikan untuk program-program yang lebihpenting.

Memang, gas alam di Indonesia belum di garap dengan baik dan infrastruktur gaspun masih belum mumpuni. Sepertinya, negarapun masih senang mengekspor gas ke Negara lain untuk menambal APBN Negara. Tetapi Indonesia tidak boleh menutup mata competitor untuk mengekspor gas pun sudah banyak dengan kualitas yang  lebih baik seperti Singapura sudah memulai ekspor dari  Amerika. Kini saatnya Indonesia berubah mengeksplorasi gas dan optimalisasi  gas  sebagai bahan bakar primer.(Atsiri)

Atsiri Pujasari Susatya Hudaya adalah Mahasiswi di ITB konsentrasi studi MBA – ITB


«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

1 komentar: